Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
***
Mata Klara sebab oleh air mata yang keluar tanpa bisa dibendung. “Begitu mudahnya engkau menangis,” ucap seorang lelaki separuh baya yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit. “Tapi biarlah, seorang seniman terlampau lembut perasaannya. Ambilkan aku minum!” Klara tak juga bangkit dari kursi. Seluruh tubuhnya hanya terpaku, menatap tubuh ringkih lelaki paruh baya yang berbaring di depannya itu. Akhirnya ia tersadar ketika lelaki paruh baya itu mengulangi ucapannya. Lelaki paruh baya itu meneguk air dan merasa badannya agak nyaman dan hatinya agak kuat. “Pulanglah sekarang, aku lelah.” Klara memperbaiki letak pakaiannya. Mengusap air mata lelaki paruh baya itu dengan hati-hatinya, mengangguk, kemudian lenyap dari kamar.***
Segera Klara mengunci pintu dari dalam. Segera merubuhkan diri di ranjang dan meneruskan tangisannya. Kehidupan keras dan kejam selama itu telah dijalani kedua orang tuanya dengan keberanian, karena hanya mempunyai modal keberanian. Karena ada modal untuk menghadapinya: keyakinan, bahwa orang tuanya bisa juga hidup dari tangannya sendiri. Tapi dalam kepahitan dan kesakitan saat ini, siapakah yang punya modal untuk menghadapinya? Siapa yang mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan ayahnya? Waktu pintu diketok dan dari luar terdengar ajakan makan, Klara tetap meneruskan tangisnya—menangisi sesuatu yang ia tidak mengerti. Tapi rasa sakit dan kepahitan itu terus membanjirkan air matanya. Dan malam itu adalah malam panjang yang berisi satu tubuh satu jiwa: Ibunya yang abadi dalam tulisan-tulisan juga dongeng sebelum tidur ayahnya dan ayahnya yang divonis dokter tidak akan hidup lama lagi sebab penyakit yang dideritanya. Ia rangkum itu untuk takkan dilepas-lepaskannya untuk selama-lamanya. Dan tentang dongeng-dongeng ayahnya sebelum ia tidur, akan senantiasa abadi. Dongeng tentang Ana, ibunya. Dan ia kembali menangis, ketika mengingat Ben, ayahnya sedang berbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. (T)
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...