Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MELUKIS PETANG DI SEBUAH SAJAK
dan kata-kata
meredam nyeri kita
sebelas musim yang runtuh
pasca bahasa
hanya angin, memulai narasi
langit adalah kegaiban waktu
yang kita tunggu
keheningan terpecah
ke dalam sungai diriku
tuhan berganti rupa
masih ada masa lalu
menggambar wajahnya
dengan senyum petang
sepotong sajak yang mengecup tangan duka
surabaya, mei 2019
MENGINGAT NABI
di dalam sabda
aku isyarat
yang perlahan
menggoreskan cahaya
tubuhku riuh
mendedah ingatan, hari-hari silap
cakrawala mengabu
dalam deret waktu yang bisu
masih ada pulang
katamu, sebab petunjuk
bukanlah yang merujuk
kepada nama-nama
juga kaum
diperbudak tabiat moyang
maka jalan panjang yang dibentang
adalah sunyi, semata sunyi
sesudah bunyi
hengkang ke dalam puisi
surabaya, mei 2019
JALAN SETAPAK MENUJU IBU
serupa apakah ingatan
menoreh kebahagiaan
atas masa lalu
yang dingin mengendap
menujumu, setapak jalan yang lindap
aku bukan kata yang terpendam dalam nyerimu
semata yang lebih haru
dari air mata
terdedah ratusan musim yang meranggas
bagai daun-daun, hilang hijaunya
surabaya, mei 2019
SAJAK KEPADA CINTA
kekasih sembunyi ke peluk puisi
matanya ialah kata yang jernih
mengalirkan mata air makna
peribahasa yang jauh dari dukana
mataku, barangkali, terlalu pedih
menafsir jejakmu
puisi ini cukup
menghangatkan sedihmu
atau yang tak terkatakan
dari cinta
kelak padam
dituai waktu
sunyi yang merajam kita
ke dalam abu
surabaya, mei 2019
MATA KATA
kita adalah mata kata
yang menulis bayang-bayang
di linimasa kesunyian
petang yang terburu
mengeja nadi magrib
burung-burung melengking
terlepas sukma, sukma yang biru
mengecup aroma cahaya
sembahyang makna, tuntas menulis narasi
merayakan jejak datang
jejak yang tak sempat diangsur malam, langit gaib
ketika tuhan pun melangkah
membaur firman yang muram
surabaya, mei 2019
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...