‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Betul sepertinya, apapun yang ada di dunia ini pasti ada gunanya. Segala ciptaan Tuhan memang seharusnya punya maksud kebaikan. Dalam dunia medis, kami menyadari realitas ini sehari-hari. Sebutlah tinja yang menjijikkan, itu dapat menentukan dasar penyebab seseorang yang mengalami anemia (kurang darah merah) yaitu cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus).
Kentut yang memalukan, itu menjadi salah satu syarat seorang pasien yang habis operasi usus buntu boleh pulang. Atau dahak yang jorok adalah petunjuk baku apakah seseorang menderita TBC atau bukan dan masih banyak lagi. Bahkan saat hal-hal tersebut telah dikaitkan dengan keburukan bahkan kejahatan, sesungguhnya ia selalu punya kegunaan. Manusialah yang selalu membuatnya buruk. Sebutlah seks, heroin atau alkohol.
Alkohol, minuman memabukkan ini sepertinya paling menarik untuk dibicarakan. Kenapa? Berbeda dengan heroin yang tak bebas penggunaanya, alkohol cenderung sangat bersahabat dan lebih gaul bagi penikmatnya. Seks pun masih membuat orang malu-malu mau jika ingin melakukannya secara bebas. Saking euforianya, di kalangan anak-anak muda Bali ada slogan yang viral berbunyi “Tuak Adalah Nyawa” dan telah dimantapkan dengan satu nyanyian mars berjudul sama.
Tuak adalah adalah sejenis minuman beralkohol Nusantara yang merupakan hasil fermentasi dari nira, beras, atau buah yang mengandung gula. Saat bertugas di pedalaman Kalimantan Utara dulu, saya beberapa kali mabuk karena ikut menenggak ciu, minuman dengan kadar alkohol sangat tinggi yang berasal dari fermentasi ketela pohon atau singkong. Minum ciu merupakan tradisi penghormatan kepada pendatang di wilayah adat suku Dayak.
Kisah mengesankan itu telah saya ceritakan lebih panjang pada buku saya Merayakan Ingatan - Catatan Seorang Dokter: Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan. (Mahima, 2019). Mungkin inilah maksud anak-anak muda tersebut dengan slogan mereka, “Tuak Adalah Nyawa”, yakni sebuah nilai-nilai kebersamaan yang diikatkan oleh sensasi alkohol yang telah membuat kita merasa lebih ringan rileks dan percaya diri, walau ada hantu yang selalu mengintip di sana, di antara kegelapan yang mulai menutupi mata-mata kita.
Di negara-negara barat, penyakit gagal hati (liver), sedemikian banyak disebabkan oleh karena alkohol. Sampai-sampai seringkali penyakit liver tersebut dibedakan penyebabnya oleh karena alkohol dan bukan alkohol yang meliputi virus, kelainan metabolik, toksin, antibodi atau efek samping obat-obatan tertentu. Berdasarkan data dari RISKESDAS (riset kesehatan dasar) tahun 2007, sebanyak 5,5 persen penduduk Indonesia usia 15-24 tahun gemar peminum alkohol. Angka ini terus meningkat menjadi 6,7 persen pada penduduk usia 25 sampai 34 tahun.
Pengalaman empirik saya sebagai dokter, tradisi minum tuak di wilayah Bali timur memberikan dampak, cukup banyak pasien yang saya tangani mengalami kanker hati. Hingga saat ini penyakit ini belum dapat disembuhkan dan sejak didiagnosis rata-rata dalam 4 bulan penderitanya akan meninggal. Namun yang lebih mengerikan lagi adalah, saat sekelompok peminum yang karena ketidakpahamannya, lalu mencampur alkohol yang ia biasa konsumsi dengan metanol, atau apa yang sering disebut dengan arak oplosan, ia akan dapat mati seketika beramai-ramai!
Pada tahun 2009, Sudhana W dkk, dari RSUP Sanglah Denpasar Bali, melaporkan sebanyak 31 lelaki berusia 18-57 tahun dari Bangli telah menenggak alkohol yang telah dicampur metanol. Mereka datang dengan berbagai gejala dan keluhan antara lain kesadaran menurun, gangguan pengelihatan, nyeri perut dan muntah-muntah. Empat belas orang meninggal dunia dalam perawatan dan 17 orang yang selamat sebagian telah menjalani terapi cuci darah untuk mengatasi keasaman darahnya yang sangat mematikan akibat efek metanol.
Metanol (methyl alchohol) merupakan senyawa alkohol yang digunakan dalam kegiatan industri dan juga terdapat pada cairan pembersih kaca mobil, antifreeze dan bahan bakar model pesawat terbang. Wajarlah mahluk hidup akan melayang jiwanya ke langit ketujuh jika minum zat yang tak layak dan sangat berbahaya ini.
Alkohol dalam konsumsi yang tak berlebihan secara medis takkan menimbulkan gangguan kesehatan. Ini karena tubuh, sampai pada batas-batas tertentu mempunyai mekanisme eksresi atau membuang zat-zat yang kurang baik untuk tubuh, terutama melalui ginjal. Karena berasal dari pengolahan gula maka alkohol sebetulnya mengandung kalori yang bermafaat bagi tubuh.
Bahkan dalam tradisi satu agama tertentu, minum alkohol (anggur) bukan sebuah larangan, namun di situ disebutkan tak boleh sampai mabuk atau dengan menggunakan kalimat berikut, manusia tak boleh diperbudak oleh apapun jua, termasuk alkohol. Kalau demikian halnya, betul sudah ungkapan apapun di dunia ini niscaya ada gunanya, ada baiknya. Mari bersulang! [T]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...