Rai Sri Artini# Cara Mengenangmu, Pohon Puisi, Sungai di Belakang Rumah

Rai Sri Artini
by Rai Sri Artini — Juli 01, 2017 in Puisi

Tatkala.co
SABDA PALON /1/ Udara malam berdesir Membelai perut buncitmu Sepotong cahaya lahir Seusai ketuban pecah dari rahim mulut Selarik kidung jawa membelai anganmu Bhre Kerthabumi termangu diantara huruf-huruf yang lahir Dari kulum liurmu /2/ Musim dingin. Paling dingin Tiang-tiang istana menggigil Air mata membeku hanya cemas bersijatuh Menjadi warna darah yang berceceran di alun-alun ibukota Menjadi saksi pertikaian Kau berjanji berjaga di gerbang kehidupan dan kematian /3/ Mengapa kau berduka ? Aku rela menyaru dalam tubuh manusia Memulai perjalanan dari sudut sunyi sekali pun Memastikan mercusuar nusantara terjaga /4/ Buah Pala. Kau tahu rasanya ? Kecaplah dalam lidahmu Kau akan merasa tetap hidup Diantara asin peluh kuli-kuli di pelabuhan Atau diantara lolong tangis Dewi Amaravati Saat giginya tanggal /5/ Nujummu selalu jadi kompas Jarum jam dalam jiwamu berpacu dengan Waktu reinkarnasi Sebab kau sangatlah peduli Pada jejaring laba-laba di sudut langit istana Laksana arus pikirmu yang tajam /6/ Napak tilas. Bumi Swarnadwipa kau pilih Diantara tempat di peta Kau abadi memilih lahir dari rahim nusantara Bersulih ke riuh dunia untuk satu cita-cita Tegaljaya, Maret 2017 CARA MENGENANGMU Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu Kuntum-kuntum kenangan kami mekarkan Memilah dan memilih buku-buku diantara debu-debu kotak usang Kukecup peluhmu untuk mengumpulkan tekad atau Menarik canda tawamu ke lingkaran energiku agar Menyala semangat yang taksa Kucatat cuaca dan peringai hari keenam bulan Juli Mengaksarakan jiwamu dalam sayapku Mematangkan barisan doa Dan mencelupkan roti tawar ke dalam susu yang manis Kuniatkan menguapi dingin dengan memahami kepergianmu Sebab jika tak demikian, Stigma ini akan selalu tertatah di hitam yang liang Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu Menghidangkan kematian dalam nampan waktu Membersihkan lumut-lumut di atas batu pijak yang licin Dan mengarak jiwamu di setiap kata dalam puisi Sebab Tuhan selalu lahir dari jiwamu paling ceruk Kerobokan, Juni 2017 POHON PUISI Di hatiku tak boleh apa pun dan siapa pun mencatat luka Tidak juga kau Kau boleh mampir di tamannya Menulis puisi dan tawa dari serbuk kehidupan Mestilah kau menumbuhkan segala yang patut Bukan menciptakan jarak dan melabeli Terang atau gelap Pantas atau tidak Dua tiga pelor mungkin mampir Namun tak akan berdiam lama Sebab pohon-pohon puisi mengusirnya sebelum kau melapar Dalam rasa asing Di hatiku kata-kata tak boleh mati Meski puting beliung menari Mestilah kutiup ruh dalam kata yang mati suri Agar ia tetap nyala pohon-pohon puisi Bangkit dari kefanaan yang hujan Tegaljaya, Juni 2017 TELAGA AGENG LINGSAR Titipkanlah kalimat permohonan dalam koin-koin ini Terbanglah lalu berendamlah di dasar telaga Dingin air telaga akan memeram segala permohonan Sebelum terbang ke langit ketujuh Seorang perempuan menangis di tepi telaga Memohon anaknya kembali Ia titipkan nama anaknya dalam koin dan Karam dalam perayaan kematian Bersenyawa dengan air mata dan bayangan yang Ia ciptakan sendiri Di telaga ini air mata menjelma lumut-lumut di dasarnya Emosi bersulih menjadi bebatuan Menciptakan jarak antara bumi dan langit Perempuan itu kuyup dalam tangis Sebab lima tahun kemudian langit terbelah Tongkat yang menjelma ikan Membagikan ruh anak-anak dalam tubuhnya Ia menjerit dalam rasa hampa Lalu ia berhenti menangis Ketika sepotong cahaya lahir dari koin-koin Dan saat itu juga ia berhenti Menciptakan bayangan sendiri Tegaljaya, Juni 2017 SUNGAI DI BELAKANG RUMAH Cuaca mengeras di wajahmu Membentuk lintasan dosa dan doa Matahari selalu berdetak menjauh dari matamu Rumpun alis rebah memisahkan berkas-berkas rindu yang sekarat Lidahmu sayup-sayup menggemakan nyanyian ibu Antara lelap dan jaga Lalu Kau pulang ke sungai di belakang rumah Merumahkan kental sesal yang mengganggu tidur Kau hanyutkan air mata, kata-kata berikut pertanyaan-pertanyaan Sungai itu yang dulu jernih Kini keruh oleh limbah Sebab keras kepalamu telah berkeping-keping Daun-daun canging berhamburan memungut lendir-lendir sesal Molekul-molekul air menanti dengan sabar muntahan lapili jiwamu juga mantra-mantra ganjil dari mulut berbau kencur Kau berjanji akan meminangnya menjadi puisi Sebab ia telah melahirkanmu setiap hari Ia pun berjanji akan membawamu Ke luas lepas samudera tak berbatas Tegaljaya, Juni 2017 SEPASANG KUNANG-KUNANG Mengawali perjalanan ini Kita tak mau berhitung kecuali kesanggupan Untuk saling melengkapi Kita berharap ada pagi yang lain Tak pincang lagi dengan irama baru Duduk di serambi senja Menatap kemilau langit Melahirkan nyanyian dari uap kopi Menepikan kerikil-kerikil yang menahan Telapak kaki Kita dapat mengingat Ayat-ayat dalam kitab Yang menyala di ufuk waktu Atau bagian tubuh yang mulai bertumbuh Sehingga saat sabit cuaca menyayat Kita tetap bisa tersenyum Sebab kita tak ingin terlambat Memekarkan kuntum jiwa Sebelum cangkang senja renta dan retak Kita tak ingin hanya menafsir lalu Mengarang cerita sendiri “ Terlalu boros energi,” Katamu Lebih baik menjadi sepasang kunang-kunang Berbagi cahaya Sebab bukan hanya kita yang tumbuh Melainkan semesta Tuka, Juni 2017
Tag: Puisi
Avatar

Rai Sri Artini

Related Posts