Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi
Ampar yang Meninggi di kampung petaniaku sebiji padiyang menemui puisidi celah tanahyang berdegupdan mengecambah dari ampar yang meninggikusembahkan berbijibijiuntuk mengisi...
Galungan simbol kemenangan Dharma melawan Adharma. Perayaan Hari Raya Galungan adalah perayaan kemenangan kebenaran atas ketidakbenaran. Ini dilakukan setiap 6 bulan sekali sesuai hitungan kalender Bali. Atau lebih tepatnya setiap 210 hari.
Pertanyaannya, mengapa kemenangan kebenaran ini dirayakan? Tentu saja, ini sebagai penanda agar kita senantiasa mengingatkan umat Hindu bahwa kebenaran selalu menang. ”Satyam Ewam Jayate”.
Karena Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atau kebenaran, yang kalah tentunya tidak benar. Lalu siapa yang tidak benar itu? Saya, kamu, kami, kita, atau kau saja? Apa yang dijadikan ukuran benar atau tidak benar? Apa juga yang dipakai menyatakan ia menang atau ia kalah?
Pada kenyataannya, pada saat Hari Galungan, semua umat Hindu di Bali merayakan kemenangan Dharma. Apakah semua umat Hindu di Bali benar? Dan apakah semuanya menang?
Pasti saja ada umat yang salah alias tidak benar. Tetap saja mereka merayakan kemenangan Dharma, padahal ia pihak yang tidak benar. Mengapa ia tidak merayakan kekalahannya?
Tentunya pertanyaan ini menggelitik dan rada skeptis untuk menggugah nurani kita. Mari menggali lebih dalam lagi tentang Hari Raya Galungan. Orang yang merenung, orang yang tak henti-henti menggali ilmu pengetahuan untuk mencapai kebenaran, itulah saya pikir orang yang menang.
Pada dasarnya kita selalu berjuang untuk memenangkan dharma dalam hati kita. Dalam bathin, dalam pikiran kita. Galungan mengingatkan hal itu. Dan itulah sesungguhnya makna dari kemenangan.
Dalam jiwa kita ada Kurusetra tempat pertempuran yang tak ada habisnya antara Dharma melawan Adharma. Di sana melalui Galungan kita menguatkan diri agar selalu ingat, eling.
Sebenarnya saat perayaan kemenangan Dharma, kita sekaligus merayakan kekalahan Adharma. Karena sesungguhnya Dharma dan Adharma ada dalam diri kita. [T]
Ampar yang Meninggi di kampung petaniaku sebiji padiyang menemui puisidi celah tanahyang berdegupdan mengecambah dari ampar yang meninggikusembahkan berbijibijiuntuk mengisi...
PENALARAN kita jika menyaksikan banjir, senantiasa terhubung dengan kondisi alam. Curah hujan yang tinggi selalu menjadi alibi pembenaran, dan menjadi sebab-akibat yang dipercayai...
Di balik rumah yang hangat dan keluarga yang kuat, berdirilah seorang perempuan luar biasa: ibu. Ia adalah pemimpin sejati dalam rumah tangga, yang memimpin bukan dengan suara ker...
DI Rumah Tanjung Bungkak, Denpasar, Sabtu, 20 Desember 2025, kebudayaan bergerak, jauh hingga keluar areal. Pergerakan itu hidup dalam sesi diskusi dan lokakarya, juga Pasar Aksi...
Mulailah dengan satu kata. Lalu, rentangkan menjadi sebuah kalimat. Susun kalimat-kalimat itu menjadi sebuah paragraf yang utuh. Kemudian, satukan paragraf-paragraf itu hingga mem...
PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru kendaraan, melainkan bunyi tok… tok… tok ─ kentonga...
DALAM panggung politik, ada satu kenyataan yang nyaris menjadi klise: ambisi sering membuat manusia lupa budi. Lupa siapa yang pernah mengulurkan tangan, siapa yang pernah membuka...
Di tengah pesatnya perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, seni dan sastra kerap berada pada posisi yang terpinggirkan....
PENCAPAIAN jabatan akademik guru besar merupakan dambaan setiap dosen di perguruan tinggi. Memperoleh jabatan itu tentulah tidak mudah, namun bagi Prof.Dr.Shinta Prastyanti, S.I.P...
Ini merupakan tulisan yang bersumber dari lubuk hati saya. Mungkin sebagai orangtua, saya cukup perasa dan sangat menikmati sesi bersama anak. Mulai dari memandikan, menyuapi maka...