Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
____
Sampai pada kalimat-kalimat itu, saya hentikan pembacaan. Setelah berhenti, permenungan datang sendiri. Selalu ada arus balik dari arus-arus yang sedang mengalir. Dan itu yang harus diwaspadai.
Arus balik itu yang akan menyeret-nyeret seorang peselancar masuk ke dalam laut. Bagi yang kurang mahir, arus balik itu pula yang menelannya ke pusaran. Tidak terkecuali, bagi seorang yang berselancar di atas aliran waktu. Akan tiba saatnya arus balik datang dan menyeretnya kembali ke masa lalu. Tidak ada cara lain jika itu terjadi, kecuali meminta pertolongan.
Seorang yang berjalan bersama segerombolan pertapa bukan tidak mungkin ditelan arus balik. Ada masanya, akan datang arus balik yang bisa menumbangkan keteguhan tapanya. Saat itu terjadi, yang awalnya ia selalu katakan “tidak” tiba-tiba menjadi “iya”. Yang awalnya “iya” bisa berubah menjadi “ragu-ragu”. Arus balik tidak akan memberikan peringatan kapan ia datang. Tiba-tiba korbannya sudah tenggelam begitu saja.
Perjuangan menuju kebebasan pun demikian. Entah kebebasan dalam arti luas atau sangat luas. Barangkali ada kebebasan dalam arti sempit atau sangat sempit, atau dan atau-atau sangat sempit sekali. Definisi atas konsep-konsep itu ada banyak. Saking banyaknya, tidak sedikit yang tersesat dalam kelindan definisi. Pada waktunya nanti, akan tiba pemberhentian definisi karena ia sudah terlalu paradoks. Orang mencari kebebasan sambil mengkebiri kebebasan orang lain. Saat kebebasan itu ia capai, malah ia yang terikat oleh kebebasan. Arus balik, berjalan dengan cara begitu.
Saya pikir, saya sekarang hidup pada jaman dimana semua orang boleh bebas berbicara sambil menutup telinga. Mulai dari kata Tuhan yang abstrak itu, sampai ke urusan ranjang orang. Semua boleh dinikmati seperti iklan yang tiba-tiba nongol saat acara sinetron berdarah-darah. Keduanya sama-sama membuat pusing kepala.
Tidak ada yang mudah di jaman ini. Kedamaian dicapai dengan perang. Menarik juga dua kata yang membangun kalimat itu: Damai-Perang. Kedua kata itu dalam benak Cangak saya yang suci ini, sungguh tidak masuk akal. Ide yang diwakili sungguh sangat jauh. Tapi yang terjadi itu-itu juga. Senjata-senjata dibuat semakin canggih. Tujuannya barangkali untuk melindungi kedamaian negara. Masalahnya, melindungi dari apa?
Terlalu naif jika saya berpikir, bahwa kedamaian hanya akan tercipta jika dari dalam hati orang-orang sudah merasakan kedamaian. Itu adalah dunia ideal yang banyak dielu-elukan dan tidak diusahakan. Sayangnya otak manusia tidak bisa bekerja dengan cara yang serupa. Maka semakin jelas, atas suatu dunia ideal yang bisa dinikmati oleh mata, ada bagian lain yang dihempaskan. Barangkali penghempasan itu dilakukan dengan sengaja. Yang dihempaskan, bisa manusia, bisa hasil kerja, bisa ide. Bisa apa saja. Artinya, ada sesuatu hal yang memang dihilangkan, dilenyapkan, dihapuskan dari catatan. Atau lebih halus, hal-hal itu disembunyikan. Seperti kentut orang, ada di dalam perut sana, tapi pura-pura tidak ada.
Arus balik bisa bekerja dimana saja. Bahkan pada tulisan ini, arus balik itu bisa bekerja dengan halus dan tidak disadari. Atau pada otak manusia yang membaca-baca. Pikiran yang bekerja di dalam otak itu seperti arus laut. Berombak dan menenggelamkan. Maka wajarlah jika ada Yogi yang mengatakan, jika ingin damai maka tenangkan pikiran. Menenangkan pikiran, sama seperti menenangkan lautan.
Di sanalah letak tegangnya mengadakan kebebasan dan kedamaian. Ingin bebas dan ingin damai, selalu diawali dengan perang. Seorang Mahayogi bahkan membayangkan tapa brata itulah medan laga untuk berperang melawan enam musuh yang menggelapkan. Tetapi Mahayogi yang lain berkata, keenam kegelapan itu bukan musuh, tapi sahabat yang sangat setia yang menemanimu saat bangun maupun tidur. Karena mereka adalah sahabat, maka kasihi mereka.
Begitulah, ada berbagai macam kata-kata yang bisa keluar dari siapa saja. Kata-kata itu boleh didengar boleh tidak. Kalau mendengar tidak ada hadiah, kalau tidak mendengar tidak ada hukuman. Mendengar atau tidak, masalah kita semua tetaplah sama dari masa ke masa: Tidak Saling Menyakiti.
Menjalani tidak sama dengan mengatai. Orang boleh bercerdas-cerdas ria, mengkritik ini dan itu. Dan sebagaimana umumnya, arus balik akan bekerja dengan caranya. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...