“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Hari itu saya tahu ada anak baru mampir di SMK, dari Padang, negeri yang sering saya dengar setelah Gus Tf Sakai dan beberapa teman dari Padang datang ke Bali sebelumnya. Ini kesempatan baik untuk “dimainkan” (begitu kami selalu mempergunakan istilah, kalau ada sesuatu yang baru).
Tanpa menunggu waktu yang berlama-lama, saya berangkat ke sekretariat SMK di Wahidin (Jalan Wahidin Denpasar) yang kebetulan rumah Tan Lieo Ie -- kami sering menyebutnya dengan nama Yoki.
Yang namanya Yoki ini, memang orangnya ‘kurang asem’, karena apapun yang dikerjakannya selalu berlama-lama, termasuk kalau lagi ngoceh! Kesempatan baik! Bukan lagi demi puisi, seperti yang sering diungkap oleh Mas Warih (Penyair Warih Wisatsana) melainkan demi “menghancurkan” reputasi seteru.
“Mas, apa benar ini rumah Om Tan Lieo Ie, penyanyi dangdut yang sering nyawer di kundangan?” tanya saya pada orang baru itu, setelah sesaat saya pura-pura nyelingak- celinguk di depannya.
“O, ya, tapi bukan penyanyi dangdut, melainkan penyair yang memusikalisasikan puisi!” jawab si orang baru ini.
“Penyair, apa itu penyair? Mas, siapa?” tanya saya lagi.
Orang itu menyebutkan namanya. Haahaha! Ini kesempatan, drama gong segera dimainkan.
“Dari Jawa mana?”
“Bukan dari Jawa, Bang, dari Padang.”
“O, Padang? Personil orkes dangdutnya Om Yoki juga, ya?”
“Ndak, Bang. Saya baru kemarin datang ke Bali.”
“Om Tan ada?” Pura-pura saja serius, biar orang ini penasaran.
“Ada, Bang, tapi masih di kamar mandi!” jawab orang baru tersebut dengan penuh keluguan.
Nah ini dia kesempatan lagi. Saya sangat tahu, bagaimana kalau si Yoki melakukan sesuatu, apalagi kalau di kamar mandi, pasti sangat berlama-lama. Jangan harap kalau ada yang kebelet mau buang air kecil atau buang air besar segera tuntas kalau si Yoki ada di kamar mandi.
Pernah Landras, si penyair ‘Mata Dadu’ sampai ngompol di celana gara-gara nunggu Yoki keluar dari kamar mandi, yang satu-satunya ada di Wahidin. Kalau dirinci mungkin bisa dideskripsikan sebagai berikut. Buka pakaian kisarannya 15 menit, setiap kali memasukkan gayung ke bak lalu dituangkan ke tubuhnya kisarannya 10 menit. Bayangkan kalau sepuluh kali gayungan, berapa menit sudah waktu yang dihabiskan Tan untuk itu.
Belum lagi mengelap tubuh, pakai sarung dan sebagainya. Waktu dua jam pasti habis. Saya tidak tahu apakah sekarang masih seperti itu? Tapi saya yakin, seyakin-yakinnya masih seperti itu, buktinya kalau ngoceh dalam setiap pertemuan tak bisa dihentikan. Hahaha!
“Om Tan, sudah lama di kamar mandi?”
“Sudah, Bang!” Orang ini mulai heran dengan sikap saya. Supaya tidak curiga dengan lakon drama gong ini, saya segera alihkan pembicaraan.
“Kalau begitu, saya titip pesan saja, sampaikan pada Om Yoki, bahwa saya datang kemari mau nanggap lagu dangdut lengkap dengan orkesnya untuk acara ulang tahun. O, ya, ada nomor telepon rumah ini?” tanya saya lagi. Maklumlah zaman itu belum ada hape seperti sekarang ini.
Orang baru itu pun memberi nomor tertentu dengan polosnya, dan saya ngeloyor pergi menuju Pasar Kumbasari, nyoto! Orang baru itu menatap kepergian saya dengan penuh tanda tanya, mungkin dalam hatinya berkata, sombong banget orang itu, penampilan kayak gelandangan, kere saja mau nanggap pemusik hebat seperti Tan.
Hahaha, pemusik hebat! Peduli amat!
Hahaha, saya tidak tahu bagaimana orang yang baru datang di SMK itu menyampaikan pada Om Yoki dan bagaimana pula reaksi Yoki dengan predikat penyanyi dangdut itu. Hehehe..
