Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Hallo, selamat Galungan. Galungan artinya menang. Ah, begitulah tafsirnya turun temurun. Tidak tahu saya, sekarang ini saya keturunan keberapa yang menerima tafsir itu. Saya percaya kepada leluhur yang menafsirkan kemenangan, saya juga percaya kita ini orang-orang menang. Itu kata saya, kalau menjadi pewaris tafsir. Sebagai Cangak nakal, saya merasa penting untuk menanyakan lagi kepada leluhur, siapa saja yang menang? Nah, kalau sudah begitu, saya harus berhipotesa terlebih dahulu. Hipotesanya, jangan-jangan kita ini adalah orang-orang kalah yang ngaku menang.
Itu hipotesa dari bernakal-nakal ria ala Cangak. Agar hipotesa itu bisa dianulir atau dikukuhkan, mari kita baca salah satu kitab saklar. Kitab itu berjudul Sundarigama. Isinya tentang banyak sekali rahinan. Agar tidak banyak, jadi saya ringkaskan untuk kita semua.
Okay. Mari kita ulangi lagi pembacaan Galungan. Pembacaan ini didasarkan pada teks Sundarigama. Teks Sundarigama yang saya baca adalah hasil kerja dari I Nyoman Suarka, dan IB Jelantik sebagai editornya. Keduanya adalah pembaca teks yang tidak saya ragukan lagi. Jadi saya percaya kesalahan penyalinan pastilah diminimalisir. Agar tidak bingung, saya sertakan juga bahasa Jawa Kunanya. Hitung-hitung sekalian saya belajar menerjemahkan. Jadi begini:
Bagaimana? Adakah di antara kelima nomor itu yang gagal kita lakukan saat perayaan Galungan? Kalau pun ada, tidak apa-apa. Tidak apa-apa karena memang sulit kalau kita berhadapan dengan keinginan. Yang namanya keinginan, semakin ingin dihilangkan, malah ia berbalik membuat kita lupa. Ini serius. Cobalah.
Dari penjelasan Sundarigama, saya mendapatkan sesuatu yang aneh. Ternyata menurut teksnya, Galungan “dirayakan” dengan “menyucikan”. Yang dilakukan adalah menyucikan semesta alam, dan tubuh dalam. Tapi pelan-pelanlah menyucikan, agar kita tidak mabuk kesucian. Itu hanya tafsir. Tafsir selalu dipengaruhi oleh otak penafsir. Otak penafsir dipengaruhi oleh bacaan yang dimakan otaknya.
Ada lagi runtutan perayaan Galungan sebagaimana banyak dijelaskan oleh para pakar. Petunjuk di atas, juga sudah banyak dijelaskan dengan panjang kali lebar oleh pakar-pakar itu. Saya mengerti, ada beberapa kawan-kawan yang tidak punya waktu banyak untuk membaca. Makanya saya ringkas. Karena ringkas, maka ada pastinya yang kurang pas. Kalau sudah begitu, nanti kita bicarakan lagi sambil menduga-duga, apa saja yang sudah kita lakukan selama ini.
Lalu, apakah tidak ada banten atau persembahan? Oh, tentu saja ada. Di dalam Sundarigama, banten-banten itu dijelaskan secara runut. Jadi bolehlah dibaca-baca. Teks yang saya pakai sebagai sumber ini, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi bisa dinikmati pelan-pelan. Silahkan.
Ada lagi yang ingin saya sampaikan. Ini tentang gempa. Karena tempo hari [16 Juli 2019], gempa terjadi saat Purnama Kasa. Ada teks berjudul Palelindon yang membicarakan tentang gempa. Sumber teks ini sudah diringkas oleh Made Reland Udayana Tangkas [Palelindon: Tafsir Gempa Bumi Ala Bali]. Jadi gempa [lindu], konon memiliki dampak sesuai dengan Sasih [bulan], dan wewaran [hari dalam wariga dibagi sepuluh jenis]. Berikut ini keterangan gempa itu jika disesuaikan dengan hari terjadinya [16 Juli 2019]:
Itulah ciri atau tenger gempa. Namanya saja ciri, boleh dipercaya boleh tidak. Menurut tradisi, setiap gempa akan diikuti dengan ritual berupa caru. Selain gempa bumi, menurut teks Lebur Sangsa ada juga gempa di dalam tubuh. Tiap gempa di tubuh, juga adalah ciri. Contoh gempa di tubuh adalah denyut di mata kanan, ciri ada orang yang membicarakan kebaikan kita. Jika bibir bagian bawah berdenyut, cirinya ada orang datang membawa makanan. Begitu konon.
Sekian dulu tulisan kali ini. Saat tulisan ini dimuat, saya sedang tidak di Bali dan tidak merayakan Galungan. Saya harus pergi jauh. Dari jarak yang jauh ini, saya mencoba melihat Bali. Konon dari jarak yang jauh, Bali tidak terlihat. Jika dari dekat, kita yang tidak melihat Bali. Tapi saya harus membuktikan, benarkah kalau dari jarak jauh Bali tidak terlihat oleh mata Cangak yang mungil ini.
Saya pikir, saya harus berterimakasih kepada pencipta mata yang mungil ini. Karena untuk melihat dengan jelas, tidak jarang orang harus mengecilkan matanya. Bahasa Balinya ngicir. Karena mata saya sudah kecil dari sononya, jadi ngicir tidak saya perlukan. Kalau pun perlu, tidak susah payah. Tapi kalau saya ngicir, mata saya sering tidak kelihatan. Seperti mata topeng Siddhakarya yang pernah saya lihat. Lalu kenapa mata topeng Siddhakarya ngicir? [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...