Dikritik Dulu, Dipuji Kapan-Kapan
DIKRITIK atau dipuji? Pilih mana? Tentu ada yang pilih dikritik atau pilih dipuji. Sudah pasti di antara kita ada yang suka dikritik saja atau dipuji saja. Ada juga yang suka kedua...
Hallo, selamat Galungan. Galungan artinya menang. Ah, begitulah tafsirnya turun temurun. Tidak tahu saya, sekarang ini saya keturunan keberapa yang menerima tafsir itu. Saya percaya kepada leluhur yang menafsirkan kemenangan, saya juga percaya kita ini orang-orang menang. Itu kata saya, kalau menjadi pewaris tafsir. Sebagai Cangak nakal, saya merasa penting untuk menanyakan lagi kepada leluhur, siapa saja yang menang? Nah, kalau sudah begitu, saya harus berhipotesa terlebih dahulu. Hipotesanya, jangan-jangan kita ini adalah orang-orang kalah yang ngaku menang.
Itu hipotesa dari bernakal-nakal ria ala Cangak. Agar hipotesa itu bisa dianulir atau dikukuhkan, mari kita baca salah satu kitab saklar. Kitab itu berjudul Sundarigama. Isinya tentang banyak sekali rahinan. Agar tidak banyak, jadi saya ringkaskan untuk kita semua.
Okay. Mari kita ulangi lagi pembacaan Galungan. Pembacaan ini didasarkan pada teks Sundarigama. Teks Sundarigama yang saya baca adalah hasil kerja dari I Nyoman Suarka, dan IB Jelantik sebagai editornya. Keduanya adalah pembaca teks yang tidak saya ragukan lagi. Jadi saya percaya kesalahan penyalinan pastilah diminimalisir. Agar tidak bingung, saya sertakan juga bahasa Jawa Kunanya. Hitung-hitung sekalian saya belajar menerjemahkan. Jadi begini:
Bagaimana? Adakah di antara kelima nomor itu yang gagal kita lakukan saat perayaan Galungan? Kalau pun ada, tidak apa-apa. Tidak apa-apa karena memang sulit kalau kita berhadapan dengan keinginan. Yang namanya keinginan, semakin ingin dihilangkan, malah ia berbalik membuat kita lupa. Ini serius. Cobalah.
Dari penjelasan Sundarigama, saya mendapatkan sesuatu yang aneh. Ternyata menurut teksnya, Galungan “dirayakan” dengan “menyucikan”. Yang dilakukan adalah menyucikan semesta alam, dan tubuh dalam. Tapi pelan-pelanlah menyucikan, agar kita tidak mabuk kesucian. Itu hanya tafsir. Tafsir selalu dipengaruhi oleh otak penafsir. Otak penafsir dipengaruhi oleh bacaan yang dimakan otaknya.
Ada lagi runtutan perayaan Galungan sebagaimana banyak dijelaskan oleh para pakar. Petunjuk di atas, juga sudah banyak dijelaskan dengan panjang kali lebar oleh pakar-pakar itu. Saya mengerti, ada beberapa kawan-kawan yang tidak punya waktu banyak untuk membaca. Makanya saya ringkas. Karena ringkas, maka ada pastinya yang kurang pas. Kalau sudah begitu, nanti kita bicarakan lagi sambil menduga-duga, apa saja yang sudah kita lakukan selama ini.
Lalu, apakah tidak ada banten atau persembahan? Oh, tentu saja ada. Di dalam Sundarigama, banten-banten itu dijelaskan secara runut. Jadi bolehlah dibaca-baca. Teks yang saya pakai sebagai sumber ini, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi bisa dinikmati pelan-pelan. Silahkan.
