KOPLAK beringsut dari meja kasir sebuah swalayan terbesar di Bali. Hatinya bungah. Senyumnya terus diumbar entah untuk siapa, jika diperhatikan, orang-orang termasuk sang kasir pasti berpikir Koplak memiliki sedikit kelainan.
Wajah
kasir yang melayani Koplak terlihat agak kusut dan menciut mengingatkan Koplak
pada kertas krep — kertas yang biasanya dipakai Ni Luh Putu Kemitir — anak
perempuan semata wayangnya membuat prakarya untuk tugas sekolah. Kemitir paham
betul mengolah kertas krep itu menjadi beragam bentuk bunga-bunga yang terlihat
nyata. Karena saking girangnya bisa membuat beragam bunga, setiap hari Koplak
wajib membeli kertas krep. Bisa dibayangkan seluruh ruangan berisi tatanan
bunga kertas krep. Penuh. Bahkan sampai kamar mandi, Koplak pun harus hati-hati
jika mandi, karena air bisa merusak kertas itu. Sejak saat itu jujur saja
Koplak anti dengan kertas krep!
Sekarang, kertas krep itu menjelma
di wajah sang kasir.
Sejak ditinggal mati istrinya, Ni
Luh Wayan Langir, Koplak memang hidup
berdua saja dengan Kemitir. Apa pun yang dilakukan Kemitir , Koplak
setuju-setuju saja. Kata orang dimasa pertumbuhan seorang anak ada baiknya para
orangtua tidak usah memiliki banyak aturan. Aturan yang banyak akan membuat
anak tidak memiliki ide-ide sendiri. Jadilah Kemitir tumbuh seperti belukar
yang menabrak apa saja, dan ide-idenya sejak kecil selalu banyak , kadang aneh,
sering juga membuat Koplak agak naik darah. Tetapi Koplak selalu mengingatkan
dirinya akan kata-kata sahabatnya.
“Jika kemarahan melumuri otakmu, dan
siap meledak dari mulutmu. Tarik nafas dalam-dalam-dalam, lalu keluarkan
pelan-pelan melalui mulut. Gerakan itu seperti persiapan kita untuk Trisandya.
Dijamin kemarahan yang melilit di otak yang melukai hatimu akan kandas, tandas!
Aku jamin!”
“Kalau kemarahan terus dipendam, apa
tidak membahayakan? Bisa meletus seperti Letusan Krakatau 26 Agustus 1883 ,dengan
gejala pada awal “kemarahan yang dipendam” Mei dan mengamuk dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera. 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam
sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya.
Letusan ini adalah salah satu letusan
paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, setidaknya 36.417
korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini
juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia. Bagaimana kalau tabungan
kemarahanku bisa meletus?”
“Memangnya
kamu itu gunung, Koplak?”
“Siapa tahu?”
Koplak ngotot.
“Kau akan
mengamuk pada tingkah anakmu?” tanya sahabatnya lagi serius sambil menatap mata
Koplak sungguh-sungguh. Koplak terdiam sambil merapatkan gigi atas dan gigi
bawahnya.
“Tidak
mungkinlah. Aku mencintai Kemitir melebihi aku mencintai hidupku.”
“Wah, itu
juga tidak baik. Terlalu berlebihan. Sesuatu yang terlalu berlebihan membuat
pertumbuhan jiwa kita bisa tidak sehat.”
Koplak
menatap mata sahabatnya sambil berpikir: “semua
pernyataanku dianggap salah? Terus harus bagaimana? Mengalah terus? Memendam
kemarahan tiap hari? Kalau dipendam kemarahan itu keluarnya lewat pintu yang
mana?” Koplak berkata pada dirinya sendiri.
Sambil menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. Membayangkan kertas krep
yang dibencinya dengan tatapan teduh dan penuh cinta milik Kemitir.
Koplak
kembali tersenyum sendiri sambil menebar pandangan ke seluruh lantai swalayan
di pusat kota Denpasar. Semua yang membeli barang-barang sibuk mengeluarkan
kantong-kantong kain. Senang juga akhirnya plastik-plastik mulai berkurang
minimal mulai hari ini disaksikan oleh Koplak, setelah merayakan hari raya
Kuningan bersama Kemitir. Sungguh sebuah peristiwa bersejarah.
Tidak ada
lagi orang-orang kelas menengah di kota Denpasar yang dilihat Koplak
menggerutu, atau bersunggut-sungut dengan gumaman yang membuat siapa pun jika
mendengarnya akan bersiap mengambli blakas , golok tajam. Semua senyap, tertib mengikuti aturan Pemerintah
Kota Denpasar mulai memberlakukan Peraturan Wali Kota Nomor 36 Tahun 2018
tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik sejak 1 Januari 2019.
Koplak
menarik nafas sambil berdiri dengan tegak menunggu antrian dengan sabar,
bibirnya tetap tersenyum, Koplak tahu beberapa pasang mata menatapnya dengan
tatapan mata ganjil.
Koplak tidak
peduli, Koplak membayangkan alangkah indahnya kelak bumi ini jika sampah-sampah
plastik mulai berkurang, semoga juga bisa lenyap. Yang dipikirkan Koplak juga,
semoga aturan baik ini benar-benar terus dilanjutkan dengan beragam sanksi
untuk orang-orang yang melanggar , aturan berupa sanksi sebaiknya juga
disiapkan. Karena yang paling menarik dari eforia ini adalah masyarakat
menyambut antusias.
Ada baiknya
semangat empat lima yang telah tumbuh di hati masyarakat terus diberi pupuk dan orasi-orasi yang menyegarkan
sehingga masyarakat pun merasa malu jika membawa kantong plastik untuk belanja.
Budaya malu itulah yang harus terus disiram di hati masyarakat. Koplak senang,
girang melihat aturan itu diterapkan masyarakat juga dengan girang. Memang
masih perlu ditata dan diperhatikan lebih serius lagi sehingga aturan yang
diterapkan benar-benar menjadi “gaya hidup” masyarakat perkotaan di Denpasar.
Sekarang
pemerintah tinggal membenahi pasar tradisional. Agar para pedagang pun memiliki
kesadaran dan berkata: “tidak pada plastik”. Jika ini berhasil baik, tentu
Koplak tidak akan pernah lagi menyaksikan saluran-saluran air yang dipenuhi
sampah plastik. Sunga-sungai penuh ikan-ikan berupa kantong plastik.
Koplak merasa
aturan ini sudah mulai masuk ke dalam darah warga. Koplak juga merasakan malu
juga jika belanja mengeluarkan kantong plastik. Makanya Koplak menyiapkan
kantong kain. Koplak tersenyum kembali sambil melirik kasir yang masih
menatapnya dengan tatapan seperti kertas krep Kemitir.
Ah, jika ini
berjalan dengan baik, semoga tagar-tagar “malu dong buang sampah sembarangan”
juga bisa tumbuh dalam embrio darah masyarakat kota kita. Tidak sekedar spanduk
dan brosur-brosur yang tersebar. Semoga!