Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Bersepeda bukan sekadar olah raga kardio untuk melatih jantung. Dia adalah jenis olah raga yang kompleks. Dengan bersepeda kita bisa mencintai alam. Bisa untuk rekreasi. Itulah kenapa even bersepeda bisa dikaitkan dengan promosi pariwisata.
Saya termasuk beruntung menekuni hobi ini. Dulu, sekitar enam tahun lalu, saat sepeda lagi booming, saya dipaksa membeli sepeda gunung oleh teman-teman di kampung. Setelah setahun menggeluti hobi ini, kemudian hanya saya, Made Puja dan Dek Abet yang bertahan. Sedangkan tujuh teman saya yang lain, entah pada ke mana.
Seiring menyurutnya booming sepeda itu, surut juga semangat teman-teman yang lain. Ada teman yang menjual sepedanya, beberapa lagi menyimpan sepeda mereka di gudang masing-masing, sampai menjadi sarang laba-laba dan berkarat. Saya adalah korban dari hobi yang hangat-hangat tahi ayam itu. Tapi, tahi ayam saya tampaknya masih hangat sampai sekarang, dan saya masih eksis dan aktif bersepeda.
Akhir-akhir ini hobi bersepeda kembali merangkak jadi tren. Even-even fun bike diadakan di beberapa tempat. Tiap hari minggu sering ada acara fun bike. Bahkan bisa ada dua acara fun bike dalam sehari di dua kota berbeda, yang membuat para komunitas bersepeda bingung memilih. Angka penjualan sepeda ikut terkerek.
Banyak organisasi dan institusi yang tiba-tiba mengadakan fun bike, sambil menyelipkan tema lain yang positif. Seperti kementerian ESDM yang melakukan kampanye hemat listrik melalui acara fun bike. Pesan-pesan hemat listrik begitu efektif disebarkan lewat acara ini. Begitulah, bersepeda memang betul-betul kompleks.
Tersebutlah Yayasan Atlit Nusantara, yang konsisten mengadakan even bersepeda. Yayasan ini tidak terpengaruh oleh pasang surutnya hobi bersepeda. Walau booming sepeda surut, yayasan ini tetap ada dan aktif mengadakan even.
Yayasan yang diketuai Pak Wayan Kertayasa. Pak Wayan Wisnaya, Gede Cakra dan Kadek Dwipayana, para penghobi sepeda yang militan, juga ikut terlibat mengelola yayasan ini. Beberapa jenis even diadakan yayasan ini tiap tahun. Kalendernya penuh dengan acara bersepeda. Berbeda dengan acara-acara fun bike yang ringan, even-even bersepeda yang diadakan Yayasan Atlit Nusantara berskala lebih luas dan lebih serius.
Seorang pemula, yang masih hijau dalam dunia bersepeda, memang tidak disarankan ikut di acara ini. Seperti acara Bali Mountain Bike Marathon, yang diadakan kontinyu tiap tahun. Bersepeda cross country di seputaran Gunung Batur, di kaldera-nya Gunung Batur yang indah. Ini even yang berat. Medan cross country sepanjang 80 kilometer, naik dan turun. Sungguh menantang. Menguras ribuan kalori.
Even bergengsi ini diikuti para pembalap nasional dan internasional, untuk kategori Men Elite. Ada juga kategori master untuk peserta yang sudah berumur. Saya hanya bisa membaca ulasan lomba itu lewat internet. Itu betul-betul even yang sulit dan membuat nyali ciut. Jangankan meraih podium, mencapai finis dan memperoleh finisher medal saja susah. Konon, ada cerita, seorang peserta baru tiba saat panitia bersiap-siap mau pulang.
Yayasan ini juga tiap tahun menyelenggarakan roadbike tour, Bali Audax. Keliling Bali sepanjang 400 kilometer menggunakan sepeda balap. Para peserta dilepas di sebuah hotel di Nusa Dua, menyusuri jalanan pesisir pantai di Kabupaten Tabanan sampai Jembrana, kemudian finis etape pertama di pantai Lovina. Menginap di sebuah hotel di pantai Lovina.
Besoknya melanjutkan perjalanan etape ke dua lewat Bali Timur sampai ke Nusa Dua kembali. Pesertanya kebanyakan wisatawan mancanegara, bule-bule yang tentunya sudah terlatih bersepeda jarak jauh. Kalau ada bule yang masih pemula nekat ikut even ini, siap-siaplah diangkut dengan mobil. Even ini juga kadang diadakan di luar Bali, yang bernama Komodo Audax.
