Kata-kata yang sering didengar dan kerap menjadi kutipan anak muda, dan viral di dunia maya adalah kata-kata bahasa Bali yang terdengar enak untuk mematahkan lawan bicara, namun cukup bisa membuat kita sendiri ketiduran karena asyik malas-malasan,
Antara lain, kata "De bes ruet nyalanang hidup, biasang gen". Atau, "Hidup slow mati mekelo, de be ngurus ape, biasaang gen". Atau, "Biaso gen jo hidup di Bali".
Kata-kata
seperti itu sering diucapkan pemuda, mahasiswa, bahkan politikus.
Seketika saya ingat sebuah lirik lagu yang dipaksakan
sekali untuk dijadikan lagu, lagu dengan intonasi nada dari awal begitu-begitu saja. Sampai saat ini saya belum menemukan makna dari lirik yang
dibangun, entah tujuannya menghibur atau memang ada unsur lainnya.
Jika
maksudnya menghibur ya boleh-boleh saja. Tapi bukankah sebuah karya seharusnya
lebih
bisa membangkitkan semangat
hidup, bukan malah membuat lemah
tak berdaya.
Kata-kata
bahasa Bali yang disebutkan di atas, di satu sisi memang bisa membuat kita
tenang. Bahwa hidup memang biasa-biasa saja, tapi perlu pusing yang bisa bikin
stress dan stroke. Namun mungkin
saja sudut pandang saya yang masih keliru, atau justru
lurus-lurus saja untuk memandang
sebuah lagu semacam itu. Entahlah. Karena saya pikir
lirik itu bisa saja melemahkan semangat, membuat hidup jadi tak bergairah.
Justru
hal semacam itu membuat saya berpikir dan menggelitik otak, bahwa hal semacam
itulah yang bisa viral dengan mudah di media sosial. Padahal bagi saya, kata-kata
itu bisa mendoktrin otak kita untuk menjadi malas dan tak punya cita-cita.
Biasanya kata-kata itu hanya untuk mereka yang tak bisa lagi
menjawab pertanyaan susah, malas menjalani kehidupan, tak
ingin menjadi beda, mengikuti arus dan mencari aman. Terkadang kata itu mengalahkan
semangat-semangat orang yang ingin memberikan nasehat, memberikan kesadaran, atau
member pelajaran dengan benar.
Bagaimana jika semua orang berpola pikir seperti itu, masihkah ada rasa kepedulian, rasa
sosial dan sikap sebagai orang yang bekerja keras? Terlebih politikus yang berbicara seperti itu, bagaikan toxic meracuni, agar masyarakatnya tetap
mendapatkan hal biasa, lalu politikus melancarkan aksi strategi politiknya agar
tetap menjadi keturunan cendana, ningrat dan konglomerat.
"De bes ruet” itu bisa diartikan sebagai cara untuk membuat malas untuk mencari suatu yang baru
"Hidup Slow mati mekelo” bisa jadi juga
ungkapan yang bisa membuat malas agar tidak ingin mengurusi rutinitas di luar hal
yang biasa dilakukan.
"Biaso gen jo” mungkin
saja kata itu akan membuatmu tidak akan pernah menjadi luar biasa. Seterusnya akan
biasa-biasa.
Prihal
hidup memang biasa tapi yang harus didapatkan adalah hal-hal yang luar biasa,
jika sekedar hidup kutu loncat juga hidup. Kita manusia yang dibekali akal, dan
nurani sudah sepatutnya melakukan hal yang mampu membuat hidup berarti,
menciptakan sejarah-sejarah kecil kelak agar nama abadi.
Cara
berpikir “biaso gen jo” akan membuat kita
tak peduli terhadap lingkungan, kemanusian apalagi untuk
menjadi yang berbeda. Kita terlalu sering ikut-ikutan jaman.
Jadi, lawanlah pembatas
kemampuanmu, kita tercipta untuk melakukan hal luar biasa, bukan biasa-biasa saja.
Setelah membaca ini semoga berkenan menyadari peran mahluk cerdas yang
bernama manusia untuk tetap menjadi manusia yang manusiawi menjaga kewarasan
rasionalis dalam berpikir bahwa kita sedang dibodohi dan dijangkiti berbagai penyakit yang membuat kita tidak
mempedulikan apa-apa dan lebih mementingkan diri sendiri terlebih yang terjadi di lingkungan
kita.
Jangan pernah takut untuk menjadi berbeda, dicap aneh oleh sekitarmu,
bahkan diasingkan, jadilah orang yang merdeka dengan jalanmu sendiri. (T)