Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Antara lain, kata "De bes ruet nyalanang hidup, biasang gen". Atau, "Hidup slow mati mekelo, de be ngurus ape, biasaang gen". Atau, "Biaso gen jo hidup di Bali".
Kata-kata seperti itu sering diucapkan pemuda, mahasiswa, bahkan politikus.
Seketika saya ingat sebuah lirik lagu yang dipaksakan sekali untuk dijadikan lagu, lagu dengan intonasi nada dari awal begitu-begitu saja. Sampai saat ini saya belum menemukan makna dari lirik yang dibangun, entah tujuannya menghibur atau memang ada unsur lainnya.
Jika maksudnya menghibur ya boleh-boleh saja. Tapi bukankah sebuah karya seharusnya lebih bisa membangkitkan semangat hidup, bukan malah membuat lemah tak berdaya.
Kata-kata bahasa Bali yang disebutkan di atas, di satu sisi memang bisa membuat kita tenang. Bahwa hidup memang biasa-biasa saja, tapi perlu pusing yang bisa bikin stress dan stroke. Namun mungkin saja sudut pandang saya yang masih keliru, atau justru lurus-lurus saja untuk memandang sebuah lagu semacam itu. Entahlah. Karena saya pikir lirik itu bisa saja melemahkan semangat, membuat hidup jadi tak bergairah.
Justru hal semacam itu membuat saya berpikir dan menggelitik otak, bahwa hal semacam itulah yang bisa viral dengan mudah di media sosial. Padahal bagi saya, kata-kata itu bisa mendoktrin otak kita untuk menjadi malas dan tak punya cita-cita.
Biasanya kata-kata itu hanya untuk mereka yang tak bisa lagi menjawab pertanyaan susah, malas menjalani kehidupan, tak ingin menjadi beda, mengikuti arus dan mencari aman. Terkadang kata itu mengalahkan semangat-semangat orang yang ingin memberikan nasehat, memberikan kesadaran, atau member pelajaran dengan benar.
Bagaimana jika semua orang berpola pikir seperti itu, masihkah ada rasa kepedulian, rasa sosial dan sikap sebagai orang yang bekerja keras? Terlebih politikus yang berbicara seperti itu, bagaikan toxic meracuni, agar masyarakatnya tetap mendapatkan hal biasa, lalu politikus melancarkan aksi strategi politiknya agar tetap menjadi keturunan cendana, ningrat dan konglomerat.
"De bes ruet” itu bisa diartikan sebagai cara untuk membuat malas untuk mencari suatu yang baru
"Hidup Slow mati mekelo” bisa jadi juga ungkapan yang bisa membuat malas agar tidak ingin mengurusi rutinitas di luar hal yang biasa dilakukan.
"Biaso gen jo” mungkin saja kata itu akan membuatmu tidak akan pernah menjadi luar biasa. Seterusnya akan biasa-biasa.
Prihal hidup memang biasa tapi yang harus didapatkan adalah hal-hal yang luar biasa, jika sekedar hidup kutu loncat juga hidup. Kita manusia yang dibekali akal, dan nurani sudah sepatutnya melakukan hal yang mampu membuat hidup berarti, menciptakan sejarah-sejarah kecil kelak agar nama abadi.
Cara berpikir “biaso gen jo” akan membuat kita tak peduli terhadap lingkungan, kemanusian apalagi untuk menjadi yang berbeda. Kita terlalu sering ikut-ikutan jaman.
Jadi, lawanlah pembatas kemampuanmu, kita tercipta untuk melakukan hal luar biasa, bukan biasa-biasa saja.
Setelah membaca ini semoga berkenan menyadari peran mahluk cerdas yang bernama manusia untuk tetap menjadi manusia yang manusiawi menjaga kewarasan rasionalis dalam berpikir bahwa kita sedang dibodohi dan dijangkiti berbagai penyakit yang membuat kita tidak mempedulikan apa-apa dan lebih mementingkan diri sendiri terlebih yang terjadi di lingkungan kita.
Jangan pernah takut untuk menjadi berbeda, dicap aneh oleh sekitarmu, bahkan diasingkan, jadilah orang yang merdeka dengan jalanmu sendiri. (T)
Lahir 16 Juni 1998. Hidup dan besar di pulau Bali yang konon katanya pulau surga, tetapi ia hanyalah anak biasa saja.
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...