Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Bahkan ia sampai dibunuh dan diperlakukan secara tidak pantas. Berkat perjuangannya, orang-orang selalu mengenangnya dalam setiap arloji yang melingkar di setiap pergelangan tangan seseorang. Penampilan Sintia dikatakan cukup sukses, walaupun memang terlihat sedikit gugup. Sintai mengakui bahwa itu kali pertamanya ia mementaskan pembacaan puisi yang disaksikan oleh orang-orang yang memang sudah mengerti dengan sastra.
Ketika adanya sesi diskusi, Sintia menerima masukan-masukan dari komunitas lainnya untuk membuat dirinya menjadi lebih baik lagi, khususnya dalam pembacaan puisi, Sintia ini salah satu anggota yang sangat rajin dan konsisten untuk mengikuti latihan selama beberapa minggu sebelum pementasan.
Di tengah-tengah kesibukannya menjalankan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa dan aktif di kegiatan penting lainnya, Sintia juga berkeinginan untuk bisa membaca puisi, membaca puisi itu memang terlihat dan terbayang sangat mudah tetapi kenyataannya sangat sulit dan Sintia juga merasakannya. Ia belajar dari nol hingga ia berhasil seperti ini.
Lanjut, penampilan yang kedua masih dalam pembacaan puisi, anggota Cemara Angin yang bernama Lyana membacakan naskah berjudul “Kerawang Bekasi” karya Chairil Anwar. Lyana membawakannya juga cukup sukses, ia memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi.
Kedua puisi ini memang tidak disadari memiliki kempiripan tentang suatu kekejaman. Masing-masing puisi yang dipentaskan juga dipilih sendiri oleh pembaca/pemainnya yaitu Sintia dan Lyana. Ketika adanya diskusi pun, Lyana juga mencerna masukan-masukan dari penonton agar penampilan kedepannya menjadi semakin lebih baik lagi.
Beralih dari pembacaan puisi, penampilan ketiga ada Novera yang menampilkan pembacaan cerpen. Cerpen yang di bacakan ialah “Saksi Mata” karya Seno Gumira Ajidarma, cerpen ini memang sangat menarik. Novera juga berhasil membawakannya, walaupun memang masih ada banyak yang harus ia kuasai ketika membaca cerpen tersebut, ada beberapa masukan yang sangat membangun untuk novera, mulai dari pembawaan cerpen harus lebih ekspresif, menarik dan bisa sampai kepada penonton.
Naskah cerpen memang sedikit lebih banyak , untuk itulah kita harus mampu mencairkan suasana agar ketika pembacaan cerpen berlangsung, penonton tidak merasa jenuh, saran-saran dan masukan dari penonton ialah kita harus bisa menunjukan perbedaan antara narasi dan dialog dari naskah cerpen itu sendiri. Seperti dialog yang satu dengan lainnya harus dibedakan lagi kemudian lebih banyak lagi mencari contoh atau video-video pembacaan cerpen yang bagus.
Dengan adanya masukan dari penonton membuat Novera ingin mendalami kemampuannya dan lebih banyak belajar lagi untuk pembacaarn cerpen karena saat itu pertama kalinya ia berani mengambil tantangan untuk membacakan cerpen. Dan ia tampak bahagia. Saat itu malam semakin larut, penonton masih ramai berdatangan walaupun tidak seramai yang dibayangkan. Dari ketegangan, pementasan akan beralih pada hal yang lebih menarik lagi. Bukankah menarik jika suatu puisi dikolaborasikan dengan musik, tidak hanya dibacakan saja, puisi tersebut juga dinyanyikan dengan iringan musik.
Yups, setelah pembacaan puisi dan cerpen, penampilan selanjutnya ialah Musikalisasi Puisi yang dipentaskan oleh beberapa anak-anak Cemara Angin. Seorang gadis berparas manis yang memiliki suara memikat hati bernama Dewi dan empat pria gagah yang memiliki suara dan keterampilan bermusik yang memikat.
