Nampaknya saat hari Nyepi diwujudkan sebagai perayaan Tahun Baru Çaka justru bukan dengan kemeriahan pesta tapi dengan kontemplasi hening, diam, sunyi dan tenang dalam slogan Catur Bratha Penyepian, di sanalah kesulitan demi kesulitan dimulai.
Sebab tak banyak
orang Hindu yang mampu melakukan dengan penuh pengertian apalagi di jaman penuh
rekayasa seperti saat ini. Betapa sulitnya tidak menghidupkan api atau lampu
penerangan selama 24 jam penuh. Berbagai alasan dari yang bisa diterima seperti
harus menyiapkan makanan untuk anak-anak yang belum wajib berpuasa, memasak
menu untuk keluarga yang sakit sampai alasan sepele untuk merokok! Juga
meyalakan lampu.atau lilin.
Hingga beberapa
kali kita baca berita kebakaran rumah justru di saat hari nyepi. Itu baru api
sekala. Apalagi meredupkan nyala api niskala seperti api amarah, api nafsu dan
nyala-nyala api lainnya yang mampu membakar diri. Betapa susahnya. Jangankan
sepanjang tahun, untuk satu hari nyepi saja masih sering terdengar teriakan
tetangga kita bertengkar.
Untuk tidak
bepergian, karena dijaga pecalang mau tidak mau kita tidak keluar dari areal
halaman rumah kita. Kalau pecalangnya tidak tegas ramai-ramailah kita
duduk-duduk di jalan yang tiba-tiba jadi lengang karena motor dan mobil kecuali
ambulans tidak boleh lewat. Kita bisa main badminton, megala-gala dan selfie di
jalan. Sudah lihat foto-foto remaja selfi di jalan Teuku Umar Denpasar?
Di beberapa desa
beberapa tahun lalu, semoga tahun ini tidak, karena pecalang adalah sahabat dan
keluarga kita sendiri kita pun bebas meceki di pos kamling sembari menegur jika
ada warga lain yang coba-coba keluar rumah, melanggar aturan nyeilpi.
Sayangnya, atau
bagusnya, sekarang di Bali sinyal seluler dipadamkan satu hari satu malam
selama nyepi jadi anak remaja alay tidak bisa langsung unggah foto- foto
tersebut ke medsos. Coba kalau tidak. Itu yang kita bisa pantau. Masih ribuan
yang tinggal di rumah tapi berselancar di dunia maya atau main game online.
Dua hal terakhir
oleh orang tua digolongkan melanggar bratha penyepian amati lelungaan. Tidak
bepergian sekaligus melanggar bratha amati lelanguan. Tidak mencari hiburan.
Mematikan sejenak kesenangan diri. Kalau tidak bekerja dalam arti masuk ke
tempat kerja terlihat semua melakukan dengan baik dan kusyuk karena Hari Nyepi
sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Semua orang amati
karya. Tapi benarkah selama nyepi kita tidak melakukan apa-apa? Tidak
mengerjakan apa-apa? Tidak menghasilkan apa-apa? Jika ditelisik secara jujur
banyak dari kita akan tertawa menertawakan diri sendiri.
Apakah kita
munafik? Saya jawab tidak. Karena Bratha nyepi memang sangat sulit. Benar,
secara komunal secara kulit dan garis besar ritual nyepi berlangsung semakin
baik dan eksis.
Dari tingkat banjar, desa/kelurahan sampai nasional panitia nyepi melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh semangat pengabdian dan pengorbanan. Bahkan setiap tahun tema perayaan nyepi ditetapkan secara nasional. Seperti tahun ini temanya "Melalui Catur Brata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019", luar biasa bukan? Nanti kita nyoblos kertas suara dengan semangat amati geni, amati lelungaan dan seterusnya...
Banyak penulis dan
guru kehidupan telah mengajak kita untuk lebih melakukan nyepi personal, nyepi
diri. Melakukan tapa dan introspeksi diri, mengembalikan hakikat garis lurus
atma dan paramaatma, sembari menyeimbangkan alam kecil bhuana alit kita dengan
semesta , bhuana agung. Momentum unik di mana pergantian tahun benar-benar
dihayati sebagai pelepasan sejarah diri lama untuk menjadi sosok yang lebih baik.
Nyepi yang lebih
kepada nyepi yang pribadi, menarik diri ke dalam persona diri serupa titik
hening di alam raya. Nyepi hanya satu hari sedangkan para petapa melakukan
setiap harinya bahkan bukan lagi di tengah hutan belantara yang sepi tapi di
tengah keramaian dunia. Nyepi dengan menarik diri dari segala ikatan kegiatan
dan kerja, nyepi yang menelusuri jalan dari mana sumber asal kita bermula.
Hening, diam, dan
tenang hingga dalam puncaknya yang terdengar jelas hanya satu : OM.