Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Di tulisan ne, jeleme ne lakar nyatua kidik bagaimana sebenarnya pandangan saya mengenai, sikap, dan rasa seorang actor dalam menyikapi sebuah karya pementasan dalam katagori drama modern yang disutradarai oleh berbeda-beda orang menurut tiyang ngih, hehe..
Di coretan ini saya akan menceritakan sedikit aja lo ya tentang studi kasus proses berlatih untuk pementasan drama modern Komunitas Senja yang berjudul Sang Guru. Naskah ini adalah karya Hendra Irwanto atau biasanya dipanggil Eyang Utay. Ditulis ulang atau diadaptasi oleh Komang Adi Wiguna selaku penulis naskah dan Sutradara.
Masih belum lepas dari ingatan saya ketika ditahun-tahun sebelumnya sempat mementaskan lakon Presiden Kita Tercinta untuk sebuah perlombaan teater waktu itu. Berkaca dari pementasan sebelumnya, menjalani sebuah proses mementaskan sebuah drama modern gampang-gampang susah. Men bes serius gen jelek masih, men bes leyeh-leyeh jelek masih kuks.. hahahaha..namanya saja hobi bisa diaturlah.
saya lupa menghitung berapa kali menjalani sebuah proses berlatih teater dari semenjak SMA. Maklum, dulu orientasi hidup masih bermain-main dengan masa muda walaupun sekarang sama saja. Seingat saya jaman itu saya bersama genk teater SMA (waktu itu Teater Topenk) mengikuti Pekan Seni Remaja yang terdapat nomor Drama Modern didalamnya. Sekitar 2 kali mengikuti ajang tersebut lalu tiba-tiba nomor pementasan itu dihapus dan sudah tidak ada lagi PSR sungguh sangat disayangkan.
Menginjak dari tahap itu, sampai hari ini kira-kira mungkin ada 15 proses pementasan termasuk monolog yang sudah saya lalui dengan berbeda-beda sutradara. Unfortunately, setiap insan manusia sepertinya sudah ditakdirkan memiliki kekurangannya masing-masing. Perbedaan ambisi, karakter, sifat,sikap, berbicara, berpikir, bertindak, merasakan, empati seakan sudah menjadi curse yang dibawa semenjak lahir. Nah hal inilah yang bergejolak selama proses pementasan tadi.
Menurutku peran sutradara disini adalah segalanya. setiap sutradara sudah tersirat memiliki keunikannya masing-masing dalam membina aktor-aktornya. Untuk kita menyikapi keunikan ini, point pentingnya yaitu teori gelas kosong. kalo ada yang kurang paham dengan teori ini monggo tanyak sutradaranya hahha..
Setiap pengalaman melewati proses pementasan itu sama sekali tidak sama dengan menjalani proses pementasan sebelumnya. Dibutuhkan kerja sama dengan hati dan tubuh untuk selalu meredam ego, menjaga mood, dan menggali kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya sebagai seorang aktor. Ingat sekali lagi, ini hanya hobby. Hobby tidak akan asik kalau tidak dijalani dengan alasan pertama kita menyukai hobby tersebut.
Alasan saya menulis ini pun berdasarkan hobby dan sama sekali tidak ada rasa keterpaksaan untuk belajar,belajar,dan belajar dan jadilah hobby baru, hehe..tetapi kembali lagi ini hanya opini dan apa yang saya rasakan selama ini menghadapi panggung teater.
Pengalaman proses pementasan Sekali Pentas dan Komunitas Senja dari awal tahun 2019 hingga saat ini sebagian besar memberikan saya pandangan-pandangan bagaimana menyikapi,mengendalikan, dan menge-push kemampuan saya dalam olah keaktoran ini.
Akhirnya walau siapapun itu sutradaramu, adalah tugas kita sebagai aktor untuk selalu mendukung ide-idenya. Adalah tugas kita untuk terus mencari dan menggali lagi pengkarakteran tokoh yang kita lakonkan, adalah tugas kita untuk selalu berkomunikasi sesama lawan main untuk saling menyelamatkan scene dan adalah tugas kita nantinya dipanggung untuk selalu sadar dan lakukan apa yang telah kita latih sebelumnya.
Satu hal yang saya sering rasakan adalah ketenangan untuk mementaskan lakon itu mutlak harus dicari oleh masing-masing aktor. Bagaimana cara mencarinya? Sudahlah, ini cuman hobby yo, hahaha… Jika saya rusak teater itu dengan ketegangan,kekakuan,keegoan,kemoodyan, so seberapa asyik lagikah teater itu? [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...