Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Sebagian warga Kampung Ambumi dan Yerinusi yang melakukan kegiatan penanaman pohon mangrove di muara Kali Wosimi. (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
Beberapa anak muda dan kelompok masyarakat lainnya yang bergabung dalam penanaman mangrove, berkumpul di rumah Kepala Kampung Ambumi. Secara kebetulan yang menjadi koordinator dari penanaman mangrove itu adalah anak tertua dari Kepala Kampung Ambumi yang bekerja sebagai tenaga PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) di kampungnya sendiri. Melalui hubungan saudara dengan seorang staf Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, maka ia ditugaskan untuk menjadi koordinator penanaman pohon mangrove di kawasan Kampung Ambumi yang merupakan bagian dari kawasan Teluk Cenderawasih.
Sepanjang perjalanan menuju muara Kali Wosimi, saya melihat perbukitan yang dipenuhi dengan kebun-kebun masyarakat dari Kampung Ambumi dan Kampung Yerinusi. Ternyata betul saja, di samping Kali Wosimi yang terbentang dari Kampung Ambumi terdapat dusun-dusun sagu dan kebun-kebun masyarakat. Beberapa masyarakat kami jumpai tengah mendayung perahu mereka yang ukurannya kecil-kecil untuk menuju ke kebun atau dusun sagu. Kepemilikan kebun-kebun tersebut sesuai dengan hak-hak ulayat masing-masing marga, sehingga masing-masing marga dan seluruh anggota memiliki kebun di sepanjang muara Kali Wosimi. Terdapat juga wilayah pemakaman masyarakat yang juga terletak di sepanjang muara Kali Wosimi.
BACA JUGA:
Saat hari menjelang siang, kurang lebih pukul 11.00, kami diberitahu agar bersiap untuk menuju muara Kali Wosimi melakukan penanaman pohon mangrove. Sebelumnya, beberapa anak muda keluar dari rumah panggung yang bersebelahan dengan rumah kepala kampung. Mereka telah dijamu oleh anak kepala kampung dengan makan mie instan dan nasi sebelum melakukan penanaman mangrove. Jumlah mereka cukup banyak kurang lebih 8 orang dengan menggunakan satu perahu besar dilengkapi dengan bekal air minum, biskuit, dan saguer (minuman lokal dari air kelapa yang diawetkan).
[caption id="attachment_8518" align="aligncenter" width="559"]
Penanaman pohon mangrove saat air laut meti (surut). (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
Sesampainya di muara Kali Wosimi, air sudah meti (surut). Pohon-pohon mangrove yang sebelumnya telah dibuang tampak jelas terlihat ketika air meti. Saat itu kami kurang lebih berjumlah 30-an orang terdiri dari anak-anak muda dan warga Kampung Ambumi dan Yerinusi. Ada yang menggunakan perahu Waruri milik kepala Kampung Ambumi dan ada juga dengan perahu sendiri menuju muara Kali Wosimi dan bergabung untuk menanam mangrove.
Langkah yang pertama dilakukan adalah mengukur penanaman pohon mangrove. Beberapa warga mencari ranting-ranting di daratan sebagai penyangga pohon mangrove yang masih kecil. Saat itu target dari penanaman mangrove adalah sepanjang pinggiran muara Kali Wosimi. Namun untuk hari pertama ini, jumlah pohon mangrove yang dibawa tidak begitu banyak. Mereka memperkirakan bisa menyelesaikan penanaman mangrove di seluruh pinggiran muara Kali Wosimi selama seminggu.
[caption id="attachment_8519" align="aligncenter" width="578"]
Penanaman pohon mangrove saat air laut meti (surut). (foto: I Ngurah Suryawan)[/caption]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...