SEKITAR pukul 12.30 Selasa (14/5) siang, ponsel saya bergetar.
Segera saja saya mengecek pesan yang masuk. Ternyata pesan itu berasal dari I
Komang Mudita, salah seorang guru di SMKN Bali Mandara.
Ia mengirimkan pesan berikut sebuah foto lembaran surat
undangan. Dalam surat itu, pihak sekolah mengundang saya menjadi interviewer pada
acara boot camp yang diselenggarakan sekolah.
Acara boot camp sendiri sebuah acara krusial
pada proses penerimaan peserta didik baru di SMAN maupun SMKN Bali Mandara.
Siswa yang diterima di sekolah Bali Mandara, akan terlihat pada boot
camp.
Tahun ini, merupakan tahun ketiga saya menjadi interviewer di
SMKN Bali Mandara. Beberapa rekan wartawan lain juga ada yang menjadi interviewer di
SMKN Bali Mandara maupun SMAN Bali Mandara.
Selama tiga tahun ini, berbagai cerita sudah saya dengar dari
calon siswa di SMKN Bali Mandara. Bila tiap tahun saya melakukan interview terhadap
15 orang siswa, artinya hingga kini saya sudah mendengar 45 cerita berbeda dari
para siswa.
Setiap kali saya mendapat kepercayaan menjadi interviewer di
SMKN Bali Mandara, saya berusaha melakukan tugas sebaik-baiknya. Mengingat
sekolah ini didedikasikan bagi warga miskin yang ingin mengubah nasibnya. Siswa
yang sekiranya layak, pasti akan mendapat nilai yang besar dalam proses interview.
Cerita yang saya dengar bermacam-macam. Mulai dari cerita yang
demikian ambisius untuk menembus sekolah, cerita yang lucu, maupun cerita yang
menyedihkan. Tentu saja sebagian besar cerita yang menyedihkan.
Tiap kali interview, saya selalu menemui siswa yang
menangis. Bahkan tangis mereka sudah pecah ketika mereka baru saja masuk
ruang interview. Calon siswa menangis bukan karena kami yang
melakukan interview itu punya wajah menyeramkan. Tapi mereka
menangis karena menceritakan kondisi keluarga yang serba sulit.
Hal ini tentu saja menyulitkan. Waktu ideal melakukan interview antara
15-20 menit. Namun bila ada siswa yang menangis saat proses interview,
maka waktunya bisa molor menjadi 30-45 menit.
Berbagai cerita unik pun pernah saya dengar. Misalnya saja ada
siswa yang kehilangan sahabat, sejak keluarganya jatuh miskin. Semenjak itu
pula siswa ini menjadi seorang introvert. Tak percaya pada siapa pun lagi. Ia
berusaha masuk ke SMKN Bali Mandara, untuk memulihkan keluarganya dari titik
nadir. Termasuk memulihkan kondisi psikisnya sejak beberapa tahun terakhir.
Ada pula calon siswa yang punya delapan saudara kandung. Siswa
ini tinggal di sebuah desa yang ada di kaki Gunung Agung. Untuk menemukan
rumahnya perlu waktu 1 jam jalan kaki. Nah siswa ini adalah satu dari dua
saudaranya yang punya pendidikan SMP. Selebihnya putus sekolah saat kelas 3 SD,
atau saat sudah mahir baca-tulis-hitung.
Sekolah di Bali Mandara adalah satu-satunya harapan. Kalau tidak
diterima, ia tidak akan sekolah. “Sekolah jauh, tidak ada biaya. Kalau tidak
diterima ya nanti bantu bapak cari tuak jaka,”
ujar siswa itu polos.
Cerita lainnya juga tak kalah menarik. Seorang calon siswa
dengan terpaksa mendaftar ke SMKN Bali Mandara. Keluarganya begitu miskin.
Siswa ini berasal dari keluarga broken home. Ibunya bekerja sebagai
buruh cuci atau buruh setrika dengan penghasilan tak menentu. Siswa ini dipaksa
ibunya sekolah di Bali Mandara, demi mengubah taraf hidup keluarga. Namun siswa
ini justru tidak sanggup hidup berasrama di Bali Mandara.
“Saya nggak kuat masuk asarama. Lebih baik
saya nggak sekolah, daripada sekolah di sini,” ujar siswa itu.
Siswa ini lebih memilih menuntaskan pendidikannya hingga SMP saja, lalu bekerja
sebagai buruh serabutan. Baginya ikut boot camp hanya untuk
menyenangkan ibunya.
Sebuah cerita ambisius juga sempat saya dengar. Seorang siswi,
begitu ingin sekolah di SMKN Bali Mandara. Jurusan yang ia cari, sungguh
anti-mainstrem di kalangan perempuan. Biasanya siswi hanya mencari jurusan
Teknik Komputer Jaringan atau jurusan Desain Permodelan dan Informasi Bangunan
(DPIB). Namun siswi satu ini justru memilih jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif
(TKRO).
Siswi ini mengaku sudah biasa melakukan servis sepeda motor.
Mulai dari ganti oli, tambal ban, maupun ganti ban motor. “Ganti ban truk juga
saya bisa pak. Tapi masih dibantu bapak. Saya ingin buktikan kalau perempuan
itu bukan makhluk lemah,” ujar siswi itu berapi-api.
Sisanya cerita-cerita normatif seputar kemiskin, keterbatasan pendapatan, jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal, maupun keluarga yang berantakan. Sejujurnya hingga kini, dari 45 siswa yang pernah saya interview itu, saya tak tau siapa saja yang akhirnya diterima di SMKN Bali Mandara.
Hingga kini dokumen interview dan resume wawancara para calon siswa masih saya simpan dengan baik. Tak pernah pula saya tanyakan pada pihak sekolah, siapa saja yang diterima. Biarlah itu menjadi sebuah rahasia. Saya yakin, setiap orang berhak mendapat pendidikan yang layak. Sekalipun mereka berasal dari keluarga miskin. [T]