Keempat pria itu bernama Anif, Fathor, Khalid, dan Dandi. Mereka membawakan tiga buah puisi kompak dengan baju berwarna putih, puisi yang dibawakan diantaranya, “Interior Danau” karya Made Adnyana Ole, Aku Danau Aku Laut karya Tan Lioe Ie, dan “Tentang Maut” karya Gunawan Muhammad.
Ketiga puisi tersebut dibawakan dengan sangat memukau, begitu enak didengar. Alunan musiknya juga sangat enak untuk di dengar, intinya mereka dengan sukses membawakannya. Ketika sesi diskusipun mereka mendapatkan lebih banyak ilmu berkat masukan-masukan dari penonton dan kakak-kakak Cemara Angin yang terdahulu. Ketika bagian pembacaan puisi yang kurang jelas, mereka yang masih tampak malu-malu, dan apa saja hal-hal penting yang harus diperhatikan ketika pentas.
Semua itu telah mereka dapat malam itu dari penonton yang merasakan dan menikmati penampilan mereka. Kesuksesan mereka juga didukung oleh anggota Cemara Angin terutama angkatan yang terdahulu yang sangat mendukung dan membimbing mereka hingga mereka bisa.
Waktu begitu cepat berlalu, kecemasan pemain yang sudah usai tampil mulai menghilang. Mereka akhirnya bisa bernafas lega dan kembali mengingat-ingat penampilan mereka tadi. Tinggal yang bermain di dramatisasi puisi yang jelas tampak kecemasannya karena saatnya mereka tampil terakhir sebagai penutupan Malam Apresiasi Sastra.
[caption id="attachment_5185" align="alignnone" width="737"]
Drmatisasi Dongeng Marsinah[/caption]
Puisi yang didramatisasikan ialah “Dongeng Marsinah” karya Sapardi Djoko Damono. Dramatisasi dimainkan oleh Sari, Putri Santini (PS), Risma, Gunar, Ayu, Ulum, Pandu. Mereka tampil dengan sungguh-sungguh, sehingga ketika sesi diskusi pun banyak yang mengatakan bahwa penampilan ini begitu masuk dan dipahami oleh penonton. Penonton bisa berspekulasi bagaiman konsepnya bisa seperti itu.
Awalnya, orang-orang membacakan puisi dengan membaca oran, kemudian si Marsinah itu menari-nari di lantai. Ada long-longan anjing ketika mersinah tiada dan adanya benang-benang berwarna yang melilit tubuh marsinah dan sang malaikat yang diiringi oleh senandungan. Ah penampilan yang sangat memukau dan penghayatan dari masing-masing peran yang di dapat oleh pemain begitu mereka hayati. Tepukan tangan yang meriah dan sorak penonton yang merasa senang menyaksikan pementasan itu menjadi penutupan yang sangat manis di malam itu.
Setelah usainya diskusi antara seluruh pemain dan penonton dengan jarak yang berdekatan, akhirnya membuat hati mereka semua menjadi sangat bahagia. Pementasan ini berakhir dengan kenangan indah yang dirasakan oleh setiap pemainnya, walaupun mereka masih harus banyak belajar lagi.
Selain pemain, Malam Apresiasi Sastra dari Komunitas Cemara Angin ini juga tidak akan sukses jika tidak dibantu oleh orang-orang yang berada dibalik layar pementasan ini, seperti pada bagian lighting yang luar biasa, penata rias, kostum, dan masih banyak lagi. Pementasan ini merupakan hasil latihan pertama anak-anak Cemara Angin yang disutradarai bersama sebagai pencarian terhadap bentuk pementasan.
Tim produksi dari pementasan tersebut ialah keluarga besar Komunitas Cemara Angin sebagai bentuk kebersamaan. Proses jauh lebih penting dari suatu pementasan itu. Ketika Cemara Angin mulai berproses sedikit demi sedikit maka hasil yang didapat pasti akan memuaskan.Syukurlah mereka selalu merasa tidak puas dan ingin terus belajar dan belajar. (T)
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...