“Aku telah ceritakan pada kalian jahatnya arus balik dari utara ke selatan. Dalam hidup kita, ada seorang yang bukan hanya menyedari ini, bahkan membendungnya. Bukan hanya membendung, bahkan melawan…” [Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik]
____
Sampai pada kalimat-kalimat itu, saya hentikan pembacaan. Setelah berhenti, permenungan datang sendiri. Selalu ada arus balik dari arus-arus yang sedang mengalir. Dan itu yang harus diwaspadai.
Arus balik itu yang akan menyeret-nyeret seorang
peselancar masuk ke dalam laut. Bagi yang kurang mahir, arus balik itu pula
yang menelannya ke pusaran. Tidak terkecuali, bagi seorang yang berselancar di
atas aliran waktu. Akan tiba saatnya arus balik datang dan menyeretnya kembali
ke masa lalu. Tidak ada cara lain jika itu terjadi, kecuali meminta
pertolongan.
Seorang yang berjalan bersama segerombolan pertapa
bukan tidak mungkin ditelan arus balik. Ada masanya, akan datang arus balik
yang bisa menumbangkan keteguhan tapanya. Saat itu terjadi, yang awalnya ia
selalu katakan “tidak” tiba-tiba menjadi “iya”. Yang awalnya “iya” bisa berubah
menjadi “ragu-ragu”. Arus balik tidak akan memberikan peringatan kapan ia
datang. Tiba-tiba korbannya sudah tenggelam begitu saja.
Perjuangan menuju kebebasan pun demikian. Entah
kebebasan dalam arti luas atau sangat luas. Barangkali ada kebebasan dalam arti
sempit atau sangat sempit, atau dan atau-atau sangat sempit sekali. Definisi
atas konsep-konsep itu ada banyak. Saking banyaknya, tidak sedikit yang
tersesat dalam kelindan definisi. Pada waktunya nanti, akan tiba pemberhentian
definisi karena ia sudah terlalu paradoks. Orang mencari kebebasan sambil
mengkebiri kebebasan orang lain. Saat kebebasan itu ia capai, malah ia yang
terikat oleh kebebasan. Arus balik, berjalan dengan cara begitu.
Saya pikir, saya sekarang hidup pada jaman dimana
semua orang boleh bebas berbicara sambil menutup telinga. Mulai dari kata Tuhan
yang abstrak itu, sampai ke urusan ranjang orang. Semua boleh dinikmati seperti
iklan yang tiba-tiba nongol saat acara sinetron berdarah-darah. Keduanya
sama-sama membuat pusing kepala.
Tidak ada yang mudah di jaman ini. Kedamaian dicapai
dengan perang. Menarik juga dua kata yang membangun kalimat itu: Damai-Perang.
Kedua kata itu dalam benak Cangak saya yang suci ini, sungguh tidak masuk akal.
Ide yang diwakili sungguh sangat jauh. Tapi yang terjadi itu-itu juga.
Senjata-senjata dibuat semakin canggih. Tujuannya barangkali untuk melindungi
kedamaian negara. Masalahnya, melindungi dari apa?
Terlalu naif jika saya berpikir, bahwa kedamaian hanya
akan tercipta jika dari dalam hati orang-orang sudah merasakan kedamaian. Itu
adalah dunia ideal yang banyak dielu-elukan dan tidak diusahakan. Sayangnya
otak manusia tidak bisa bekerja dengan cara yang serupa. Maka semakin jelas,
atas suatu dunia ideal yang bisa dinikmati oleh mata, ada bagian lain yang
dihempaskan. Barangkali penghempasan itu dilakukan dengan sengaja. Yang
dihempaskan, bisa manusia, bisa hasil kerja, bisa ide. Bisa apa saja. Artinya,
ada sesuatu hal yang memang dihilangkan, dilenyapkan, dihapuskan dari catatan.
Atau lebih halus, hal-hal itu disembunyikan. Seperti kentut orang, ada di dalam
perut sana, tapi pura-pura tidak ada.
Arus balik bisa bekerja dimana saja. Bahkan pada
tulisan ini, arus balik itu bisa bekerja dengan halus dan tidak disadari. Atau
pada otak manusia yang membaca-baca. Pikiran yang bekerja di dalam otak itu
seperti arus laut. Berombak dan menenggelamkan. Maka wajarlah jika ada Yogi
yang mengatakan, jika ingin damai maka tenangkan pikiran. Menenangkan pikiran,
sama seperti menenangkan lautan.
Di sanalah letak tegangnya mengadakan kebebasan dan
kedamaian. Ingin bebas dan ingin damai, selalu diawali dengan perang. Seorang
Mahayogi bahkan membayangkan tapa brata itulah medan laga untuk berperang
melawan enam musuh yang menggelapkan. Tetapi Mahayogi yang lain berkata, keenam
kegelapan itu bukan musuh, tapi sahabat yang sangat setia yang menemanimu saat
bangun maupun tidur. Karena mereka adalah sahabat, maka kasihi mereka.
Begitulah, ada berbagai macam kata-kata yang bisa
keluar dari siapa saja. Kata-kata itu boleh didengar boleh tidak. Kalau
mendengar tidak ada hadiah, kalau tidak mendengar tidak ada hukuman. Mendengar
atau tidak, masalah kita semua tetaplah sama dari masa ke masa: Tidak Saling
Menyakiti.
Menjalani tidak sama dengan mengatai. Orang boleh bercerdas-cerdas ria, mengkritik ini dan itu. Dan sebagaimana umumnya, arus balik akan bekerja dengan caranya. [T]