Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Nampaknya saat hari Nyepi diwujudkan sebagai perayaan Tahun Baru Çaka justru bukan dengan kemeriahan pesta tapi dengan kontemplasi hening, diam, sunyi dan tenang dalam slogan Catur Bratha Penyepian, di sanalah kesulitan demi kesulitan dimulai.
Sebab tak banyak orang Hindu yang mampu melakukan dengan penuh pengertian apalagi di jaman penuh rekayasa seperti saat ini. Betapa sulitnya tidak menghidupkan api atau lampu penerangan selama 24 jam penuh. Berbagai alasan dari yang bisa diterima seperti harus menyiapkan makanan untuk anak-anak yang belum wajib berpuasa, memasak menu untuk keluarga yang sakit sampai alasan sepele untuk merokok! Juga meyalakan lampu.atau lilin.
Hingga beberapa kali kita baca berita kebakaran rumah justru di saat hari nyepi. Itu baru api sekala. Apalagi meredupkan nyala api niskala seperti api amarah, api nafsu dan nyala-nyala api lainnya yang mampu membakar diri. Betapa susahnya. Jangankan sepanjang tahun, untuk satu hari nyepi saja masih sering terdengar teriakan tetangga kita bertengkar.
Untuk tidak bepergian, karena dijaga pecalang mau tidak mau kita tidak keluar dari areal halaman rumah kita. Kalau pecalangnya tidak tegas ramai-ramailah kita duduk-duduk di jalan yang tiba-tiba jadi lengang karena motor dan mobil kecuali ambulans tidak boleh lewat. Kita bisa main badminton, megala-gala dan selfie di jalan. Sudah lihat foto-foto remaja selfi di jalan Teuku Umar Denpasar?
Di beberapa desa beberapa tahun lalu, semoga tahun ini tidak, karena pecalang adalah sahabat dan keluarga kita sendiri kita pun bebas meceki di pos kamling sembari menegur jika ada warga lain yang coba-coba keluar rumah, melanggar aturan nyeilpi.
Sayangnya, atau bagusnya, sekarang di Bali sinyal seluler dipadamkan satu hari satu malam selama nyepi jadi anak remaja alay tidak bisa langsung unggah foto- foto tersebut ke medsos. Coba kalau tidak. Itu yang kita bisa pantau. Masih ribuan yang tinggal di rumah tapi berselancar di dunia maya atau main game online.
Dua hal terakhir oleh orang tua digolongkan melanggar bratha penyepian amati lelungaan. Tidak bepergian sekaligus melanggar bratha amati lelanguan. Tidak mencari hiburan. Mematikan sejenak kesenangan diri. Kalau tidak bekerja dalam arti masuk ke tempat kerja terlihat semua melakukan dengan baik dan kusyuk karena Hari Nyepi sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Semua orang amati karya. Tapi benarkah selama nyepi kita tidak melakukan apa-apa? Tidak mengerjakan apa-apa? Tidak menghasilkan apa-apa? Jika ditelisik secara jujur banyak dari kita akan tertawa menertawakan diri sendiri.
Apakah kita munafik? Saya jawab tidak. Karena Bratha nyepi memang sangat sulit. Benar, secara komunal secara kulit dan garis besar ritual nyepi berlangsung semakin baik dan eksis.
Dari tingkat banjar, desa/kelurahan sampai nasional panitia nyepi melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh semangat pengabdian dan pengorbanan. Bahkan setiap tahun tema perayaan nyepi ditetapkan secara nasional. Seperti tahun ini temanya "Melalui Catur Brata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019", luar biasa bukan? Nanti kita nyoblos kertas suara dengan semangat amati geni, amati lelungaan dan seterusnya...
Banyak penulis dan guru kehidupan telah mengajak kita untuk lebih melakukan nyepi personal, nyepi diri. Melakukan tapa dan introspeksi diri, mengembalikan hakikat garis lurus atma dan paramaatma, sembari menyeimbangkan alam kecil bhuana alit kita dengan semesta , bhuana agung. Momentum unik di mana pergantian tahun benar-benar dihayati sebagai pelepasan sejarah diri lama untuk menjadi sosok yang lebih baik.
Nyepi yang lebih kepada nyepi yang pribadi, menarik diri ke dalam persona diri serupa titik hening di alam raya. Nyepi hanya satu hari sedangkan para petapa melakukan setiap harinya bahkan bukan lagi di tengah hutan belantara yang sepi tapi di tengah keramaian dunia. Nyepi dengan menarik diri dari segala ikatan kegiatan dan kerja, nyepi yang menelusuri jalan dari mana sumber asal kita bermula.
Hening, diam, dan tenang hingga dalam puncaknya yang terdengar jelas hanya satu : OM.
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...