Setelah Solo Exhibition
“The Backlash Of The East” di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 tahun lalu, kini
seniman I Madè Sumadiyasa menghadirkan karya-karya terpilihnya dalam pameran di
Bentara Budaya Bali (BBB). Pameran tunggal bertajuk “Sacred Energy” MetaRupa I
Madè Sumadiyasa ini akan dibuka secara resmi pada Minggu (28/07) pukul 18.30
WITA.
I Madè Sumadiyasa, yang
selama ini konsisten mengusung langgam abstrak, dikenal dengan
lukisan-lukisannya yang gigantik. Pameran ini, berlangsung hingga 5 Agustus
2019, hakikatnya hendak mencermati
konsistensi dan pergumulan berkaya Sumadiyasa selama ini sehingga menemu
langgam abstraknya yang mempribadi.
Diharapkan pula ekbisi kali ini dapat memberikan gambaran utuh menyeluruh tentang tahapan cipta sang kreator, terutama mengacu pada pembacaan atas karya-karya periode terkini dan kilas balik pada proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu.
Pameran Sumadiyasa_Waves, 2019, Acrylic on Canvas, 200x500cm
Seniman asal Tabanan ini telah menggelar banyak pameran tunggal maupun bersama, baik di Indonesia atau di luar negeri. Beberapa pameran terpilihnya antara lain: "Songs of the Rainbow", MADE at Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2008), “Sunrise", MADE at Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2005),"One World, One Heart", MADE at ARMA Museum, Bali, Indonesia (2004), "Journeys", MADE (simultaneously) at the Neka Art Museum, Bamboo Gallery and Komaneka Fine Art Gallery, Ubud - Bali, Indonesia.
Wicaksono Adi, kurator
pameran ini, mengungkapkan bahwa abstrak-ekspresionisme Sumadiyasa bertumpu
pada unsur-unsur emotif dan “abstraksi” bentuk-bentuk, lalu transisi menuju
aspek immaterial objek-objek dan akhirnya merasuk dalam pusaran energi alam
yang melampaui “abstraksi-abstraksi” itu sendiri. Suatu drama piktorial yang
sangat dinamis dari situasi (state of)
energi alam sekaligus tilikan subjektif yang termanifestasikan secara bebas dan
spontan.
“Karya-karya Sumadiyasa
boleh dikata sebuah upaya untuk menggambarkan daya-daya suci (sacred energy) sebagai energi ‘primal’
dalam cara pandang ‘kosmosentris’ di mana manusia tidak dipandang sebagai pusat
dunia dan kehidupan, “ cetus Wicaksono Adi.
Dengan karya-karya abstrak
ekspresionistik itu, pada awal dekade 1990, seniman kelahiran 1971 dan lulusan
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, telah mengejutkan publik dan
memperoleh apresiasi internasional. Sidini mahasiswa, pada tahun 1995, ia telah
diundang dalam pameran Art Asia, International Fine Art Exhibition, cikal bakal
Art Basel Hongkong. Salah satu karyanya dijadikan cover majalah Asian Art News,
sebuah media seni penting di kawasan Asia (1996).
Ekspresi Kosmik
Mula-mula Sumadiyasa banyak
mengeksplorasi bentuk-bentuk semi representasional objek-objek, baik
sosok-sosok manusia maupun bentuk-bentuk ideoreligius tradisional Bali seperti
barong, ikon-ikon maupun figur-figur simbolik dunia perwayangan dan sejenisnya.
Ekspresionisme Sumadiyasa pada fase ini bertumpu pada aspek emotif dari objek-objek
berikut gambaran atmosfer di mana objek-objek itu hadir. Setelah itu muncul
“abstraksi” bentuk-bentuk yang menggantikan drama piktorial alamiah ke dalam
konstelasi gerak objek-objek nan bebas sekaligus mengesankan keteraturan yang
bersifat menyeluruh-utuh.
Karya-karya abstrak ekspresionistik I Madè Sumadiyasa tidak hanya objek retinal belaka. Pun bukan gambaran visual tentang kedahsyatan energi alam, tapi sudah menjadi wujud dari gelora energi itu sendiri. Ia bukan sekadar drama piktorial tentang gejolak batin sang subjek pembuatnya, atau gambaran ekspresi daya-daya kosmik, melainkan juga wujud dari energi alam itu sendiri.
Pameran Sumadiyasa_Sacred Energy, 2019, Acrylic on Canvas, Diameter 153cm
Di sana-sini energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar sehingga akan menimbulkan efek “totalitas performatif” yang lebih kuat pula. Yaitu efek pemaknaan intensional yang melebihi dimensi visual an sich, karena hal itu akan menimbulkan getaran yang lebih kuat pada si pemandang. Melalui drama piktorial spektakuler itu gelora dan kebesaran ”energi kosmik”-nya tampil dalam wujud yang benar-benar nyata.
“Pameran ini mengajak
hadirin untuk dapat melatih kepekaan terhadap kekuatan alam yang dahsyat itu.
Apalagi bagi orang orang Indonesia yang hidup dalam rangkaian cincin api (ring of fire) dengan alam yang terus
bergejolak, plus kehidupan yang dipenuhi kekerasan, fragmentasi dan konfrontasi
brutal yang menjalar ke mana-mana, “ ujar Wicaksono Adi.
I Madè Sumadiyasa juga meraih berbagai penghargaan, diantaranya: Finalist Indonesia Art Awards, Indonesia Art Foundation, Jakarta, Indonesia (2003), Finalist Phillip Morris ‘Indonesia Art Award (1996 & 1997), Best Still Life painting, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1996), Best painting, Lustrum II, Indonesia Institute of Art (ISI), Yogyakarta, Indonesia (1994), Honorable mention for painting, Indonesia Institute of Art (STSI) Denpasar, Bali, Indonesia (1993) dan lain-lain. [T] [*]
SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove Ave Politeknik Pariwisata Bali. Tema pelepasan Toska p...
SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak… Mereka adalah mahasiswa di Seoul Institu...
RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar panggung tampil, melainkan ruang perjumpaan gaga...
PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg, 14 Mei 2026 sampai Sabtu Pon Gumb...
HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi salah satu contoh paling nyata...
DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula Bali (lawan gula buatan kolonial Belanda, ya...
BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung menggunakan laptop, ada pula yang antusias mema...
WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar sepi. Motor hilir mudik seperti arus kecil y...
DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa saja yang diberi label adiluhung l...
AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah lelah yang sibuk menunduk di atas buku cat...