Masa Depan Itu Nisbi – Sebuah Renungan
"Matematika, Percaya Diri = Sukses!" Begitu kata sebuah iklan lembaga bimbingan belajar di sebuah perempatan jalan protokol yang kerap saya lewati. Ditulis pada sebuah baliho besar...
.
Mungkin inilah saat mengemasi hati masing-masing.
Memasukkannya dalam koper lusuh yang lapar.
Hanya bisa mengunyah sepi sendiri. Sementara
sudah terlalu sesak kamar yang kita tinggali.
Kamar sempit di antara kesal terjepit. Pikiran
melompat ke luar jendela. Percakapan tersesat.
Ditambah para Tuhan yang keramat. Tengah sengit
berdebat. Menjadikan cinta kita kian berjarak.
Semua telah terlipat rapi dalam kotak persegi.
Laba-laba tua kehilangan sarang. Tak mampu lagi
buat menyulam benang sendiri. Hanya bisa pasrah.
Larut perlahan bersama apak koper. Memudarkan
diri. Mengekalkan perpisahan hati.
.
Inikah rasanya, berada di rahim bumi
Kembali menjadi benih yang tak pasti
Lahir disambut cium bibir matahari
Atau membiarkan diri gugur
terkikis bisu tanah
Jika sekarang waktunya memilih,
Akan kupilih hidup bagi anakku
Sebab telah kesekian kali
diri lahir kembali
Namun tak pernah sanggup
menanggalkan cemberut
pada bibir anak sendiri
Apalah yang beda dari kematian saat ini
Sedang rumah tinggal berada
di antara palung dan tebing gunung
Hari-hari adalah menanggalkan ketakutan
Buat hidup sampai esok pagi
Nak,
Jika nanti, namaku ada dalam pencarian
Jangan biarkan orang-orang itu
Menggali tanah kita.
Relakan saja tubuh ini terkubur
Menjadi pupuk buat bekal hidupmu kelak
Lupakan saja aku,
Seperti kau melupakan tangis kemarin
Saat menginginkan mainan baru
.
Seperti mekar bunga
yang berserah pada cuaca entah
Ia pun tetap menghitung
angka-angka mati ditiap detiknya
Namun selalu saja, ada yang terlupa
Saat matahari melangkah igau
Membentur ubun pohonan
Seketika segala terkesiap
Mengejar pepat kereta waktu
Begitu cepatnya! Jam-jam berdetak gagu
Angka-angka yang bisu mulai terbata
Dan perhitungan pun kembali pada detik pertama
.
Belum genap sehari kita berpisah
Waktu sudah terasa begitu purba
Kenangan kita adalah karat-karat besi
yang meredam panas matahari
–hingga jadi tua dan linglung-
membuat macet jalanan kota.
Masihkah ada cinta di antaranya?
Ah, mengapa hati mesti bertanya
Sedang pikiran terus melaju
menjelma roda yang selip
menggiring mobil ringsek ke taman
membentur tembok-tembok kusam.
Larilah denting jam yang pincang!
Bawa renta matahari menuju kubur laut
tempat meniriskan duka-duka ombak
Sambutlah tawa nelayan
Memanggul ikan-ikan yang kelak
lahir dari rahim tempayan
.
*Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 1 Maret 2015
"Matematika, Percaya Diri = Sukses!" Begitu kata sebuah iklan lembaga bimbingan belajar di sebuah perempatan jalan protokol yang kerap saya lewati. Ditulis pada sebuah baliho besar...
DI tengah sajian kesenian bernuansa konservasi budaya konvensional Pesta Kesenian Bali ke-39 di Art Centre Denpasar. pementasan Jayaprana Layonsari oleh Komunitas Mahima, Buleleng,...
Cerpen Komang Astiari PARA ibu berseliweran di pasar pagi ini. Cuaca tidak begitu cerah. Seperti biasa aku menggelar barang daganganku di emperan dekat tangga pasar. Dengan rapi da...
SABDA PALON /1/ Udara malam berdesir Membelai perut buncitmu Sepotong cahaya lahir Seusai ketuban pecah dari rahim mulut Selarik kidung jawa membelai anganmu Bhre Kerthabumi term...
SEBUAH mainan baru kini sedang naik daun. Namanya fidget spinner. Jika di-Bahasa Indonesia-kan nama mainan ini adalah “pemintal gelisah”. Seperti virus, mainan ini mewabah di kala...
KAWAN saya, seorang aktivis perempuan, mengeluhkan berita-berita di media massa yang menurut dia menyudutkan perempuan. Pemberitaan kasus pemerkosaan dan penangkapan perempuan peke...
PENGANTAR Tradisi suci Hindu mewajibkan kita menjaga air (toya) sumber mata air dan mata air suci (petirtan atau patoyan) sebagai sumber kehidupan dan air suci. Air suci atau toya...
FANTASTIS! Satu kata itu saja sudah cukup menggambarkan peristiwa yang terjadi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38, pada 25 Juni 2016, setahun lalu. Saat itu, pukul 21.00 ma...
DI atas tanah lapang petak sawah kering berlantai jerami, dari kejauhan saya melihat puluhan anak-anak putra dan putri sedang berkerumun membentuk lingkaran. Di bagian lain...
KABURNYA 4 warga negara asing penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kerobokan, Senin (19/6) lalu adalah hal biasa. Termasuk keberhasilan Shaun Edward Davidson, 33, asa...