Cerpen: Arya Lawa Manuaba
Sejak divonis tuli total dua tahun silam, mbah selalu mengaku mendengar
suara genderang setiap hari. Padahal dokter sudah menyerah. Pendengarannya tidak
mungkin kembali. Usianya sudah hampir sembilan puluh.
Mbah bahkan tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Kadang-kadang jika aku
pulang kerja larut malam, mbah yang girang campur cemas suka keceplosan volume.
Panggilan kangennya padaku bisa terdengar sampai ujung blok, membangunkan
herder-herder sangar bertaring di deret rumah seberang.
Menurut mbah, suara genderang itu datang dari balik tembok. Kadang-kadang,
kalau suasana hatinya sedang kacau dirundung kesunyian kronis dalam hidupnya,
dia mengaku suara itu datang dari kolong tempat tidur. Aku hanya percaya satu
hal: perempuan uzur itu sedang berhalusinasi. Kadang-kadang dia terbangun
tengah malam, menggedor pintu kamarku dan mengaku mendengar suara genderang itu
lagi,—di dalam lemari.
Jadi cucu kesayangan memang dilematis. Waktu kecil, mbah membawakanku
kue-kue lezat dari emper pasar, atau bubur sagu manis yang kujilati sampai daun
pisangnya mengkilap. Saat mbah menua dan berhenti jualan, aku yang merawatnya
setiap hari. Hal sekecil apa pun, aku yang dipanggil. Baik atau buruk, aku yang
kena. Pernah mbah menuduhku mencuri kebayanya yang tiba-tiba hilang di jemuran.
Di hari lain, dia menyalahkanku karena hujan turun tidak sesuai keinginannya.
Buat apa, coba, aku mencuri kebaya sepuh? Aku ini laki-laki, masih SMA. Pacar
pun tak punya.
Namanya orang tua, lama-lama tabiatnya makin mirip bocah. Kasihan juga
mbah. Dunianya pasti sepi,—bagaikan menonon drama pantomim panjang dari hari ke
hari. Tak ada suara, tak ada musik, tak ada senandung gending bali di kamar mandi lagi. Dulu dia suka mendengar gema
suara merdunya sendiri tatkala dia mandi. Tapi sejak dia tuli, nyanyiannya
lebih bisa kudengar seperti ratapan yang bertalu-talu.
Ceritanya, dulu mbah demam tinggi dan pendengarannya langsung mati total.
Semua suara tiba-tiba lenyap dari kehidupannya. Mbah syok berat waktu itu,
tetapi di akhir tahun dia sudah bisa memahami jalan cerita sinetron kaleng di
TV hanya dengan menerka gerakan bibir pemainnya.
“Coba kamu tutup telinga, Gilang,” demikian pinta mbah suatu hari. Dia
bersikeras kalau suara genderang itu terus terdengar.
Aku menuruti permintaan remehnya, hanya sebagai tanda bahwa aku menghormati
perintah orang tua, manut pada
tradisi timur yang adiluhur. Kututup kedua lubang telingaku dengan telunjuk
sampai tak setitik suara pun masuk.
Mbah memastikan aku benar-benar tak berisik dengan cara menaruh telunjuknya
vertikal di bibir.
“Eh?” aku kaget setengah mati. Mataku terbuka lebar-lebar. Tiba-tiba saja aku
mendengar suara genderang. Tun-tung-tung.
Jelas sekali. Seolah-olah dengungannya tepat ada di samping kupingku.
Mbah tercengir lebar melihat lagakku yang kebingungan setengah mati. “Tuh
‘kan, tiga ketuk,” katanya sembari mengacungkan tiga jemari kanan. “Mbah tidak
pernah bohong sama cucu.”
Aku mengangguk. Heran sejadi-jadinya. Kalau ada geledek meledak di samping
perempuan uzur mantan pedagang jajan itu pun, dia tak akan dengar. Aneh betul.
