‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Pemilu tahun ini memang agak ruwet. Bukan hanya memilih presiden dan wakil presiden, tapi masih ada empat surat suara lain yang harus dicoblos. Mulai DPRD Buleleng, DPRD Bali, DPR-RI, dan DPD-RI.
Kalau soal Pilpres, ini tidak begitu ruwet. Hanya ada dua pilihan. Bisa pilih nomor urut 01 atau bisa pilih nomor urut 02.
Nah memilih calon anggota legislatif (caleg) ini yang ruwet. Di tempat tinggal saya saja, di Kecamatan Sukasada, ada 49 orang caleg yang berambisi jadi anggota DPRD Buleleng.
Itu baru tingkat kabupaten. Belum lagi tingkat provinsi, tingkat pusat, juga DPD-RI. Jumlahnya pun saya tak ingat, apalagi nama-namanya.
Masalahnya adalah, sebagai pemilih, saya tak begitu mengenal caleg-caleg yang mencalonkan diri. Di penjuru kota, hanya ada baliho yang dipajang. Berisi logo partai, nomor urut, foto caleg, dan nomor caleg. Ada yang menambah motto, kata-kata mutiara, juga pantun.
Sebagai pemilih yang (sok) idealis, yang saya butuhkan sebenarnya bukan hanya sekadar nama, foto, dan nomor urut. Misalnya paparan visi, misi, dan program kerja.
Visi, misi, dan program kerja, baiknya tak hanya disampaikan saat simakrama saja. Tapi dipajang dalam bentuk baliho juga.
Kalau hanya dalam bentuk simakrama, tidak ada waktu untuk mencermati. Masa saya harus mendatangi simakrama caleg satu persatu. Syukur-syukur kalau mereka memang bikin simakrama. Kalau caleg hanya dipasang untuk memenuhi kuota, ya kemungkinan besar caleg itu tidak akan kampanye.
Saat ini setahu saya, baru satu caleg yang memajang baliho yang dilengkapi visi, misi, dan program kerja. Itu pun caleg yang maju sebagai calon anggota DPD-RI. Namanya tak usah lah saya sebutkan. Biar saya tak dikira jadi tim pemenangan.
Ada baiknya para caleg meniru caleg-caleg imajiner yang diusung Koalisi Tronjal-Tronjol Maha Asyik. Meski kesannya cuma main-main, para caleg imajiner ini bukan hanya sekadar jual tampang dan nomor urut. Tapi juga menawarkan program kerja.
Andai caleg-caleg imajiner itu benar-benar masuk dalam daftar calon, bisa jadi saya akan memilih mereka. Biar #SmackQueenYaQueen seperti Nurhadi-Aldo. [T]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...