Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
Penyalin lontar ini, saya hampir yakin, punya kesengajaan menipu pembeli (mungkin Pusdok mengupah atau membeli) lontar ini. Pada halaman pertama, kalimat pertama berbunyi sebagai berikut: "Buddha-gama". Kalimat selanjutnya tidak ada hubungan dengan judulnya, malah yang disalin selanjutnya, menjadi isi lontar ini, adalah 'Usada Wong Beling'.
Silahkan lontar bisa dilihat dan baca di link ini:
https://archive.org/stream/buddha-gama/buddha-gama-400ppi#page/n0
Lontar-lontar lain yang sangat-sangat berpotensi memunculkan konflik adalah beberapa lontar yang merupakan babad, prasasti, atau lontar yang disebut prasasti atau babad, tapi isinya adalah karya baru yang sangat meragukan. Tidak disertai keterangan apapun kalau babad, purana, atau yang disebut prasasti tersebut sumber dan tahun penulisannya. Penulisan ini memang terkesan ada kesengajaan menyamarkan isi lontar agar terkesan kuno.
Pembaca awam umumnya berasumsi, bahkan banyak percaya begitu saja, bahwa apa yang ada di lontar berasal dari ratusan tahun silam. Bagi kalangan awam lontar adalah sesuatu yang kuno. Padahal tidak sepenuhnya benar. Banyak lontar berjudul babad, purana, dan prasasti, muncul di tahun 1950-an, 1960-an, 1970-an, bahkan penulisan babad keluarga tertentu ada yang ditulis ulang tahun 1990-an yang tak lain revisi lontar sebelumnya, atau rangkuman lontar ditambahi data efigrafi hasil penelitian sarjana Belanda, dimasukkan dalam lontar tersebut, sehingga terkesan kuno dari segi bahasa dan juga isi.
Secara pribadi saya belajar banyak dari lontar-lontar koleksi Pusat Dokumentasi, tapi pesan saya: Jangan 100% mempercayai isi lontar-lontar tersebut, sebaiknya baca tuntas, lalu carikan lontar pembanding, setidaknya bisa dicek koleksi Gedung Kirtya atau tepat lainnya.
Ada beberapa yang sangat bermutu baik di Pusat Dokumentasi Bali, contohnya adalah lontar-lontar koleksi Gedung Kirtya yang kini tersimpan di Pusat Dokumentasi Bali (dulu kabarnya dipinjam dan belum dikembalikan ke Gedung Kirtya sampai kini) dan lontar-lontar tua lainnya, serta salinan para tokoh penulis yang sangat bisa dipertanggungjawabkan isinya, terlihat dari kolofon dan penulisannya yang konsisten menggunakan 'pasang pageh', disertai keterangan babonnya.
Secara umum saya bisa katakan 10% lontar dan atau salinan lontar serta transkrip lontar koleksi di Pusat Dokumentasi Bali meragukan, 90% bisa kita jadikan bagian pembelajaran yang berarti dan penting, sekalipun harus tetap dibandingkan dengan lontar sejenis dari tempat lain.
Apa yang perlu dikerjakan? Apa solusinya?
Koleksi lontar di Pusat Dokumentasi Bali sebaiknya dikurasi ulang, agar koleksi yang ada mempunyai kejelasan asal dan proses penyalinan, serta ditambahkan lontar bersumber dari lontar kuno (salinan lontar), karya baru atau buku, disebutkan dengan jelas siapa yang menjadi penyedian/pedagang/penulis lontar itu secara singkat.
Kerja ini adalah kerja detektif melacak kembali dari mana lontar-lontar itu diperoleh dan siapa yang menjadi penyalinnya, untuk kejelasan data naskah. Walaupun beberapa lontar ada keterangan penyalinan, pada kolofonnya, tapi tidak semua masyarakat bisa memahaminya.
Bagi para peneliti dan mahasiswa yang memakai acuan lontar-lontar atau transkrip di Pusat Dokumentasi Bali, sebaiknya melakukan perbandingan dengan lontar-lontar atau transkrip yang disediakan di Gedung Kirtya atau perpustakaan lainnya.
Ketidaktersediaan informasi terkait asal-usul lontar, ketidakberesan kuratorial, ketiadaan sinkronisasi kembali judul dan isi, serta tiadanya pengecekan isi di masa awal pengumpulan lontar sebagai tambahan koleksi Pusat Dokumentasi Bali, berpotensi menyesatkan pembacanya (yang umumnya krama Bali). Mahasiswa atau peneliti yang kurang peka atau tidak melakukan cross-checking isi, jika memakai lontar-lontar tersebut, berpotensi menyebarkan ketidakvalidan isi lontar-lontar yang isinya kurang meyakinkan tersebut.
*Catatan Harian, Sugi Lanus, 21 Agustus 2018.
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...