“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Hening itu dalam pikiran masing-masing. Hening itu pada diri masing-masing. Hening itu pada lingkungan masing-masing. Mana mungkin mencari hening keluar, jika dalam hati dan pikiran hening tidak bermukim. Mana mungkin hati dan pikiran hening, jika di luaran sana situasi sedang keruh. Intinya, hening itu berasal dari dalam dan luar diri masing-masing.
Ngomong selalu gampang. Giliran diuji keadaan, keruh itu-itu juga yang menenggelamkan. Boleh saja bikin puisi sekardus, tapi yang namanya perasaan siapa tahu kan? Biasanya yang namanya perasaan tetap begitu-begitu saja. Sedikit saja lengah, maka dia akan jatuh terpuruk pada kesedihan yang tidak bisa dijelaskan. Kesedihan bisa diterjemahkan begini “yang ditemui bukanlah yang dicari, yang datang bukan yang dinanti”.
Saat kesedihan itu datang, boleh saja bikin tulisan se-bus besar, tapi siapa yang menjamin kalau kesedihan yang keruh itu bisa hilang kemudian? Saya tidak ingin mengatakan kalau perasaan-perasaan semacam itu tidak baik. Bahkan kesedihan bisa menyediakan dirinya sebagai benih banyak hal. Bukan hanya tulisan, tapi juga cara hidup. Contohnya Sutasoma, tokoh sentral pada kakawin Sutasoma atau Purusadhasanta, sedih karena melihat penderitaan orang lain, lalu berhasil mengatasinya dan menjadi Buddha.
Keheningan yang kita bicarakan kali ini, sudah menjadi topik hangat pada jaman dahulu. Seringkali keheningan itu dihubungkan dengan Bulan dan bayangannya. Bulan berada di atas, dan bayangannya ada pada air telaga. Di telaga itu hiduplah seekor burung Cangak. Cangak itu, diam-diam merindukan Bulan. Boleh kan saya rubah sedikit peribahasanya? Cangak merindukan Rembulan. Si Cangak itu, ingin bertanya kepada Bulan. Begini “Apa yang bisa hamba temukan di telaga ini selain bayang-bayang Puan?”.
Bayangan bulan di dalam telaga konon adalah ciri keheningan. Hanya setelah heninglah segala yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa dipikirkan. Segala yang tidak diketahui bisa diketahui. Bahkan segala yang samar-samar bisa menjadi jelas. Begitu rumusnya menurut Mpu Kano. Siapa Mpu Kano? Beliau adalah penanggungjawab kakawin Arjunawiwaha. Beliau lebih dikenal dengan nama Mpu Kanwa.
Selain Mpu Kanwa, ada lagi penyair yang tergila-gila pada rembulan. Namanya Rumi. Dia dengan senang hati menjadi budak bagi Rembulan. Ia berkata “Akulah budak sang bulan. Ini satu-satunya yang ku ingin. Jadi Jangan banyak bicara padaku tentang yang lain daripada bulan, lilin, rasa manis gula”. Begitulah, Bulan dan bayangannya di dalam telaga adalah hening. Hening yang kita cari beramai-ramai.
Ada banyak karya shastra yang lahir dari permenungan terhadap pencarian hening ini. Bahkan ada salah satu jenis karya shastra kakawin yang khusus membicarakan cara mengadakan hening. Apalagi jika membaca teks-teks yang agak tua, seperti teks tutur dan tattwa, itu pembicaraan super duper buanyak. Kebanyakan teks itu berbahasa Jawa Kuna, jadi untuk mengerti, seseorang musti memahami bahasanya.
Salah satu contohnya mari kita baca ungkapan berikut ini; amrati mani karnni yatika ni mesya taya sah. Amrati berarti memberati. Mani berarti permata. Karnni adalah telinga. Yatika berarti itu. Ni adalah partikel penghubung. Mesya berarti berisi. Taya berarti tidak. Sah berarti lepas. Jika digabung menjadi “memberati permata telinga itu berisi tidak lepas”. Apa maksudnya?
Hasil terjemahan sepenggal-sepenggal di atas, akan saya sesuaikan sedikit. Kata taya yang berarti tidak, bisa berafiliasi dengan kata “ketiadaan” atau “kekosongan”. Kata “memberati permata telinga” saya artikan bahwa kemampuan yang dimiliki telinga itulah yang diberatkan atau dikonsentrasikan. Kemampuan telinga tentu saja adalah mendengar. Jadi ungkapan tadi setelah saya sesuaikan, menjadi “telinga mendengar isi ketiadaan yang seolah lepas”. Bagaimana telinga mendengar isi ketiadaan? Jawabannya bisa didapat dengan menutup telinga!
