Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Saya tidak dapat mengetahui apa yang saya kerjakan tanpa upaya dan tanggungjawab mereka, dan saya mengagumi disiplin serta ketekunan mereka. Ungkapan rasa terima kasih saya yang pertama saya tujukan kepada para penulis yang karya-karyanya pernah saya baca.
Beberapa hari ini, saya mencoba membaca buku The Da Vinci Code karya Dan Brown, buku yang saya pinjam dari seorang dokter idola saya—yang sebentar lagi bukunya diterbitkan oleh Mahima.
Buku itu banyak menuliskan sejarah. Dan sejarah memang menyisakan banyak hal, begitulah kiranya. Orang bijak bilang sejarah memberikan pelajaran, sekaligus menawarkan alternatif kebijakan. Yang buruk dari masa silam dibenamkan, yang baik ditegakkan. Jangan menengok pada yang buram karena hidup di kala mendatang memerlukan obor terang.
Sejarah adalah serupa tetumbuhan makna, kita ditantang merawatnya agar kehidupan tidak lantas menjadi pasak-pasak dengan pucuk yang serat beban hingga kita mungkin saja tergopoh memikulnya. Babad-babad klasik mengajarkan pada kita: melalui sabda pandita serta fatwa resi-resi nan bijaksana. Tambo—karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda-legenda yang berkaitan dengan asal usul suku bangsa, negeri dan tradisi dan alam—mengisahkan buramnya masa silam agar kita tak kembali terperosok dalam hitam yang serupa.
Demikian hieroglif—sistem tulisan formal yang digunakan masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet—ditata pada dinding-dinding gua di Mesir. Begitu pula maksud aksara Jawa kuno yang tertoreh di lontar-lontar yang berusia lanjut.
Aksara. Telah jauh sejak lama orang berusaha menjelaskan pelbagai hal melalui aksara. Itulah kenapa kultur-kata mengembang menjadi budaya-aksara: fatsun tak sekadar dilisankan dan dipertunjukkan, tetapi juga ditegaskan lewat tamsil dan simbol-simbol.
Harusnya kita berterima kasih kepada Gutenberg yang berjasa bukan hanya karena menyebarkan teknik mekanis-penggandaan aksara, tapi ia juga telah menyusupkan gagasan mengenai pentingnya penguatan makna kata melalui cetak-aksara tersebut. Penggandaan adalah persebaran, catatan menjadi makin teramankan. Sejarah pun dapat terus digulirkan.
***
Siapa yang bisa menebak hari esok? Saya pikir tidak ada yang bisa benar-benar menebak. Mungkin hanya bisa memprediksi dengan asumsi-asumsi. Begitupun tentang bagaimana akhir-akhir ini saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang membuat saya nyaman. Baik-baik, dan bisa membangun kepercayaan diri. Tanpa saya sadari bahkan tanpa saya rencanakan. Orang-orang itu, tentu sangat mempengaruhi kehidupan saya.
Sekiranya hidup memang seperti cerpen atau novel. Sebuah kisah yang tak pernah lengkap, bahkan misterius—sukar ditebak. Patah-patah. Namun justru dalam lubang, ketidaklengkapan kisah, bahkan mungkin juga jeda, dan bolong itulah, pembaca membuat tali penyambung sendiri, menjahit, menyatukannya sendiri, bahkan menutup semua dengan kapasitas masing-masing. Kalau karya itu penuh, jelas, mudah ditebak, lengkap, justru di sana pembaca seperti dikerangkeng, dipenjara, dan dimakuskkan goa tertutup. Tanpa adanya misteri dan teka-teki dalam sebuah kisah, rasanya memang hambar, bukan. Dan bagi saya, hidup pun demikian, penuh dengan teka-teki.
Saya menganggap semua ini sebagai perwujudan dari peta purbakala yang digunakan oleh para penjelajah masa lalu dalam berlayar mencari Tanah Baru. Peta itu dan penjelasan yang menyertainya penuh dengan uraian tapi tanpa ramalan, memikat tapi tidak sepenuhnya menyingkap. Mereka menunjuk ke arah tertentu, menonjolkan topik, memperingatkan adanya bahaya, namun demikian juga menunjukkan tempat-tempat kosong yang belum pernah dijelajahi dan menarik untuk ditemukan orang lain.
Tempat-tempat yang menarik khayalan si pengembara dihiasi aneka warna dan catatan penting, sedang tempat-tempat penting lain diabaikan.
Baca juga:
Peta itu juga berisi pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri dari mara bahaya, yang membantu bagi para penjelajah lain sesudah mereka.
Begitulah, setelah berusaha memahami dengan susah payah, saya dapat melihat sebuah titik cerah di hadapan saya. Selama berbulan-bulan, saya mempelajari struktur proses segala sesuatu yang memiliki bentuk namun tidak memiliki struktur yang tetap. Mencoba memahami patahan-patahan kisah. Ketidaklengkapan, teka-teki, dan menyatukannya sendiri, menutup semua itu dengan kapasitas saya. Semua ini, menyatu dalam sebuah kata: Aksara.
Melalui aksara, saya belajar semuanya. Dan melalui aksara pula, kita sepertinya dipertemukan. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...