Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Dua komposer muda yakni Ni Komang Wulandari (23 tahun) dan Anak Agung Putu Atmaja (30 tahun) unjuk karya terkini mereka yang mencoba menyikapi ulang alat musik gamelan Bali dalam acara Komponis Kini 2019 “A Tribute to Wayan Beratha” Minggu (25/8), di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Bypass Prof. Ida Bagus Mantra No. 88A, Ketewel, Gianyar.
Ni Komang Wulandari bersama Komunitas Anu Ana menampilkan komposisi bertajuk “Perspektif”. Komposisi ini menggunakan gamelan Gender Wayang sebagai media ungkapnya. Dibawakan oleh lima pemain antara lain I Putu Angga Mahendra, I Kadek Deo Sandiawan, Ni Ketut Fenty, I Wayan Arya Bisma, dan I Nyoman Adi Swarna.

Ni Komang Wulandari mengungkapkan inspirasi karya “Perspektif” lahir dri fenomena terkini bahwa semua orang memiliki perspektif atau sudut pandangnya masing-masing dalam melihat suatu objek. Begitu pula yang dikonsepkan dalam garapan ini, Wulandari mengemas karyanya sesuai dengan bagaimana para pemain gender wayang yang berjumlah 5 orang dapat memainkan musik sesuai dengan objeknya masing-masing. Formasi yang dibuat yakni para pemain duduk melingkar juga memudahkan agar satu sama lainnya dapat berkomunikasi melalui kontak mata.
Sementara, Anak Agung Putu Atmaja mempresentasikan karya berjudul “Klenang Klening”, yang dalam konteks proses cipta, diibaratkan sebagai sebuah upaya meraih kebebasan melalui satu ide membuat kajian yang mempunyai varian baru. Komposisi ini dibawakan oleh empat pemain dari Komunitas Seni Suarshima, yakni Darmawan, Pasek, Agus Arya Wibisana dan Dery. Dimainkan dengan Gamelan Selonding dan dipadukan dengan panggul gangsa sebagai pengganti alat pukul atau panggul nyonyong alit.

“Klenang Klening” dikemas ke dalam komposisi musik gamelan di mana para pemain harus menghafal hitungan sistematis, membutuhkan intelektualitas dan konsentrasi tinggi pemain gamelan. Elemen-elemen nada disusun secara konvensional namun tidak radikal membuat satu jalinan harmoni horizontal.
Serupa dengan seri pertunjukan sebelumnya, kedua komposer ini mempresentasikan buah cipta terkininya sebagai respon kreatif atas karya-karya klasik maupun semangat penciptaan maestro I Wayan Beratha. Dalam pengantarnya, salah satu kurator program Komponis Kini, komposer Wayan Sudirana, mengatakan bahwa semangat dari komponis kini yakni diharapkan dapat memahami karya-karya yang dibuat oleh para pendahulu, serta para komposer muda dapat mencari tahu teknik dan fondasi yang pas untuk berpijak dan melahirkan karya-karya musik gamelan yang khas dan unik.
Selain itu, pertunjukan New Music for Gamelan ini juga dimaknai dengan pemutaran video proses cipta dan timbang pandang atau dialog bersama para komposer bersangkutan. Dalam tayangan video, kedua komposer ini bercerita bahwa telah menekuni gamelan sejak duduk di bangku sekolah dasar, serta telah aktif di berbagai sanggar hingga memutuskan menempuh pendidikan di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar.
Para komposer muda ini pula menaruh harapan agar gamelan khas Bali dapat berkembang sesuai dengan kreatifitas anak muda Bali dan membawa karyanya hingga ke kancah internasional. Selain itu, mereka juga menekannya bahwa perbedaan gender bukan menjadi penghalang untuk berkarya.

Komponis Kini diprogramkan secara terencana dan berkelanjutan, bertujuan untuk menciptakan atmosfer berkesenian bagi seniman-seniman gamelan di Bali dan di tanah air, dengan mengedepankan upaya-upaya penciptaan baru (new music dan new gamelan). Agenda yang digagas BBB bersama tiga komposer; I Wayan Gde Yudane, Wayan Sudirana dan Dewa Alit ini berupaya pula memberikan pencerahan bagi publik musik, sekaligus ajang apresiasi agar masyarakat turut merayakan bentuk-bentuk kesenian yang mencerminkan ekspresi kekinian, terpujikan secara artistik dan bermutu tinggi.
Sedini awal, tahun 2012, program ini diniatkan sebagai sebuah upaya re-formasi, memberi format dan pemaknaan baru (re-interpretasi) terhadap gending-gending yang tergolong klasik atau yang sudah ada, sekaligus melakukan penciptaan (re-kreatif) yang (sama sekali) baru. Yang dikedepankan bukan semata konservasi, namun terutama adalah eksplorasi mendalam terhadap ragam komposisi musikal ini; sebuah penciptaan baru melampaui kebakuan, akan tetapi tetap merefleksikan filosofis tertentu.[T] [*]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...