Apa yang menyebabkannya bisa mendengar suara genderang itu menjadi pertanyaan
yang sontak mengganggu batinku.
Tung-tung-tung. Tung-tung-tung.
Irama tiga ketuk. Terdengar dari balik tembok. Penasaran, aku beranjak ke
jendela, memeriksa ke balik tembok rumah. Tak ada siapa pun. Kututup lagi telinga.
Suara genderang itu terdengar lagi. Tiga ketuk. Dari arah pintu. Jelas sekali.
Aku jadi berangasan bercampur takjub. Kutengok pintu, tak ada seorang pun.
Mbah mengulum tawa melihat tingkahku. Bibirnya yang cokelat longgar
melebar.
Tung-tung-tung. Lagi. Kali itu di arah halaman. Berpindah begitu cepat.
Suaranya menggiringku kesana kemari, membangkitkan semua endapan rasa jengahku.
Demikianlah hari itu aku dibuat penasaran oleh irama genderang yang
lenyap-timbul itu, seperti bersahut-sahutan di satu pojok ke pojok lain, satu
arah ke arah lain. Tak bisa kuramalkan dari mana sumbernya akan muncul. Ajaib,
sekaligus menakutkan.
Hari berikutnya, kembali mbah heboh sendiri. Dia menyeretku dengan lengannya
yang kurus nan keriput, memaksaku duduk di tepi ranjangnya yang hangat.
Kemudian, mbah menempelkan telunjuknya di bibir, pertanda aku harus diam dan
dengar.
“Suaranya sekarang dua ketuk saja,” bisiknya. “Sudah sejak pagi tadi. Mbah
ikuti suaranya sampai ke pasar, tapi tidak ketemu.”
Waduh. Bahaya kalau mbah sampai ke pasar sendirian. Beberapa kali dia
memang nekad pergi ke pasar dengan hanya mengandalkan pengelihatannya yang
setajam elang dan senyum polosnya yang membuat semua pedagang iba. Kakinya
masih lumayan kuat berjalan sampai perempatan desa, menelisik berbagai jenis
pedagang rempah, lalu pulang membawa seikat serai dan sebuntal rerempah wangi
yang dibungkus daun jati. Baginya, itu semua harta karun. Dia akan menghabiskan
berjam-jam untuk melumat semua bahan itu dan dijadikannya lulur hangat.
“Mbah,” aku melebarkan gerakan mulutku agar bisa dibaca mbah. “Jangan pergi
ke pasar sendirian. Bahaya.”
Mbah cuma geleng-geleng. Entah dia sadar atau tidak bahwa kendaraan jenis
apa pun bisa menyerempetnya tatkala menyeberang. Klakson segarang apa pun tak
akan pernah mampu mengejutkannya.
Aku berdecak kesal, apalagi ketika mbah malah meraih kedua tanganku dan memaksaku
menyumbat lubang telinga dengan ujung telunjuk.
“Tutup telinga,” rengeknya dengan suara parau. “Baru kedengaran.”
Aku menutup telinga. Benar terdengar. Dua ketuk. Dari balik pintu, dari
belakang tembok. Sahut-menyahut.
Tung-tung.
Bulu tengkukku berdiri. Masa iya suara jantungku sebesar dan semerdu itu?
Dan bagaimana mungkin mbah mendengar sesuatu dengan saraf pendengaran yang
sudah keropos dan putus?
Tung-tung.
Aku menatap mbah yang malah terkekeh memperhatikan raut mukaku yang seperti
lutung ketakutan. Betapa bangganya nenekku itu. Walaupun tuli, dia masih bisa
membuatku kaget dan kebingungan.
Tak sampai seminggu kemudian, di sebuah senja yang hangat, mbah kembali memanggilku
dan berkata lirih setelah aku duduk di sebelahnya, “Gilang, sini,” panggilnya
separuh berbisik. “Kali ini ketukannya cuma satu.”
