Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Setelah Solo Exhibition “The Backlash Of The East” di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 tahun lalu, kini seniman I Madè Sumadiyasa menghadirkan karya-karya terpilihnya dalam pameran di Bentara Budaya Bali (BBB). Pameran tunggal bertajuk “Sacred Energy” MetaRupa I Madè Sumadiyasa ini akan dibuka secara resmi pada Minggu (28/07) pukul 18.30 WITA.
I Madè Sumadiyasa, yang selama ini konsisten mengusung langgam abstrak, dikenal dengan lukisan-lukisannya yang gigantik. Pameran ini, berlangsung hingga 5 Agustus 2019, hakikatnya hendak mencermati konsistensi dan pergumulan berkaya Sumadiyasa selama ini sehingga menemu langgam abstraknya yang mempribadi.
Diharapkan pula ekbisi kali ini dapat memberikan gambaran utuh menyeluruh tentang tahapan cipta sang kreator, terutama mengacu pada pembacaan atas karya-karya periode terkini dan kilas balik pada proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu.

Seniman asal Tabanan ini telah menggelar banyak pameran tunggal maupun bersama, baik di Indonesia atau di luar negeri. Beberapa pameran terpilihnya antara lain: "Songs of the Rainbow", MADE at Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2008), “Sunrise", MADE at Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2005),"One World, One Heart", MADE at ARMA Museum, Bali, Indonesia (2004), "Journeys", MADE (simultaneously) at the Neka Art Museum, Bamboo Gallery and Komaneka Fine Art Gallery, Ubud - Bali, Indonesia.
Wicaksono Adi, kurator pameran ini, mengungkapkan bahwa abstrak-ekspresionisme Sumadiyasa bertumpu pada unsur-unsur emotif dan “abstraksi” bentuk-bentuk, lalu transisi menuju aspek immaterial objek-objek dan akhirnya merasuk dalam pusaran energi alam yang melampaui “abstraksi-abstraksi” itu sendiri. Suatu drama piktorial yang sangat dinamis dari situasi (state of) energi alam sekaligus tilikan subjektif yang termanifestasikan secara bebas dan spontan.
“Karya-karya Sumadiyasa boleh dikata sebuah upaya untuk menggambarkan daya-daya suci (sacred energy) sebagai energi ‘primal’ dalam cara pandang ‘kosmosentris’ di mana manusia tidak dipandang sebagai pusat dunia dan kehidupan, “ cetus Wicaksono Adi.
Dengan karya-karya abstrak ekspresionistik itu, pada awal dekade 1990, seniman kelahiran 1971 dan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, telah mengejutkan publik dan memperoleh apresiasi internasional. Sidini mahasiswa, pada tahun 1995, ia telah diundang dalam pameran Art Asia, International Fine Art Exhibition, cikal bakal Art Basel Hongkong. Salah satu karyanya dijadikan cover majalah Asian Art News, sebuah media seni penting di kawasan Asia (1996).
Ekspresi Kosmik
Mula-mula Sumadiyasa banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk semi representasional objek-objek, baik sosok-sosok manusia maupun bentuk-bentuk ideoreligius tradisional Bali seperti barong, ikon-ikon maupun figur-figur simbolik dunia perwayangan dan sejenisnya. Ekspresionisme Sumadiyasa pada fase ini bertumpu pada aspek emotif dari objek-objek berikut gambaran atmosfer di mana objek-objek itu hadir. Setelah itu muncul “abstraksi” bentuk-bentuk yang menggantikan drama piktorial alamiah ke dalam konstelasi gerak objek-objek nan bebas sekaligus mengesankan keteraturan yang bersifat menyeluruh-utuh.
Karya-karya abstrak ekspresionistik I Madè Sumadiyasa tidak hanya objek retinal belaka. Pun bukan gambaran visual tentang kedahsyatan energi alam, tapi sudah menjadi wujud dari gelora energi itu sendiri. Ia bukan sekadar drama piktorial tentang gejolak batin sang subjek pembuatnya, atau gambaran ekspresi daya-daya kosmik, melainkan juga wujud dari energi alam itu sendiri.

Di sana-sini energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar sehingga akan menimbulkan efek “totalitas performatif” yang lebih kuat pula. Yaitu efek pemaknaan intensional yang melebihi dimensi visual an sich, karena hal itu akan menimbulkan getaran yang lebih kuat pada si pemandang. Melalui drama piktorial spektakuler itu gelora dan kebesaran ”energi kosmik”-nya tampil dalam wujud yang benar-benar nyata.
“Pameran ini mengajak hadirin untuk dapat melatih kepekaan terhadap kekuatan alam yang dahsyat itu. Apalagi bagi orang orang Indonesia yang hidup dalam rangkaian cincin api (ring of fire) dengan alam yang terus bergejolak, plus kehidupan yang dipenuhi kekerasan, fragmentasi dan konfrontasi brutal yang menjalar ke mana-mana, “ ujar Wicaksono Adi.
I Madè Sumadiyasa juga meraih berbagai penghargaan, diantaranya: Finalist Indonesia Art Awards, Indonesia Art Foundation, Jakarta, Indonesia (2003), Finalist Phillip Morris ‘Indonesia Art Award (1996 & 1997), Best Still Life painting, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1996), Best painting, Lustrum II, Indonesia Institute of Art (ISI), Yogyakarta, Indonesia (1994), Honorable mention for painting, Indonesia Institute of Art (STSI) Denpasar, Bali, Indonesia (1993) dan lain-lain. [T] [*]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...