Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Bahkan ia sampai dibunuh dan diperlakukan secara tidak pantas. Berkat perjuangannya, orang-orang selalu mengenangnya dalam setiap arloji yang melingkar di setiap pergelangan tangan seseorang. Penampilan Sintia dikatakan cukup sukses, walaupun memang terlihat sedikit gugup. Sintai mengakui bahwa itu kali pertamanya ia mementaskan pembacaan puisi yang disaksikan oleh orang-orang yang memang sudah mengerti dengan sastra.
Ketika adanya sesi diskusi, Sintia menerima masukan-masukan dari komunitas lainnya untuk membuat dirinya menjadi lebih baik lagi, khususnya dalam pembacaan puisi, Sintia ini salah satu anggota yang sangat rajin dan konsisten untuk mengikuti latihan selama beberapa minggu sebelum pementasan.
Di tengah-tengah kesibukannya menjalankan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa dan aktif di kegiatan penting lainnya, Sintia juga berkeinginan untuk bisa membaca puisi, membaca puisi itu memang terlihat dan terbayang sangat mudah tetapi kenyataannya sangat sulit dan Sintia juga merasakannya. Ia belajar dari nol hingga ia berhasil seperti ini.
Lanjut, penampilan yang kedua masih dalam pembacaan puisi, anggota Cemara Angin yang bernama Lyana membacakan naskah berjudul “Kerawang Bekasi” karya Chairil Anwar. Lyana membawakannya juga cukup sukses, ia memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi.
Kedua puisi ini memang tidak disadari memiliki kempiripan tentang suatu kekejaman. Masing-masing puisi yang dipentaskan juga dipilih sendiri oleh pembaca/pemainnya yaitu Sintia dan Lyana. Ketika adanya diskusi pun, Lyana juga mencerna masukan-masukan dari penonton agar penampilan kedepannya menjadi semakin lebih baik lagi.
Beralih dari pembacaan puisi, penampilan ketiga ada Novera yang menampilkan pembacaan cerpen. Cerpen yang di bacakan ialah “Saksi Mata” karya Seno Gumira Ajidarma, cerpen ini memang sangat menarik. Novera juga berhasil membawakannya, walaupun memang masih ada banyak yang harus ia kuasai ketika membaca cerpen tersebut, ada beberapa masukan yang sangat membangun untuk novera, mulai dari pembawaan cerpen harus lebih ekspresif, menarik dan bisa sampai kepada penonton.
Naskah cerpen memang sedikit lebih banyak , untuk itulah kita harus mampu mencairkan suasana agar ketika pembacaan cerpen berlangsung, penonton tidak merasa jenuh, saran-saran dan masukan dari penonton ialah kita harus bisa menunjukan perbedaan antara narasi dan dialog dari naskah cerpen itu sendiri. Seperti dialog yang satu dengan lainnya harus dibedakan lagi kemudian lebih banyak lagi mencari contoh atau video-video pembacaan cerpen yang bagus.
Dengan adanya masukan dari penonton membuat Novera ingin mendalami kemampuannya dan lebih banyak belajar lagi untuk pembacaarn cerpen karena saat itu pertama kalinya ia berani mengambil tantangan untuk membacakan cerpen. Dan ia tampak bahagia. Saat itu malam semakin larut, penonton masih ramai berdatangan walaupun tidak seramai yang dibayangkan. Dari ketegangan, pementasan akan beralih pada hal yang lebih menarik lagi. Bukankah menarik jika suatu puisi dikolaborasikan dengan musik, tidak hanya dibacakan saja, puisi tersebut juga dinyanyikan dengan iringan musik.
Yups, setelah pembacaan puisi dan cerpen, penampilan selanjutnya ialah Musikalisasi Puisi yang dipentaskan oleh beberapa anak-anak Cemara Angin. Seorang gadis berparas manis yang memiliki suara memikat hati bernama Dewi dan empat pria gagah yang memiliki suara dan keterampilan bermusik yang memikat.