Kututup telingaku, berkonsentrasi.
Tung-tung.
Aku menunjukkan dua jari padanya. Dua ketukan. Sama seperti hari
sebelumnya. Dari balik tembok, dari belakang pintu.
Mbah menggeleng cepat. Dia menunjukkan satu jari. Dia hanya mendengar satu
ketukan. Kami berdebat singkat dengan mengacung-acungkan satu dan dua jari,
sampai akhirnya aku menyudahinya dengan seuntai senyum dan kecupan hangat di
keningnya.
Malam itu juga, sedikit lebih daripada separuh tengah malam, mbah menggedor
pintu kamarku sambil berseru lantang memanggil namaku. Seperti biasa, volumenya
sangat kencang, laksana mengusir burung-burung pipit di sawah.
Wajar buat anak SMA, aku nyaris tak pernah tidur pakai baju. Buru-buru
kukenakan pakaian seadanya, dan kubuka kunci pintu.
“Tidak kedengaran lagi,” semprotnya, bahkan sebelum aku bertanya. “Suaranya
hilang.”
Aku mendesah. Mungkin saraf pendengaran mbah sedang menggeliat-geliat
sehingga terjadi halusinasi pendengaran selama beberapa hari. Namun bagaimana
aku harus menjelaskannya kepada mbah adalah sebuah perkara pelik, serumit
misteri suara genderang yang juga kudengar sendiri.
Aku pun menutup telinga, “Masih dua ketukan,” ujarku sembari memberi tanda
jari.
Mbah menggeleng kecewa. Kali itu pasti dia sudah sangat frustrasi karena pendengarannya
benar-benar sudah binasa. Harapannya untuk bebas dari dunia pantomim itu pastinya
sudah lenyap. Aku kemudian memeluknya erat, mencoba menyerap sebagian rasa
gundahnya.
Esok paginya aku dibangunkan Pak Eko, si tukang parkir pasar yang
berkaok-kaok memanggilku sampai menggedor pintu.
“Gilang! Gilang!”
Pintu kubuka.
“Mbahmu!”
Beberapa orang datang tak lama kemudian. Menurut penuturan mereka, mbah diserempet
motor. Pengendaranya pemuda uring-uringan dengan isi kepala hanyut sebelah
dilulur miras. Jenazahnya kulihat tertutup kain, diangkat empat orang,
dikerubungi orang-orang yang syok.
“Mbahmu bilang, katanya mau cari tukang genderang,” tutur Bu Jami si dagang
bubur. “Tiba-tiba saja motor itu mengebut dan menyerempetnya.”
Aku lunglai. Sudah kularang ratusan kali dia pergi ke pasar.
Lalu kututup telinga, menghayati resah yang bercelincak, dan aku tertegun.
Tung!
Satu ketuk suara genderang. Di belakang pintu, di balik tembok. Hanya
sekali, lalu sekali lagi. Aku terus mendengarnya berdentung hingga detik ini
tiap kali aku menutup telinga. Tatkala suara-suara lain lenyap, aku bisa
mendengar suara genderang itu. Hanya sekali, lalu sekali lagi.
Jika kamu tak percaya, mungkin boleh kamu coba tutup telinga. Biasanya,
bila semua suara di luar sudah tidak kamu dengar lagi, kamu akan mendengar suara
genderang. mungkin sampai tiga ketukan. Kalau masih ada dua ketukan, kamu boleh
lega. Jika hanya tinggal satu ketukan, sebaiknya kamu mulai waspada.
Orang-orang yang pernah kamu caci maki, fitnah, hina dan sebagainya,—sebaiknya
minta maaflah pada mereka.
Tetapi jika tak ada suara genderang lagi yang kamu dengar, bersiap-siaplah dijemput kapan saja. Kamu selama ini memang benar-benar tuli! [T]
Mangupura, 7 Mei 2019