Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
KOPLAK tidak suka jika hidupnya terlalu banyak diatur, hal inilah yang saat ini jadi masalah yang membuatnya selalu berbalah dengan Kemitir — Si Gadis cantik yang makin hari terasa “nyinyir” dan merepotkan bagi Koplak. Tidakah Kemitir memiliki pemikiran yang bagi Koplak sangat sederhana; semua mahluk di bumi ini memiliki gaya hidup masing-masing. Yang berbeda satu sama lain. Cara memandang hidup yang tentu saja dijamin berbeda satu sama lainnya. Tetapi itu tidak berlalu bagi Kemitir,
Kemitir merasa saat ini adalah tanggungjawabnya sebagai satu-satunya anak yang dibesarkan Koplak dengan terbata-bata dan sesak nafas sudah mandiri— bahkan teramat mapan. Bahkan menurut Koplak, Kemitir itu sudah sangat kaya. Barang-barangnya juga semua yang melekat di tubuhnya bermerk, tidak ada yang murah. Bahkan dari foto-foto yang disodorkan kepada Koplak,
Kemitir sering berbelanja untuk komsumsi tubuhnya di luar negeri. Koplak sih senang saja dengan kemajuan anak perempuan semata wayangnya — perempuan kecil yang dulu selalu merengek-rengek jika mengingankan sesuatu, atau akan menangis sambil menjerit-jerit sekeras-kerasnya jika kulitnya tergores. Sampai para tetangga akan berdatangan disangka Koplak memukul, atau melakukan kekerasaan pada anaknya.
Begitulah cara Kemitir kecil mencuri perhatian Koplak, luka tergores saja terasa seperti luka bacok yang parah, karena jika Kemitir menangis dan meraung seolah sedang memanggil seluruh warga desa. Begitulah Kemitir mencuri perhatian dari orang-orang. Sejak kecil Kemitir memiliki kulit yang bersih, mata yang bulat tajam, terlihat bercahaya jika orang memandangnya.
Makin lama dipandang, Kemitir akan semakin tampak menggemaskan dan membuat orang-orang ingin mencubit pipinya yang gembul dan membelai rambut yang sedikit kecoklatan jika ditimpa matahari. Kemitir kecil dan Balita adalah Kemitir yang menggemaskan. Kemitir saat ini adalah ….
Koplak menarik nafas, kadang ada perasaan terkikis, tersiksa, nelangsa dan perasaan tidak berdaya. Apakah jika lelaki berumur menjelang 50 tahun akan merasa harus mendapat perhatian khusus? Harus dijaga layaknya seorang anak kecil? Apakah kekhawatiran Kemitir terhadap diri Koplak tidak berlebihan? Koplak terdiam sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Itu fungsinya punya anak perempuan. Kau harusnya bersyukur, Koplak. Anakku semua lelaki tujuh orang. Dulu sebagai laki-laki Bali aku bangga sekali ketika anak pertamaku lelaki. Aku sampai menghaturkan dua babi guling di Merajan, tempat ibadah keluarga. Bersyukur karena bagi lelaki tidak memiliki keturan lelaki bukan lelaki namanya. Hidupnya akan sengsara jika hanya memiliki anak perempuan. Pikiran itu benar juga, bagaimana jika anak perempuan semuanya diambil orang dan hidup dengan aturan-aturan keluarga suaminya. Aturan yang berbeda dengan aturan kita.
Faktanya, saat ini seluruh anak lelakiku merantau, bahkan odalan, upacara penting di desa juga tidak bisa hadir. Jika aku dan istriku sakit juga kami berobat sendiri. Walaupun sudah ada BPJS kami berdua kesepian. Serius ini! Bahkan yang hadir di rumah kami adalah uang yang ditransfer masing-masing anak dengan rutin. Kami sudah tua, aku dan istriku juga punya pensiun sendiri-sendiri sebagai guru di desa. Cukuplah untuk hidup kami sehari-hari.
Kami tidak butuh uang, kami ingin tujuh anak lelaki itu salah satunya ada yang pulang, tinggal bersama kami. Menemani kami mengisi hari tua bersama-sama. Tidak ada satu pun yang berkenan mengikuti saran kami. Kata mereka, mereka tidak bisa hidup di desa, jika hidup di desa mau kerja apa? Bagaimana sekolah anak-anak? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan mereka yang justru jadi beban kami sebagai orang tua. Kemitir itu baik, masih hormat padamu. Bersyukurlah kau memiliki dia. Untuk apa punya seribu anak lelaki jika tidak bisa disentuh.”
Begitu kata-kata Pan Balang pensiunan guru SD, yang saat ini justru terlihat mencoba bahagia dengan realitas yang mereka hadapi. Untungnya Pan Balang tinggal di desa, jika terjadi sesuatu orang-orang desa dengan ringan tangan akan datang dan bersedia merawat pasangan sepuh itu, tanpa pamrih, tidak juga menggerutu.
Koplak menarik nafas sambil merenung kembali. Apa mungkin dia harus mencari istri?
Fakta demi fakta kasus pembunuhan istri muda sewa empat pembunuh bayaran, untuk bakar suami dan anak tiri terus terungkap setelah otak pelaku berinisial AK (45) dan anaknya KV (25) dan dua pembunuh bayaran yang disewanya, yakni AG dan SG berhasil tertangkap polisi di Lampung, karena sang istri muda memiliki hutang 10 miliar.
Suara TV terdengar keras, Koplak terbelalak. Keluar keringat dingin deras membasuh tubuhnya. Tiba-tiba saja wajahnya terasa kaku, lehernya tersedak seolah Koplak lah yang diracun dan hendak dibakar. Koplak menepuk-nepuk kepalanya. Tidak. Tidak. Kenapa aku memiliki pikiran mau kawin lagi? Bagaimana kalau aku diracun istri mudaku? Bagaimana kalau Kemitir dibakar hidup-hidup. Koplak menggigil terkencing-kencing menuju kamar mandi. Celana kolornya basah. Rona ketakutan melabur wajahnya. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...