Hallo, selamat
Galungan. Galungan artinya menang. Ah, begitulah tafsirnya turun temurun. Tidak
tahu saya, sekarang ini saya keturunan keberapa yang menerima tafsir itu. Saya
percaya kepada leluhur yang menafsirkan kemenangan, saya juga percaya kita ini
orang-orang menang. Itu kata saya, kalau menjadi pewaris tafsir. Sebagai Cangak
nakal, saya merasa penting untuk menanyakan lagi kepada leluhur, siapa saja
yang menang? Nah, kalau sudah begitu, saya harus berhipotesa terlebih dahulu.
Hipotesanya, jangan-jangan kita ini adalah orang-orang kalah yang ngaku menang.
Itu hipotesa dari bernakal-nakal ria ala Cangak. Agar
hipotesa itu bisa dianulir atau dikukuhkan, mari kita baca salah satu kitab
saklar. Kitab itu berjudul Sundarigama. Isinya tentang banyak sekali rahinan. Agar tidak banyak, jadi saya
ringkaskan untuk kita semua.
Okay. Mari kita ulangi
lagi pembacaan Galungan. Pembacaan ini didasarkan pada teks Sundarigama. Teks
Sundarigama yang saya baca adalah hasil kerja dari I Nyoman Suarka, dan IB
Jelantik sebagai editornya. Keduanya adalah pembaca teks yang tidak saya
ragukan lagi. Jadi saya percaya kesalahan penyalinan pastilah diminimalisir.
Agar tidak bingung, saya sertakan juga bahasa Jawa Kunanya. Hitung-hitung
sekalian saya belajar menerjemahkan. Jadi begini:
- Hari Minggunya,
disebut Panyekeban. Saat itu yang dilakukan oleh Sang Wiku dan orang-orang
pintar [sujana] adalah kumekes ikang ajnana nirmala [mengusahakan
batin itu agar suci hening].
- Hari Seninnya
adalah Panyajahan, yang dilakukan adalah wwang
among yoga Samadhi pituhu [orang menggelar yoga Samadhi dengan
sungguh-sungguh].
- Hari Selasa adalah
Panampahan, yang dilakukan adalah wehana
bhuta yajna rikeng catuspata [haturkan yadnya kepada bhuta di perempatan],
juga sakweh nikang sanjata paperangan
kabeh jaya-jayakna [semua senjata peperangan diupacarai jaya-jaya], wwang kabeh prayascitanen [semua orang bersihkan].
- Hari Rabu adalah
Galungan, yang dilakukan adalah patitis
ikang ajnana galang apadang [pusatkanlah batin itu agar terang benderang], muryakna sarwa byaparaning idep [hilangkan
segala hal yang membuat pikiran rusak].
- Keesokan harinya
adalah hari Kamis, yang dilakukan adalah enjang
enjingnya ameta wwe pawitra ring beji [besok paginya mohonlah tirta pawitra
di beji]. Bagi seorang Purohita, yang
dilakukan saat itu adalah wenang yoga
ginelar ajnana Samadhi [patut menggelar yoga memusatkan batin agar tenang
dan hening].
Bagaimana? Adakah di antara kelima nomor itu yang
gagal kita lakukan saat perayaan Galungan? Kalau pun ada, tidak apa-apa. Tidak
apa-apa karena memang sulit kalau kita berhadapan dengan keinginan. Yang
namanya keinginan, semakin ingin dihilangkan, malah ia berbalik membuat kita
lupa. Ini serius. Cobalah.
Dari penjelasan Sundarigama, saya mendapatkan sesuatu
yang aneh. Ternyata menurut teksnya, Galungan “dirayakan” dengan “menyucikan”.
Yang dilakukan adalah menyucikan semesta alam, dan tubuh dalam. Tapi
pelan-pelanlah menyucikan, agar kita tidak mabuk kesucian. Itu hanya tafsir.
Tafsir selalu dipengaruhi oleh otak penafsir. Otak penafsir dipengaruhi oleh
bacaan yang dimakan otaknya.
Ada lagi runtutan perayaan Galungan sebagaimana banyak
dijelaskan oleh para pakar. Petunjuk di atas, juga sudah banyak dijelaskan
dengan panjang kali lebar oleh pakar-pakar itu. Saya mengerti, ada beberapa
kawan-kawan yang tidak punya waktu banyak untuk membaca. Makanya saya ringkas.
Karena ringkas, maka ada pastinya yang kurang pas. Kalau sudah begitu, nanti
kita bicarakan lagi sambil menduga-duga, apa saja yang sudah kita lakukan
selama ini.
Lalu, apakah tidak ada banten atau persembahan? Oh,
tentu saja ada. Di dalam Sundarigama, banten-banten itu dijelaskan secara
runut. Jadi bolehlah dibaca-baca. Teks yang saya pakai sebagai sumber ini,
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi bisa dinikmati pelan-pelan.
Silahkan.
Ada lagi yang ingin saya sampaikan. Ini tentang gempa.
Karena tempo hari [16 Juli 2019], gempa terjadi saat Purnama Kasa. Ada teks
berjudul Palelindon yang membicarakan tentang gempa. Sumber teks ini sudah
diringkas oleh Made Reland Udayana Tangkas [Palelindon: Tafsir Gempa Bumi Ala
Bali]. Jadi gempa [lindu], konon
memiliki dampak sesuai dengan Sasih [bulan], dan wewaran [hari dalam wariga dibagi sepuluh jenis]. Berikut ini keterangan
gempa itu jika disesuaikan dengan hari terjadinya [16 Juli 2019]:
- Menga, dunia
terang;
- Kajeng, kala dengen [buruk];
- Laba, rudra [buruk];
- Paing, buruk;
- Maulu, baik dan
buruk;
- Anggara, brahma [buruk];
- Indra, buruk;
- Dadi, kala [baik]
- Srawana, baik dan buruk
Itulah ciri atau tenger
gempa. Namanya saja ciri, boleh dipercaya boleh tidak. Menurut tradisi, setiap
gempa akan diikuti dengan ritual berupa caru.
Selain gempa bumi, menurut teks Lebur Sangsa ada juga gempa di dalam tubuh.
Tiap gempa di tubuh, juga adalah ciri. Contoh gempa di tubuh adalah denyut di
mata kanan, ciri ada orang yang membicarakan kebaikan kita. Jika bibir bagian
bawah berdenyut, cirinya ada orang datang membawa makanan. Begitu konon.
Sekian dulu tulisan kali ini. Saat
tulisan ini dimuat, saya sedang tidak di Bali dan tidak merayakan Galungan. Saya
harus pergi jauh. Dari jarak yang jauh ini, saya mencoba melihat Bali. Konon
dari jarak yang jauh, Bali tidak terlihat. Jika dari dekat, kita yang tidak
melihat Bali. Tapi saya harus membuktikan, benarkah kalau dari jarak jauh Bali
tidak terlihat oleh mata Cangak yang mungil ini.
Saya pikir, saya harus
berterimakasih kepada pencipta mata yang mungil ini. Karena untuk melihat
dengan jelas, tidak jarang orang harus mengecilkan matanya. Bahasa Balinya ngicir. Karena mata saya sudah kecil
dari sononya, jadi ngicir tidak saya
perlukan. Kalau pun perlu, tidak susah payah. Tapi kalau saya ngicir, mata saya
sering tidak kelihatan. Seperti mata topeng Siddhakarya yang pernah saya lihat.
Lalu kenapa mata topeng Siddhakarya ngicir? [T]