Orang baru itu kini adalah penyair top yang saat ini tinggal di Jogya, Raudal Tanjung Banua, yang sering saya tulis Rudal Tanjung Benoa,
Selang beberapa saat, setelah makan soto di Kumbasari, saya pergi ke telepon umum. Saya menghubungi lagi base camp Sanggar Minum Kopi. Sompret! Yang ngambil si Jengki (Penyair Wayan Jengki Sunarta) Orang ini adalah orang yang paling muda di SMK, masih jadi murid SMA atau mahasiswa Faksas di tahun pertama, pada waktu itu (saya lupa), tapi penampilannya sudah nyeniman, karena puisinya sudah dimuat di Bali Post Minggu, dan namanya sering dikontak di ruang Umbu (ruang yang diasuh Umbu Landu Paranggi).
Di kalangan kami ada baiknya ada si Jengki. Bisa disuruh-suruh ngambil itu –ngambil ini, termasuk juga sering mijetin si Yoki sekali waktujugaWarih. Sialan!
Kalau sekarang, karena si Jengki sudah jadi peyair terkenal, aku provokatorin dia agar njitak saja orang-orang itu. Seangkatan dengan Jengki, Sahadewa, bilang di akun FB-nya, untung saya (Sahadewa) selamat!
“Jeng, aku Adhi Ryadi, aku sudah menghubungi GM agar kamu ke Bali Post. Aku ada perlu wawancara dengan kamu sekarang! Aku tunggu setelah deadline untuk besok, setalah jam sebelas (maksudnya jam 11 malam), penting untuk Bali Post Minggu,” kataku serius.
Orang ini harus ‘dimainkan’ lagi. Tentu setelah berkali-kali kena! O, ya, Adhi Ryadi adalah wartawan Bali Post ketika itu, kini yang bersangkutan telah meninggal karena kecelakaan di rumahnya, kesiram minyak atau air panas (?).
Wah, dengan penuh semangat Jengki mengiyakan, dan entah apa yang terjadi setelah menerima telepon dari ’Adhi Ryadi’ itu. Yang pasti kata Yoki pada hari berikutnya, sebelum jam sepuluh malam tumben Jengki sudah cabut dari Wahidin, biasanya sampai pagi tiduran di lantai beralaskan tikar lusuh satu-satunya.
Sepeda gayungnya standing dan ngepot ke Jalan Kepundung, alamat Bali Post. Tentu saja sampai di Bali Post si Jengki celingak-celinguk, tanpa ada yang menyapa, termasuk Adhi Ryadi. Hehehe. Sinampure, Jeng! Dengan wajah lesu, kehilangan gairah, dan pasti kesal, Jengki nyelinap entah ke mana ditelan kegelapan malam yang gerimis. Sialan GM!
Tabik dan sinampura, sahabat dan seteruku di Sanggar Minum Kopi Bali. [T]
Sanggar Minum Kopi (SMK) Bali adalah sanggar sastra yang kondang pada rentang tahun 1985-1995. Di dalamnya terdapat nama-nama yang kini masyur baik di dunia sastra maupun di luar sastra. Sebut saja Tan Lioe Ie, Wayan Jengki Sunarta, Oka Rusmini, Putu Fajar Arcana, Warih Wisatsana, Sinduputra, Mas Ruscitadewi, Cok Sawitri, Raudal Tanjung Banua, Riki Dhamparan Putra, Nuryana Asmaudi, Dewa Putu Sahadewa, GM Sukawidana, Made Adnyana Ole, Sthiraprana Duarsa, Putu Satria Kusuma, Lingga Wijaya, Alit Widusaka (alm), Boping Suryadi (kini jadi politisi dari Tabanan), dan tentu saja ada tokoh kita; Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira. (Nama-nama lain bisa disusulkan kemudian).
Melalui pergelaran lomba penulisan dan baca puisi se-Indonesia, SMK membuka pergaulan dengan nama-nama sastrawan di luar Bali, seperti Kurnia Effendi, Iyut Fitra, Arif B Prasetyo, Zen Hae, Gus tf, Aslan Abidin, dan Saut Situmorang. SMK bubar tahun 1985. Meski bubarnya akibat konflik kecil tak terduga, namun hingga kini orang-orang SMK tetap berteman selayaknya saudara.
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...