Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Tidak ada kesejahteraan tanpa desa. Demikian makna Jer Basuki Mawa Desa, tema yang diangkat Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) tahun 2019 ini. Kali ini akan memberikan apresiasi pada pewarta warga, media warga, dan pegiat literasi digital di seluruh Indonesia.
AJW tahun ini dilaksanakan oleh BaleBengong dan Combine Resource Institution (CRI), dua organisasi pengampanye media warga yang berbasis di Denpasar dan Yogyakarta. BaleBengong adalah media jurnalisme warga di Bali dan membuat sejumlah program peningkatan kapasitas warga serta literasi digital sejak 2007. Sementara CRI telah bergiat bersama media komunitas di seluruh nusantara selama delapan belas tahun serta turut mengembangkan sistem informasi desa (SID) sejak tahun 2008.

Dalam AJW tahun ini, warga diundang mengirimkan karya baik tulisan, video, dan audio terkait praktik baik dan inspiratif dari desa seperti tata kelola pemerintahan, kesukarelawanan, transparansi, pelestarian lingkungan, akses disabilitas, potensi desa, dan lainnya. Ada tiga kategori yang bisa diikuti yakni pewarta warga, media warga, dan pegiat literasi digital.
Media Warga adalah media yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh kelompok warga non-perusahaan pers (non profit), tidak berafiliasi dengan partai politik, maupun pejabat publik. Selain mendaftarkan diri, warga juga bisa mengusulkan media warga favoritnya yang berkontribusi terhadap perubahan sosial di komunitasnya.
Sementara kategori Pewarta Warga bisa diikuti siapa saja yang memiliki produk jurnalistik yang dipublikasikan melalui media daring (online) dan non daring (offline) tergantung aksesibilitas di media warga seluruh Indonesia. Pendaftar menunjukkan minimal satu produk jurnalistik yang dinilai telah membawa perubahan bagi komunitasnya. Karya dapat berupa tulisan, video, foto, dan ilustrasi (komik, infografis, dll).
Kategori Pegiat Literasi Digital adalah individu atau komunitas yang mendorong perubahan aktif dan memadukan penggunaan media daring (online) dan aktivitas luring (offline). Perubahan aktif ini terkait praktik baik dan inspiratif dari desa, atau menyebarkan literasi digital yang dilakukan atau digaungkan melalui media daring seperti media sosial, blog, dan lainnya,
Uraian syarat dan ketentuan, serta form pendaftaran bisa diunduh di website balebengong.id dan combine.or.id paling lambat 20 Mei 2019. Atau mengirimkannya ke email: kabar@balebengong.id dan redaksi@combine.or.id.
Pengumuman peraih apresiasi AJW akan dilaksanakan saat puncak AJW 2019, 29 Juni di Bali. Pemenang juga akan diundang ke Bali menghadiri sejumlah kegiatan. Di antaranya diskusi bersama Dewan Pers tentang situasi dan kondisi media warga serta pertemuan nasional pegiat media warga.
AJW tahun ini mengundang Dandhy Dwi Laksono (Videografer), Ahmad Nasir (Pegiat Media Warga), Luh De Suriyani (BaleBengong), dan ICT Watch sebagai penyeleksi karya. ICT Watch, perintis kampanye Internet Sehat ini adalah lembaga pendukung AJW 2019 khususnya di kategori Pegiat Literasi Digital.
Masa depan media warga
Internet memberikan banyak peluang, termasuk bagi berkembangnya media-media komunitas di Indonesia. Seiring tumbuhnya media-media berorientasi bisnis, subur pula media-media berbasis sangat lokal (hyper local) yang dikelola secara nirlaba. Media-media ini tumbuh sebagai wakil warga atau ruang warga untuk bersuara.
Secara sederhana karakter media komunitas ini antara lain dikelola dari oleh untuk warga, tidak berafiliasi kepentingan ekonomi korporasi maupun politik praktis, dan menjadi alat untuk advokasi warga sekitarnya. Dalam aras yang sama media komunitas ini bisa berupa media jurnalisme warga ataupun yang dikelola komunitas.
“Untuk memudahkan, kami menyebutnya media warga (citizen media), di mana media jurnalisme warga dan media komunitas, termasuk di dalamnya,” ujar Anton Muhajir, Pemimpin Redaksi BaleBengong.
Namun, media-media warga ini menghadapi banyak tantangan. Selain tantangan keberlanjutan, media-media yang sebagian berbasis internet ini juga menghadapi risiko kriminalisasi terhadap pengguna internet (warganet). Tidak hanya kepada pengelolanya itu sendiri, tetapi juga pada warga sebagai kontributor.
Penyebabnya, antara lain, karena belum adanya pengakuan secara legal formal terhadap media warga seperti halnya perusahaan media dari Dewan Pers. Media warga masih ditempatkan di kuadran “abu-abu”. Media warga diharuskan memenuhi syarat administratif yang sama dengan media arus utama.
Padahal, dalam perjalanannya, media-media warga ini bisa menjadi penyeimbang ketika media-media arus utama makin terjebak pada komersialisasi. Dengan karakter khasnya, dikelola secara nirlaba dan terbuka pada partisipasi warga, media-media komunitas mampu memperjuangkan kepentingan warga, menyampaikan kabar baik, atau mengawasi pelayanan publik yang mereka alami sendiri sehari-hari. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia sendiri beberapa tahun ini sudah merangkul pewarta warga sebagai anggota dengan syarat khusus misalnya memiliki karya minimal 12 per tahun, mendapat rekomendasi, dan lainnya.
Berangkat dari tantangan tersebut, media jurnalisme warga BaleBengong dan Combine Resource Institution (CRI), berkolaborasi untuk memberikan apresiasi melalui Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019. “Semoga semangat warga berdaya meluas, meningkatkan kualitas karya, dan memberi dampak langsung,” pungkas Imung Yuniardi, Direktur CRI. [T] [*]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...