Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Ini kunjungan kedua kawan-kawan kami dari Teater Orok dalam rangkaian pementasan keliling yang mereka adakan setiap tahun. Kali ini mereka datang untuk mementaskan sebuah drama berjudul “Beruang Penangih Hutang”, karya Anton P. Chekov dan diterjemahkan oleh Landung Simantupang.
Kami, anak-anak dari Tetaer Kampus Seribu Jendela, bertindak selaku tuan rumah.
Sabtu itu, teman-teman teater Orok sampai di Kampus Bawah Undiksa. Sesuai kesepakatan kami dalam chat mereka akan pentas di basement Kampus Bawah Undiksha. Selain wantilan, tampaknya belakangan basement sepertinya menjadi tempat yang paling sering digunakan untuk mentas teater.
Sudut-sudut basement diperhatikan, mencari ruang yang sekiranya bisa selaras dengan naskah yang akan dibawakan. Di basement memang ada berapa ruangan dengan sekat pintu. Tapi ya terkunci rapat dan tak bisa digunakan.
Setelah itu mereka mulai mencari property-properti untuk mentas. Saya menawarkan mereka untuk berkeliling. Ya dikampus ini banyak sekali kursi, meja dan barang-barang lainnya yang sudah tak bisa dipakai kareana terkoyak. Terkoyak usia dan terkoyak mahasiswa, haha.
Lumayan lama mereka berkeliling. Sekali dayung dua pulau terlampau. Saat mencari property yang sekiranya bisa “dipinjam”, mereka juga menemukan ruang yang sempurna digunakan untuk mentas. Tiga sapu lidi dan salu kain pel.
Beperan membersihkan lantai di ujung basement sebagai tepat mentas. Property dibawa satu-persatu dari rumah De Ogie, pimpinan produksi. Lampu juga sudah mulai disiapkan.
Sekitar pukul 18.00 WITA hujan dan petir datang bersamaan. Sudah mulai dag-dig-dug saya. Bagaimana pementasannya? Ya, kami medapat sedikit hadiah. Tempat yang akan digunakan mentas digenangi air. Setelah hujan mereda mulailah anak-anak Terater Kampus Seribu Jendela bersama anak-anak Teater Orok meyapu air ke tepi lain. Itu seperti jadi teater pendahuluan.
Hujan membuat surat udangan yang telah disebar tak dapat dipenuhi kawan-kawan kami dari komunitas teater lain.
Pementasan dimulai
Sorang wanita berdiri di pojok ruangan sambil memandangi foto pria tua pada tembok putih di ruang tengah. Pakaian serba hitam dan rambut dicepol rapi. Menggambarkan suasana hatinya yang sedang berkabung. Masuk satu pemain laki-laki berperan sebagai pembantu. Pembawaannya kocak. Satu pemain lagi datang dari pintu luar. Datang dengan wajah garang. Pembawaan kasar.
Cerita “Beruang Penagih Hutang” ini dikemas dengan banyak rasa. Ada lucu, tegang, dan di akhir ada taburan drama. Berpelukannya wanita berkabung dan si laki-laki garang di awal cerita. Kami yang menonton adalah remaja. Tentu saja menjerit histeris dibuatnya. Bagaimana jalan cerita berlangsung tidak dapat saya gambarkan dengan lengkap. Tapi bagian menarik lainnya yaitu sesi diskusi. Akan coba saya rangkum di sini.
Pujian, pujian tentang bagaimana mereka memilih ruang untuk pentas. Bagaimana mereka melakukan setting tempat yang begitu cerdas. Tak ada tempat menempel atau menggantung lampu pementasan. Tapi mereka tak habis akal.
Dengan menyambung kayu pel mereka membuat lampu pementasan itu berdiri sesuai kebutuhan. Pemanfaatan dua pintu, dan tangga juga mantap. Kak Manik Sukadana selaku pembina teater Ilalang juga melemparkan pujiannya tentang pemilihan tempat. Yang memang setiap tahunnya selalu mengagumkan. Katanya Kak Manik sendiri yang sudah hampir lima tahun melewati tempat-tempat itu tak pernah kepikiran untuk menjadikannya panggung mentas.
Bahkan sepertinya hujan yang turun juga ikut berperan menambah situasi berkabung dalam drama itu. Karena genangan air kain hitam diletakan didepan pintu. Itu juga dihitung sebagai detail suasana berkabung oleh pembina teater Lalang, Kak Anggara Surya. Bagaimana mereka membuat kloter dalam pemetasn keliling ini juga tak kalah mengangumkan. Jadi tiap orang medapat giliran sebagai pemain, dan orang-orang dibelakang panggung.
Kak Rahatri, pembina Teater Dari Utara, kak Nur Hidayat dari Komunitas Puntung Rokok dan beberapa kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela juga melempar pujian. Dan juga pertanyaan semua ditanggapi dan dijawab rinci oleh kawan-kawan Teater Orok.
Diskusi yang sangat asik. Diskusi yang benar-benar memberi sesuatu untuk masing-masing diri kami. Diskusi, ngobrol kami akhiri dengan foto bersama hari itu. Dokumentasi penting juga haha. Sekian. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...