Tatkala Facebook Masuk Kampung Halaman Saya
Jika misalnya saya bertanya kepada orang-orang di kampung saya—khususnya pemuda sampai yang semi tua—tentang Facebook, maka hampir semua orang di sana pasti tahu. Tetapi jika saya...
PERKENALAN saya dengan dunia film pendek sebenarnya dimulai pada 2016 lalu. Sebelumnya saya hanya sebatas menjadi penikmat film bioskop. Sangat jarang bersentuhan dengan film pendek dokumenter.
Pada 2016, kantor menugaskan saya di desk hiburan dan budaya. Di desk ini saya mulai bersentuhan dengan film pendek dan dokumenter. Saat itu saya baru mengenal Minikino – organisasi yang fokus pada film pendek.
Tatkala itu saya baru paham bahwa film bukan hanya sebatas film bioskop semata. Ada berbagai macam film. Mulai dari fiksi, dokumenter, animasi, hingga eksperimental.
Tahun itu, Minikino membuka sebuah pelatihan menulis dan menyusun program film. Pelatihan yang tak ingin saya lewatkan sia-sia. Apalagi pelatihannya tak berbayar. Tentu saya langsung mendaftarkan diri. Apalagi saya masih sangat awam dengan film.
Dari pelatihan yang digelar Minikino, saya belajar banyak. Dari Luh De Suriyani, saya belajar bagaimana cara menulis berita terkait film agar tak terlalu banyak spoiler. Dari Ayu Diah Cempaka saya belajar bagaimana mengulas dan mengkritik sebuah film.
Selain dari mereka berdua, saya juga belajar dari Program Director Minikino, Fransiska Prihadi. Saat belajar sebagai programmer, hasilnya gagal total. Saya tak begitu ahli menyusun film menjadi sebuah rangkaian program.
Setelah pelatihan dan menyaksikan sekian banyak film, saya tersadar. Saya sudah cukup banyak menulis straight news dan feature. Namun ternyata tak semuanya bisa disajikan secara gamblang lewat media tulisan. Terkadang media audio-visual, seperti film, bisa memberikan narasi dan feel yang lebih lengkap. Saya pun memutuskan belajar membuat film.
Keinginan itu saya utarakan pada Kardian Narayana alias Cotek. Saya melamarnya sebagai penata gambar. Karena saya sadar pengetahuan saya tentang sinematografi tak seperti Cotek. Saya cukup yakin dengan kemampuannya. Apalagi kami pernah bernaung dalam satu stasiun TV yang sama, meski berbeda divisi.
Saya kemudian menyampaikan keinginan membuat film pada istri saya, sekaligus melamarnya sebagai produser. Alasannya sederhana saja. Membuat film pasti butuh biaya yang tak sedikit. Siapa tahu istri bisa menyisihkan sedikit uang dapur untuk membiayai keinginan ini.
Saya juga meminta Komunitas Mahima, agar mereka membuat divisi baru. Divisi film. Hanya untuk menampung keinginan saya membuat film. Keinginan yang diamini dengan cepat oleh pasangan suami istri Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti.
Gayung bersambut, kami pun memproduksi film.
* * *
SETAHUN lalu kami berkenalan dengan Rita. Nama lengkapnya Putu Rita Erviana. Dia salah satu siswa di SLB Negeri 1 Buleleng.
Rita merupakan salah satu siswa berbakat di sekolahnya. Dia menguasai beberapa tarian Bali. Hal ini cukup unik, karena Rita sebenarnya mengalami disabilitas rungu-wicara.
Dalam kesunyian, ia menari dengan baik. Kami berupaya mendokumentasikan tiap proses yang ia jalani.
Kami berupaya menghadirkan feel seperti apa penari disabilitas rungu-wicara menari. Bukan hal yang mudah. Begitu banyak tantangan teknis yang kami alami. Terutama tantangan bahasa. Beruntung ada Dian Suryantini yang menjembatani masalah ini. Tak percuma ia menjadi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra.
Setelah mendapat beberapa masukan, akhirnya film itu tuntas. Film itu kami beri judul “Rita”. Sesuai nama dengan subjek penari yang kami dokumentasikan.
Film itu kami daftarkan di beberapa ajang diskusi sinema. Kami juga ikutkan di beberapa lomba. Tak semuanya berbuah. Hanya di Denpasar Film Festival, film kami mendapat nominee.
* * *
Tahun ini, film Rita kami daftarkan di program Indonesia Raja 2019 yang digelar Minikino. Kami hanya ingin film ini ditonton oleh lebih banyak orang. Bila tak lolos, paling tidak pernah ditonton programmer dan film ini sudah masuk direktori Minikino.
Jumat lalu (31/5/2019), saya menerima email dari Minikino. Pesan itu sudah masuk tengah malam, tapi baru saya baca keesokan paginya. Ternyata film kami terpilih dalam Program Indonesia Raja 2019 Bali.
Terpilihnya film ini dalam program Indonesia Raja, membuat ingatan saya melayang ke tahun 2016 lalu. Tahun dimana saya masih baru mengenal lembaga ini. Tahun dimana saya tak pernah membayangkan film saya akan diputar dalam salah satu programnya. [T]
Jika misalnya saya bertanya kepada orang-orang di kampung saya—khususnya pemuda sampai yang semi tua—tentang Facebook, maka hampir semua orang di sana pasti tahu. Tetapi jika saya...
“Plato adalah teman saya, Aristoteles adalah teman saya – tapi teman saya yang terbesar adalah kebenaran” (Isaac Newton 1642-1726) ____ Sir Isaac Newton, dari ungkapannya di...
Tiga tahun belakangan saya kerap kali membeli buku-buku seni berbahasa Inggris, bukan karena kerennya gambar yang disajikan akan tetapi ingin dapat membaca dan mengerti meskipun s...
Pemerintah provinsi Bali dengan geliat Pergub 79 dan 80 tahun 2018 semakin meruncingkan perkembangan bahasa Bali ke daerah perbatasan dan pelosok-pelosok Bali. Yang menjadi...
Sholat Ashar di Masjid Nurul Jannah yang terletak di Jl. A. Yani, Gresik, baru saja usai. Kasnadi (42) mengganti sarung dan baju koko dengan celana dan kaos lengan pan...
Banyak sekolah yang mencantumkan visi misi: meningkatkan prestasi, daya saing, berkarakter dan cinta terhadap lingkungan. Namun dalam implementasinya belumlah merata, terutama ter...
Jaman sekarang sangat berdosa bila remaja dan anak muda seperti saya tidak memiliki gadget yang bisa dipakai untuk membuat dan melihat story. Hahaha. Tulisan ini saya buat ber...
Sampah plastik siap menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja. Meledak dan membahayakan bumi dan semua isinya. Barang buatan manusia tersebut, akhirnya menjadi masalah yang s...
Tidak perlu menunggu lama, pariwisata sangat “cespleng” memberikan pengaruh terhadap kelokalan di Nusa Penida. Salah satunya ialah perkara (kosakata bahasa) penamaan suata tempat...
Judul : Kekerasan Budaya Pasca 1965Penulis : Wijaya HerlambangPenerbit : Marjin KiriCetakan : Ketiga, Februari 2019ISBN : 9...