Ungkapan tadi yang kita bicarakan, adalah kata-kata Kresna kepada Nilacandra dalam sebuah karya shastra kakawin berjudul Nilacandra atau Siwa-Buddhakalpa. Ungkapan itu dikatakan oleh Kresna saat membahas tentang tahapan yoga. Penjelasan selanjutnya adalah tentang bagaimana cara-cara beryoga. Penjelasan lanjutan itu tidak saya terangkan pada tulisan ini. Bukan karena pelit, tapi penjelasannya sangat teknis dan panjang. Tangan Cangak saya yang mungil ini pun mulai kelelahan. Maaf.
Maksud saya menunjukkan ungkapan itu, hanya karena saya ingin menunjukkan bahwa keheningan itu memang dicari-cari. Bahwa keheningan itu bisa didapat dengan menutup telinga, adalah salah satu jalannya. Tentu saja, keheningan bisa didapat dengan cara yang lain. Tapi jalan termudah dan terdekat adalah dengan menutup telinga. Bisa juga ditambah dengan menutup mata. Jangan dulu menutup hidung, dan mulut, nanti tidak bisa bernafas.
.
CANGAK YANG LAIN:
.
Oh iya. Hampir saya lupa. Saat saya ketik tulisan ini, di luar sedang hujan. Ibu sedang menyapu. Saya tahu itu, bahkan saat saya tidak melihatnya. Saya diberitahu oleh indera yang lain, suara sapunya sampai ketelinga saya. Bapak mungkin sedang di Pura karena besok Purnama. Besok adalah hari dimana bulan bersinar penuh menurut perhitungan wariga. Bulan Purnama Kadasa adalah bulan indah yang saya nanti-nanti.
Pernah sekali waktu saya perhatikan, pendar bulan saat Purnama Kadasa berbeda dengan yang lain. Di sekeliling rembulan, terlihat cahaya lain seperti cahaya berlapis-lapis. Mungkin itu yang disebut makalangan oleh nenek saya dahulu.
Di antara segala bentuk keindahan yang ditawarkan bulan purnama. Pikiran menghianati situasi. Ia jauh-jauh pergi ke New Zealand. Tapi karena ia sangat cepat, jarak menjadi tidak berarti. New Zealand adalah nama tempat yang dari dulu saya dengar penuh kedamaian, tapi di tempat itu pula banyak orang meninggal karena kedamaian itu dikhianati. Entah apa sebabnya. Ada yang bilang karena agama.
Tapi agama adalah akhlak yang bagai perahu untuk menyeberangi lautan tidak hanya dengan pandangan. Setidaknya itu yang dikatakan Syekh Fattaah dalam Gubahan Pecinta (A Travel Guide). Agama adalah Sang Hyang, yang berarti sangat mulia dan dihormati. Setidaknya begitu menurut penuturan teks-teks lontar sehingga ia disebut Sang Hyang Agama. Lalu apa sebabnya? Saya tidak mau berasumsi, atau berspekulasi. Katakanlah saya pengecut, bahkan untuk sekadar spekulasi.
Belum lagi habis pikiran itu menjelajahi bagian dunia lain, saya hanya bisa melihat berita-berita tentang banjir dan gempa yang melanda. Konon situasi itu, bisa disiasati dengan suatu cara. Jika ada gempa, berlindung pada tanah lapang. Jika ada badai dan petir menyambar, berlindung pada gua. Jika ada banjir, berlindung pada tanah yang tinggi. Jika semua itu datang bersamaan kemana harusnya berlindung? Atau jika segala bencana itu merasuk hingga ke dalam alam pikiran kemana mestinya berlindung?
Terlalu banyak hal-hal yang terjadi di luaran sana. Dan belum ditemukan suatu solusi yang bisa melindungi banyak orang. Ada banyak masalah besar yang belum terselesaikan. Seperti telaga ini, yang kian hari makin mengering. Saya sungguh ingin bertanya pada para bijaksana, haruskah kita tinggalkan telaga ini? Ataukah kita akan menetap disini? Dimanakah telaga baru yang menawarkan kedamaian bagi semua penghuninya?
Dimanakah mestinya dicari segala keheningan? Kita memang mencari hening itu kemana-mana. Tapi di atas semua itu, kita hanya ingin mencari dan menanti sesuatu yang sederhana tapi sulit ditemukan. KEBAHAGIAAN. [T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...