Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Pemilu tahun ini memang agak ruwet. Bukan hanya memilih presiden dan wakil presiden, tapi masih ada empat surat suara lain yang harus dicoblos. Mulai DPRD Buleleng, DPRD Bali, DPR-RI, dan DPD-RI.
Kalau soal Pilpres, ini tidak begitu ruwet. Hanya ada dua pilihan. Bisa pilih nomor urut 01 atau bisa pilih nomor urut 02.
Nah memilih calon anggota legislatif (caleg) ini yang ruwet. Di tempat tinggal saya saja, di Kecamatan Sukasada, ada 49 orang caleg yang berambisi jadi anggota DPRD Buleleng.
Itu baru tingkat kabupaten. Belum lagi tingkat provinsi, tingkat pusat, juga DPD-RI. Jumlahnya pun saya tak ingat, apalagi nama-namanya.
Masalahnya adalah, sebagai pemilih, saya tak begitu mengenal caleg-caleg yang mencalonkan diri. Di penjuru kota, hanya ada baliho yang dipajang. Berisi logo partai, nomor urut, foto caleg, dan nomor caleg. Ada yang menambah motto, kata-kata mutiara, juga pantun.
Sebagai pemilih yang (sok) idealis, yang saya butuhkan sebenarnya bukan hanya sekadar nama, foto, dan nomor urut. Misalnya paparan visi, misi, dan program kerja.
Visi, misi, dan program kerja, baiknya tak hanya disampaikan saat simakrama saja. Tapi dipajang dalam bentuk baliho juga.
Kalau hanya dalam bentuk simakrama, tidak ada waktu untuk mencermati. Masa saya harus mendatangi simakrama caleg satu persatu. Syukur-syukur kalau mereka memang bikin simakrama. Kalau caleg hanya dipasang untuk memenuhi kuota, ya kemungkinan besar caleg itu tidak akan kampanye.
Saat ini setahu saya, baru satu caleg yang memajang baliho yang dilengkapi visi, misi, dan program kerja. Itu pun caleg yang maju sebagai calon anggota DPD-RI. Namanya tak usah lah saya sebutkan. Biar saya tak dikira jadi tim pemenangan.
Ada baiknya para caleg meniru caleg-caleg imajiner yang diusung Koalisi Tronjal-Tronjol Maha Asyik. Meski kesannya cuma main-main, para caleg imajiner ini bukan hanya sekadar jual tampang dan nomor urut. Tapi juga menawarkan program kerja.
Andai caleg-caleg imajiner itu benar-benar masuk dalam daftar calon, bisa jadi saya akan memilih mereka. Biar #SmackQueenYaQueen seperti Nurhadi-Aldo. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...