Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Saya tidak dapat mengetahui apa yang saya kerjakan tanpa upaya dan tanggungjawab mereka, dan saya mengagumi disiplin serta ketekunan mereka. Ungkapan rasa terima kasih saya yang pertama saya tujukan kepada para penulis yang karya-karyanya pernah saya baca.
Beberapa hari ini, saya mencoba membaca buku The Da Vinci Code karya Dan Brown, buku yang saya pinjam dari seorang dokter idola saya—yang sebentar lagi bukunya diterbitkan oleh Mahima.
Buku itu banyak menuliskan sejarah. Dan sejarah memang menyisakan banyak hal, begitulah kiranya. Orang bijak bilang sejarah memberikan pelajaran, sekaligus menawarkan alternatif kebijakan. Yang buruk dari masa silam dibenamkan, yang baik ditegakkan. Jangan menengok pada yang buram karena hidup di kala mendatang memerlukan obor terang.
Sejarah adalah serupa tetumbuhan makna, kita ditantang merawatnya agar kehidupan tidak lantas menjadi pasak-pasak dengan pucuk yang serat beban hingga kita mungkin saja tergopoh memikulnya. Babad-babad klasik mengajarkan pada kita: melalui sabda pandita serta fatwa resi-resi nan bijaksana. Tambo—karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda-legenda yang berkaitan dengan asal usul suku bangsa, negeri dan tradisi dan alam—mengisahkan buramnya masa silam agar kita tak kembali terperosok dalam hitam yang serupa.
Demikian hieroglif—sistem tulisan formal yang digunakan masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet—ditata pada dinding-dinding gua di Mesir. Begitu pula maksud aksara Jawa kuno yang tertoreh di lontar-lontar yang berusia lanjut.
Aksara. Telah jauh sejak lama orang berusaha menjelaskan pelbagai hal melalui aksara. Itulah kenapa kultur-kata mengembang menjadi budaya-aksara: fatsun tak sekadar dilisankan dan dipertunjukkan, tetapi juga ditegaskan lewat tamsil dan simbol-simbol.
Harusnya kita berterima kasih kepada Gutenberg yang berjasa bukan hanya karena menyebarkan teknik mekanis-penggandaan aksara, tapi ia juga telah menyusupkan gagasan mengenai pentingnya penguatan makna kata melalui cetak-aksara tersebut. Penggandaan adalah persebaran, catatan menjadi makin teramankan. Sejarah pun dapat terus digulirkan.
***
Siapa yang bisa menebak hari esok? Saya pikir tidak ada yang bisa benar-benar menebak. Mungkin hanya bisa memprediksi dengan asumsi-asumsi. Begitupun tentang bagaimana akhir-akhir ini saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang membuat saya nyaman. Baik-baik, dan bisa membangun kepercayaan diri. Tanpa saya sadari bahkan tanpa saya rencanakan. Orang-orang itu, tentu sangat mempengaruhi kehidupan saya.
Sekiranya hidup memang seperti cerpen atau novel. Sebuah kisah yang tak pernah lengkap, bahkan misterius—sukar ditebak. Patah-patah. Namun justru dalam lubang, ketidaklengkapan kisah, bahkan mungkin juga jeda, dan bolong itulah, pembaca membuat tali penyambung sendiri, menjahit, menyatukannya sendiri, bahkan menutup semua dengan kapasitas masing-masing. Kalau karya itu penuh, jelas, mudah ditebak, lengkap, justru di sana pembaca seperti dikerangkeng, dipenjara, dan dimakuskkan goa tertutup. Tanpa adanya misteri dan teka-teki dalam sebuah kisah, rasanya memang hambar, bukan. Dan bagi saya, hidup pun demikian, penuh dengan teka-teki.
Saya menganggap semua ini sebagai perwujudan dari peta purbakala yang digunakan oleh para penjelajah masa lalu dalam berlayar mencari Tanah Baru. Peta itu dan penjelasan yang menyertainya penuh dengan uraian tapi tanpa ramalan, memikat tapi tidak sepenuhnya menyingkap. Mereka menunjuk ke arah tertentu, menonjolkan topik, memperingatkan adanya bahaya, namun demikian juga menunjukkan tempat-tempat kosong yang belum pernah dijelajahi dan menarik untuk ditemukan orang lain.
Tempat-tempat yang menarik khayalan si pengembara dihiasi aneka warna dan catatan penting, sedang tempat-tempat penting lain diabaikan.
Baca juga:
Peta itu juga berisi pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri dari mara bahaya, yang membantu bagi para penjelajah lain sesudah mereka.
Begitulah, setelah berusaha memahami dengan susah payah, saya dapat melihat sebuah titik cerah di hadapan saya. Selama berbulan-bulan, saya mempelajari struktur proses segala sesuatu yang memiliki bentuk namun tidak memiliki struktur yang tetap. Mencoba memahami patahan-patahan kisah. Ketidaklengkapan, teka-teki, dan menyatukannya sendiri, menutup semua itu dengan kapasitas saya. Semua ini, menyatu dalam sebuah kata: Aksara.
Melalui aksara, saya belajar semuanya. Dan melalui aksara pula, kita sepertinya dipertemukan. [T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...