Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Hallo, selamat Galungan. Galungan artinya menang. Ah, begitulah tafsirnya turun temurun. Tidak tahu saya, sekarang ini saya keturunan keberapa yang menerima tafsir itu. Saya percaya kepada leluhur yang menafsirkan kemenangan, saya juga percaya kita ini orang-orang menang. Itu kata saya, kalau menjadi pewaris tafsir. Sebagai Cangak nakal, saya merasa penting untuk menanyakan lagi kepada leluhur, siapa saja yang menang? Nah, kalau sudah begitu, saya harus berhipotesa terlebih dahulu. Hipotesanya, jangan-jangan kita ini adalah orang-orang kalah yang ngaku menang.
Itu hipotesa dari bernakal-nakal ria ala Cangak. Agar hipotesa itu bisa dianulir atau dikukuhkan, mari kita baca salah satu kitab saklar. Kitab itu berjudul Sundarigama. Isinya tentang banyak sekali rahinan. Agar tidak banyak, jadi saya ringkaskan untuk kita semua.
Okay. Mari kita ulangi lagi pembacaan Galungan. Pembacaan ini didasarkan pada teks Sundarigama. Teks Sundarigama yang saya baca adalah hasil kerja dari I Nyoman Suarka, dan IB Jelantik sebagai editornya. Keduanya adalah pembaca teks yang tidak saya ragukan lagi. Jadi saya percaya kesalahan penyalinan pastilah diminimalisir. Agar tidak bingung, saya sertakan juga bahasa Jawa Kunanya. Hitung-hitung sekalian saya belajar menerjemahkan. Jadi begini:
Bagaimana? Adakah di antara kelima nomor itu yang gagal kita lakukan saat perayaan Galungan? Kalau pun ada, tidak apa-apa. Tidak apa-apa karena memang sulit kalau kita berhadapan dengan keinginan. Yang namanya keinginan, semakin ingin dihilangkan, malah ia berbalik membuat kita lupa. Ini serius. Cobalah.
Dari penjelasan Sundarigama, saya mendapatkan sesuatu yang aneh. Ternyata menurut teksnya, Galungan “dirayakan” dengan “menyucikan”. Yang dilakukan adalah menyucikan semesta alam, dan tubuh dalam. Tapi pelan-pelanlah menyucikan, agar kita tidak mabuk kesucian. Itu hanya tafsir. Tafsir selalu dipengaruhi oleh otak penafsir. Otak penafsir dipengaruhi oleh bacaan yang dimakan otaknya.
Ada lagi runtutan perayaan Galungan sebagaimana banyak dijelaskan oleh para pakar. Petunjuk di atas, juga sudah banyak dijelaskan dengan panjang kali lebar oleh pakar-pakar itu. Saya mengerti, ada beberapa kawan-kawan yang tidak punya waktu banyak untuk membaca. Makanya saya ringkas. Karena ringkas, maka ada pastinya yang kurang pas. Kalau sudah begitu, nanti kita bicarakan lagi sambil menduga-duga, apa saja yang sudah kita lakukan selama ini.
Lalu, apakah tidak ada banten atau persembahan? Oh, tentu saja ada. Di dalam Sundarigama, banten-banten itu dijelaskan secara runut. Jadi bolehlah dibaca-baca. Teks yang saya pakai sebagai sumber ini, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi bisa dinikmati pelan-pelan. Silahkan.
Ada lagi yang ingin saya sampaikan. Ini tentang gempa. Karena tempo hari [16 Juli 2019], gempa terjadi saat Purnama Kasa. Ada teks berjudul Palelindon yang membicarakan tentang gempa. Sumber teks ini sudah diringkas oleh Made Reland Udayana Tangkas [Palelindon: Tafsir Gempa Bumi Ala Bali]. Jadi gempa [lindu], konon memiliki dampak sesuai dengan Sasih [bulan], dan wewaran [hari dalam wariga dibagi sepuluh jenis]. Berikut ini keterangan gempa itu jika disesuaikan dengan hari terjadinya [16 Juli 2019]:
Itulah ciri atau tenger gempa. Namanya saja ciri, boleh dipercaya boleh tidak. Menurut tradisi, setiap gempa akan diikuti dengan ritual berupa caru. Selain gempa bumi, menurut teks Lebur Sangsa ada juga gempa di dalam tubuh. Tiap gempa di tubuh, juga adalah ciri. Contoh gempa di tubuh adalah denyut di mata kanan, ciri ada orang yang membicarakan kebaikan kita. Jika bibir bagian bawah berdenyut, cirinya ada orang datang membawa makanan. Begitu konon.
Sekian dulu tulisan kali ini. Saat tulisan ini dimuat, saya sedang tidak di Bali dan tidak merayakan Galungan. Saya harus pergi jauh. Dari jarak yang jauh ini, saya mencoba melihat Bali. Konon dari jarak yang jauh, Bali tidak terlihat. Jika dari dekat, kita yang tidak melihat Bali. Tapi saya harus membuktikan, benarkah kalau dari jarak jauh Bali tidak terlihat oleh mata Cangak yang mungil ini.
Saya pikir, saya harus berterimakasih kepada pencipta mata yang mungil ini. Karena untuk melihat dengan jelas, tidak jarang orang harus mengecilkan matanya. Bahasa Balinya ngicir. Karena mata saya sudah kecil dari sononya, jadi ngicir tidak saya perlukan. Kalau pun perlu, tidak susah payah. Tapi kalau saya ngicir, mata saya sering tidak kelihatan. Seperti mata topeng Siddhakarya yang pernah saya lihat. Lalu kenapa mata topeng Siddhakarya ngicir? [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...