Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
***
Mata Klara sebab oleh air mata yang keluar tanpa bisa dibendung. “Begitu mudahnya engkau menangis,” ucap seorang lelaki separuh baya yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit. “Tapi biarlah, seorang seniman terlampau lembut perasaannya. Ambilkan aku minum!” Klara tak juga bangkit dari kursi. Seluruh tubuhnya hanya terpaku, menatap tubuh ringkih lelaki paruh baya yang berbaring di depannya itu. Akhirnya ia tersadar ketika lelaki paruh baya itu mengulangi ucapannya. Lelaki paruh baya itu meneguk air dan merasa badannya agak nyaman dan hatinya agak kuat. “Pulanglah sekarang, aku lelah.” Klara memperbaiki letak pakaiannya. Mengusap air mata lelaki paruh baya itu dengan hati-hatinya, mengangguk, kemudian lenyap dari kamar.***
Segera Klara mengunci pintu dari dalam. Segera merubuhkan diri di ranjang dan meneruskan tangisannya. Kehidupan keras dan kejam selama itu telah dijalani kedua orang tuanya dengan keberanian, karena hanya mempunyai modal keberanian. Karena ada modal untuk menghadapinya: keyakinan, bahwa orang tuanya bisa juga hidup dari tangannya sendiri. Tapi dalam kepahitan dan kesakitan saat ini, siapakah yang punya modal untuk menghadapinya? Siapa yang mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan ayahnya? Waktu pintu diketok dan dari luar terdengar ajakan makan, Klara tetap meneruskan tangisnya—menangisi sesuatu yang ia tidak mengerti. Tapi rasa sakit dan kepahitan itu terus membanjirkan air matanya. Dan malam itu adalah malam panjang yang berisi satu tubuh satu jiwa: Ibunya yang abadi dalam tulisan-tulisan juga dongeng sebelum tidur ayahnya dan ayahnya yang divonis dokter tidak akan hidup lama lagi sebab penyakit yang dideritanya. Ia rangkum itu untuk takkan dilepas-lepaskannya untuk selama-lamanya. Dan tentang dongeng-dongeng ayahnya sebelum ia tidur, akan senantiasa abadi. Dongeng tentang Ana, ibunya. Dan ia kembali menangis, ketika mengingat Ben, ayahnya sedang berbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. (T)
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...