Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Bunga-bunga ditabur di atas pemakaman. Bingkai-bingkai papan ucapan duka yang biasanya terbuat dari gabus atau sterofoam pun biasanya diberi hiasan bermotif bunga-bunga. Apa memang bunga adalah lambang duka cita? Atau mungkin lambang kematian?
Tapi ketika orang pacaran kenapa lantas si kekasih memilih bunga sebagai ungkapan perasaannya? Lelaki memberi bunga pada wanita karena dia sayang dan cinta. Bunga jadi lambang perasaan suka, cinta, dan romantisme.
Dalam segi bahasa pun "bunga" selain bermakna sebagai wujud bunga itu sendiri tapi jika diberi imbuhan ber dan ditambah pengulangan kata sehingga jadi "berbunga-bunga" maka maknanya akan jadi senang atau gembira.
Hal ini juga semakin diperkuat lagi dalam frasa "bunga tidur" yang maknanya adalah mimpi. Kata bunga dalam idiom itu merujuk pada makna hiasan yang bila diruntut lagi akan mengarah pada keindahan dan kebahagiaan. Dalam bahasa Madura pun, ungakapan bahasa halus dari senang adalah "bhunga".
Aneh, apa sebenarnya makna bunga? Apakah ketika memberi bunga untuk mengiring kematian itu artinya sedang berbunga-bunga (bahagia)? Tentu tidak kan!? Atau sedang jatuh cinta? Pada siapa? Orang mati? Tentu tidak juga kan!? Atau ketika memberi bunga pada kekasih itu artinya kita sedang berduka? Kan bunga juga diberikan ketika ada orang mati.
Bunga juga digunakan sebagai ungkapan kecantikan dan keelokan. Seperti idiom bunga bangsa dan kembang (bunga) desa. Bunga itu lambang kecantikan. Juga, bunga biasanya diidentikan dengan wanita, kecewek-cewekan, feminis. Kalau ada cowok suka bunga atau motifmotif bercorak bunga, maka biasanya akan dikatai banci.
Sampai di sini, takdir bunga nyatanya hanya ada dua. Kalau tidak diberikan ketika ada kematian ya akan jatuh ke tangan wanita. Tapi tetap tidak bisa diterima, kalau bunga diidentikan dengan wanita dan keindahan memang masuk akal karena bunga itu memang indah begitu juga wanita.
Tapi dalam hal kematian, kenapa harus bunga yang dijadikan lambang pengungkap rasa duka? Dari keindahan ke kematian, kan jauh amat dan gak nyambung. Atau jangan-jangan kematian itu indah lantas ditaburi bunga-bunga? Tapi bila memang indah kenapa orang-orang berduka ketika mengunjungi pemakaman, kok bukan bahagia (berbunga-bunga)?
Sampai di sini mungkin kita bisa menyetujui apa yang dikatakan Pasha Ungu dalam salah satu lirik lagunya bahwa "Bunga adalah bahasa rasa" dengan bunga orang-orang mencoba mengungkapkan perasaannya baik duka, suka, cinta, maupun bahagia. Cukup dengan bunga, semua apa yang ingin diungkapkan telah terwakilkan tanpa berpanjang lebar mengatakannya.
Persoalannya sekarang, ungkapan perasaan yang mana yang bisa diwakili dengan memberi bunga? Atau itu hanya konstruksi budaya saja? Ok, perbedaan adalah keniscayan.
Lalu apa gunanya saya menulis ini? Atau lebih baik aku beri kamu bunga saja biar kamu ngerti? Eaaa. (T)
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...