Ada lagi yang ingin saya sampaikan. Ini tentang gempa. Karena tempo hari [16 Juli 2019], gempa terjadi saat Purnama Kasa. Ada teks berjudul Palelindon yang membicarakan tentang gempa. Sumber teks ini sudah diringkas oleh Made Reland Udayana Tangkas [Palelindon: Tafsir Gempa Bumi Ala Bali]. Jadi gempa [lindu], konon memiliki dampak sesuai dengan Sasih [bulan], dan wewaran [hari dalam wariga dibagi sepuluh jenis]. Berikut ini keterangan gempa itu jika disesuaikan dengan hari terjadinya [16 Juli 2019]:
Itulah ciri atau tenger gempa. Namanya saja ciri, boleh dipercaya boleh tidak. Menurut tradisi, setiap gempa akan diikuti dengan ritual berupa caru. Selain gempa bumi, menurut teks Lebur Sangsa ada juga gempa di dalam tubuh. Tiap gempa di tubuh, juga adalah ciri. Contoh gempa di tubuh adalah denyut di mata kanan, ciri ada orang yang membicarakan kebaikan kita. Jika bibir bagian bawah berdenyut, cirinya ada orang datang membawa makanan. Begitu konon.
Sekian dulu tulisan kali ini. Saat tulisan ini dimuat, saya sedang tidak di Bali dan tidak merayakan Galungan. Saya harus pergi jauh. Dari jarak yang jauh ini, saya mencoba melihat Bali. Konon dari jarak yang jauh, Bali tidak terlihat. Jika dari dekat, kita yang tidak melihat Bali. Tapi saya harus membuktikan, benarkah kalau dari jarak jauh Bali tidak terlihat oleh mata Cangak yang mungil ini.
Saya pikir, saya harus berterimakasih kepada pencipta mata yang mungil ini. Karena untuk melihat dengan jelas, tidak jarang orang harus mengecilkan matanya. Bahasa Balinya ngicir. Karena mata saya sudah kecil dari sononya, jadi ngicir tidak saya perlukan. Kalau pun perlu, tidak susah payah. Tapi kalau saya ngicir, mata saya sering tidak kelihatan. Seperti mata topeng Siddhakarya yang pernah saya lihat. Lalu kenapa mata topeng Siddhakarya ngicir? [T]
DIKRITIK atau dipuji? Pilih mana? Tentu ada yang pilih dikritik atau pilih dipuji. Sudah pasti di antara kita ada yang suka dikritik saja atau dipuji saja. Ada juga yang suka kedua...
WARGA di Kelurahan Kampung Singaraja tengah bergegas. Pria, perempuan, tua, anak-anak, semuanya bergegas. Mereka bergegas menuju Masjid Nurrahmah yang terletak di tengah-tengah pem...
AKHIRNYA DPD PDI-P Bali mengumumkan secara resmi bahwa Dewa Nyoman Sukrawan dipecat dari PDI-P. Ini bukan berita mengejutkan sesungguhnya. Karena jika berpatokan pada tabiat partai...
PROMOTOR adalah istilah untuk menyebut sekelompok penggagas sebuah kegiatan, di lingkungan lembaga formal dan non-formal. Promotor membangun dan mengembangkan ide serta inovasi-ino...
KINI Buleleng punya dua nama beken: Putu Agus Suradnyana dan Dewa Nyoman Sukrawan. Jangan mengaku keren jika tak kenal dua nama itu. Atau, bolehlah tidak kenal. Tapi sungguh keterl...
BALI dilanda banjir. Dan ketika banjir melanda, jalan seperti sungai, halaman rumah jadi kolam, dan lapangan bola serta taman kota jadi danau, maka beritanya langsung heboh di medi...
Cerpen: Yoyo Raharyo SUKRI masih duduk termenung di beranda rumah sepupunya, di sebuah desa yang tenang di Kota Air. Sore itu, lelaki 45 tahun ini membayangkan kembali kejadian sem...
APA kabar komik Indonesia? Bagaimana harimu saat ini? Masih dapatkah kujumpai serial pewayangan R.A Kosasih? Atau apa kabar aksi pahlawan “Si Buta dari Gua Hantu” yang sejak tahun...
“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, Berilah aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia” – Ir. Soekarno SEJARAH panjang mahasiswa dan...
Setiap manusia mengidamkan seorang pahlawan untuk hapuskan derita dari tirani yang usang yang kini kadaluarsa (Dimanakah Dia , Zat Kimia) DUA penggalan lirik i...