Keempat pria itu bernama Anif, Fathor, Khalid, dan Dandi. Mereka membawakan tiga buah puisi kompak dengan baju berwarna putih, puisi yang dibawakan diantaranya, “Interior Danau” karya Made Adnyana Ole, Aku Danau Aku Laut karya Tan Lioe Ie, dan “Tentang Maut” karya Gunawan Muhammad.
Ketiga puisi tersebut dibawakan dengan sangat memukau, begitu enak didengar. Alunan musiknya juga sangat enak untuk di dengar, intinya mereka dengan sukses membawakannya. Ketika sesi diskusipun mereka mendapatkan lebih banyak ilmu berkat masukan-masukan dari penonton dan kakak-kakak Cemara Angin yang terdahulu. Ketika bagian pembacaan puisi yang kurang jelas, mereka yang masih tampak malu-malu, dan apa saja hal-hal penting yang harus diperhatikan ketika pentas.
Semua itu telah mereka dapat malam itu dari penonton yang merasakan dan menikmati penampilan mereka. Kesuksesan mereka juga didukung oleh anggota Cemara Angin terutama angkatan yang terdahulu yang sangat mendukung dan membimbing mereka hingga mereka bisa.
Waktu begitu cepat berlalu, kecemasan pemain yang sudah usai tampil mulai menghilang. Mereka akhirnya bisa bernafas lega dan kembali mengingat-ingat penampilan mereka tadi. Tinggal yang bermain di dramatisasi puisi yang jelas tampak kecemasannya karena saatnya mereka tampil terakhir sebagai penutupan Malam Apresiasi Sastra.
[caption id="attachment_5185" align="alignnone" width="737"]
Drmatisasi Dongeng Marsinah[/caption]
Puisi yang didramatisasikan ialah “Dongeng Marsinah” karya Sapardi Djoko Damono. Dramatisasi dimainkan oleh Sari, Putri Santini (PS), Risma, Gunar, Ayu, Ulum, Pandu. Mereka tampil dengan sungguh-sungguh, sehingga ketika sesi diskusi pun banyak yang mengatakan bahwa penampilan ini begitu masuk dan dipahami oleh penonton. Penonton bisa berspekulasi bagaiman konsepnya bisa seperti itu.
Awalnya, orang-orang membacakan puisi dengan membaca oran, kemudian si Marsinah itu menari-nari di lantai. Ada long-longan anjing ketika mersinah tiada dan adanya benang-benang berwarna yang melilit tubuh marsinah dan sang malaikat yang diiringi oleh senandungan. Ah penampilan yang sangat memukau dan penghayatan dari masing-masing peran yang di dapat oleh pemain begitu mereka hayati. Tepukan tangan yang meriah dan sorak penonton yang merasa senang menyaksikan pementasan itu menjadi penutupan yang sangat manis di malam itu.
Setelah usainya diskusi antara seluruh pemain dan penonton dengan jarak yang berdekatan, akhirnya membuat hati mereka semua menjadi sangat bahagia. Pementasan ini berakhir dengan kenangan indah yang dirasakan oleh setiap pemainnya, walaupun mereka masih harus banyak belajar lagi.
Selain pemain, Malam Apresiasi Sastra dari Komunitas Cemara Angin ini juga tidak akan sukses jika tidak dibantu oleh orang-orang yang berada dibalik layar pementasan ini, seperti pada bagian lighting yang luar biasa, penata rias, kostum, dan masih banyak lagi. Pementasan ini merupakan hasil latihan pertama anak-anak Cemara Angin yang disutradarai bersama sebagai pencarian terhadap bentuk pementasan.
Tim produksi dari pementasan tersebut ialah keluarga besar Komunitas Cemara Angin sebagai bentuk kebersamaan. Proses jauh lebih penting dari suatu pementasan itu. Ketika Cemara Angin mulai berproses sedikit demi sedikit maka hasil yang didapat pasti akan memuaskan.Syukurlah mereka selalu merasa tidak puas dan ingin terus belajar dan belajar. (T)
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...