Even terbaru dari Yayasan Atlit Nusantara adalah Gietman Roadbike Tour. Menurut Pak Wayan Kertayasa, gietman berasal dari bahasa Bali giet dan dari bahasa Inggris man. Giet (megiet), mungkin semua orang Bali mengerti arti kata ini. Contohnya ekspresi ketika seseorang mengangkat beban berat, atau seorang ibu dalam proses melahirkan buah hatinya.

Gietman Roadbike Tour adalah tur sepeda sepanjang 100 kilometer, selalu start dari toko sepeda Rodalink yang merupakan pihak sponsor. Saat diperkenalkan gietman ini, para peserta sering sengaja menunjukkan ekspresi megiet dengan raut wajah lucu-lucu di depan kamera. Saya juga ikut melakukannya. Ketika melihat kamera dari jauh, saya pacu sepeda sekencang-kencangnya sambil megiet, tapi keburu ketawa…hehehe.
Dari awal sampai sekarang, saya selalu ikut di even ini. Biasanya setahun diadakan dua kali, Gietman seri 1 dan Gietman seri 2. Tempatnya berpindah-pindah. Kadang ke Bangli, kadang ke Jatiluwih, dan terakhir ini rute-nya Denpasar – Tukad Bangkung. Ini even tur dan juga lomba.
Dari Toko Rodalink Denpasar kita tur bersama-sama, kemudian di titik yang telah ditentukan ada lomba kecepatan sepanjang 4 kilometer. Ada aplikasi Strava untuk menghitung kecepatan para peserta, dan setiap peserta harus mengaktifkan strava-nya masing-masing. Aplikasi ini terhubung dengan GPS. Siapa yang mencatatkan waktu paling sedikit mencapai garis finis, dialah sang juara.
Saya hanya sebagai penggembira, tidak pernah berambisi mencapai podium. Maklum sudah tua, usia 42. Biarlah mereka yang muda-muda dan terlatih yang meraih itu. Yang penting saya bisa ikut gembira bersepeda, menikmati pemandangan sambil mencari kawan. Badan sehat, stress pun reda.
Even Bali Mountain Bike Marathon kemudian bermetamorfosis menjadi Gietman Mountain Bike, dengan jarak yang dipangkas. Berbeda dengan Gietman Roadbike Tour dengan medan jalan raya yang mulus, Gietman Mountain Bike menggunakan sepeda gunung di medan off-road. Rute-nya mendekatkan diri dengan alam. Wisata sepeda yang digabungkan dengan lomba.
Rencananya Gietman Mountain Bike 2019 akan diadakan di Tabanan. Di Kecamatan Selemadeg Timur. Di daerah ini banyak medan tegalan. Banyak lembah dengan pemandangan sawah yang indah. Jalan naik turun. Sebagai tuan rumah, saya pasti ikut. Tapi tentunya sebagai penggembira saja, untuk meramaikan, bukan berambisi meraih juara. Setidaknya bisa memperoleh finisher medal untuk menambah koleksi.

Even ini sangat bermanfaat untuk Tabanan ke depan. Memperkenalkan Tabanan ke dunia luar. Apalagi banyak bule yang ikut. Ini bisa menjadi paket wisata bersepeda nantinya, sehingga ada banyak pilihan paket wisata bagi pelancong yang datang ke Bali. Wisatawan semakin banyak yang datang, menghabiskan dollar mereka di sini, dan menjadi sumber pemasukan devisa bagi negara untuk menggeliatkan perekonomian.
Terbayang asyik dan serunya even Gietman Mountain Bike 2019 yang untuk pertama kali diadakan di Tabanan nanti. Beramai-ramai membelah persawahan di lingkungan Selemadeg, sambil memancarkan aura hidup sehat, agar hobi bersepeda tetap booming. Peserta diperkirakan mencapai 200 orang.
Tanpa pikir panjang saya mendaftar, membayar lewat transfer rekening. Moga-moga tidak ada halangan, sehingga di hari H saya betul-betul bisa hadir. Dan pasti, di akhir acara saya akan menulis tentang acara ini sesuai sudut pandang saya.
Yuk, teman-teman, ayo kita ikuti Gietman Mountain Bike 2019 yang akan diadakan di Tabanan, tanggal 21 April 2019 ini. Jangan sampai ketinggalan. Percayalah, Tabanan sebagai lumbung padi, menyimpan pemandangan persawahan yang indah. Sambil bersepeda kita mendekatkan diri dengan alam. Kita butuh menghirup oksigen bersih. Mengakrabi sawah. Yok ayo! [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...