'Free Bird': Spirit Perjuangan Rock Selatan
Sebagian Generasi Z tentu familiar dengan "Free Bird" karya Lynyrd Skynyrd berkat kemunculannya sebagai tantangan legendaris dalam game Guitar Hero. Namun bagi pendengar musik 197...
Galungan simbol kemenangan Dharma melawan Adharma. Perayaan Hari Raya Galungan adalah perayaan kemenangan kebenaran atas ketidakbenaran. Ini dilakukan setiap 6 bulan sekali sesuai hitungan kalender Bali. Atau lebih tepatnya setiap 210 hari.
Pertanyaannya, mengapa kemenangan kebenaran ini dirayakan? Tentu saja, ini sebagai penanda agar kita senantiasa mengingatkan umat Hindu bahwa kebenaran selalu menang. ”Satyam Ewam Jayate”.
Karena Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atau kebenaran, yang kalah tentunya tidak benar. Lalu siapa yang tidak benar itu? Saya, kamu, kami, kita, atau kau saja? Apa yang dijadikan ukuran benar atau tidak benar? Apa juga yang dipakai menyatakan ia menang atau ia kalah?
Pada kenyataannya, pada saat Hari Galungan, semua umat Hindu di Bali merayakan kemenangan Dharma. Apakah semua umat Hindu di Bali benar? Dan apakah semuanya menang?
Pasti saja ada umat yang salah alias tidak benar. Tetap saja mereka merayakan kemenangan Dharma, padahal ia pihak yang tidak benar. Mengapa ia tidak merayakan kekalahannya?
Tentunya pertanyaan ini menggelitik dan rada skeptis untuk menggugah nurani kita. Mari menggali lebih dalam lagi tentang Hari Raya Galungan. Orang yang merenung, orang yang tak henti-henti menggali ilmu pengetahuan untuk mencapai kebenaran, itulah saya pikir orang yang menang.
Pada dasarnya kita selalu berjuang untuk memenangkan dharma dalam hati kita. Dalam bathin, dalam pikiran kita. Galungan mengingatkan hal itu. Dan itulah sesungguhnya makna dari kemenangan.
Dalam jiwa kita ada Kurusetra tempat pertempuran yang tak ada habisnya antara Dharma melawan Adharma. Di sana melalui Galungan kita menguatkan diri agar selalu ingat, eling.
Sebenarnya saat perayaan kemenangan Dharma, kita sekaligus merayakan kekalahan Adharma. Karena sesungguhnya Dharma dan Adharma ada dalam diri kita. [T]
Sebagian Generasi Z tentu familiar dengan "Free Bird" karya Lynyrd Skynyrd berkat kemunculannya sebagai tantangan legendaris dalam game Guitar Hero. Namun bagi pendengar musik 197...
SEORANG sushi chef berdiri tenang di balik meja kayu, menatap potongan ikan segar kemerahan. Tangannya bergerak perlahan namun pasti, mengiris, menata, dan menyajikan, tanpa banya...
AWALNYA mereka kumpul-kumpul, antara lain membahas kain Bali, kuliner, juga sesekali perkembangan politik lokal. Lalu, mereka berinisitif membangun komunitas yang lebih resmi, Kom...
DALAM jagat pewayangan Jawa, Petruk adalah punakawan: sosok rakyat jelata, jenaka, lugu, namun menyimpan kebijaksanaan tersembunyi. Ia bukan kshatria, bukan brahmana, bukan pula p...
“Hidup di zaman yang segala hal bisa dilaporkan itu…..” Mengubah semua teguran menjadi ancaman, juga tiap nasihat menjadi risiko Dunia pendidikan sekarang seperti dilema eks...
SABTU pagi, 20 Desember 2025, SMA Negeri 10 Denpasar (SMANDA) tampak berbeda dari biasanya. Sedari pukul 09.00 Wita, ruang rapat sekolah telah dipenuhi siswa, panitia, dan para un...
"Send Me the Pillow You Dream On" tampaknya telah menjadi salah satu lagu nostalgia paling dicintai. Meskipun sudah lebih dari enam puluh tahun sejak dipopulerkan oleh Johnny Till...
“Panjang umur karya, panjang umur kita dalam sebuah karya.” Ungkapan itu bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan napas panjang yang seolah mengawal perjalanan Gala Resonant—se...
Jika berkunjung ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali hari ini, besok dan lusa, 22 – 24 Desember 2025, pasti akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Sebab, monument yang melambangkan per...
Kepedulian terhadap korban bencana pasca Siklon Tropis Senyar November lalu yang memberikan dampak banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh ditunjukkan oleh...