Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Atas dasar tersebut, apapaun yang dilakukan di luar kebiasaan orang tidaklah berarti bagi seorang yang sudah tidak suka. Parahnya lagi mengkritik bukan ranah kemampuannya, ada saja yang dibilang sepertinya suara burung yang berkicau tanpa nada dan bising.
Bercerminlah pada diri agar bisa melihat diri sendiri secara utuh. Instropeksi diri adalah cara mengolah ego dan emosi yang berujung pada ketenangan. Apresiasilah bila mana sahabat kita telah melakukan sesuatu sehingga kemunculan berkreativitas semakin produktif.
Cuma di sini perlu adanya sebuah kritik bukan berdasarkan suka dan tidak suka. Lebih elegan dengan cara ini mengkritisi seorang lebih damai. Bukan anti kritik, butuh kritik dalam setiap kegiatan berkreativitas hal itu sangat dibutuhkan sebagai penimbang.
Sejuk dalam menjalani kehidupan di jaman kontenporer melihat dua sisi muka (bercermin), gejolak emosional menilai sesuatu lebih berimbang tidak hanya berbicara tapi bisa dipertangungjawabkan pernyataan yang sudah diucapkan.
Memang sulit sekali mengontrol sebuah hegomoni di jaman serba cepat, paling tidak untuk mendapatkan sebuah rujukan hidup “mulat sarira”.
I Ketut Suasana seorang perupa mengapresiasi kegelisahannya melihat manusia sekarang yang bisanya hanya melihat satu muka, satu sisi. Perupa yang lebih dipanggil dengan nama Kabul ini mencari akar diri mengembangkan, menggapai tempat puncak dalam hidup.
Manusia mulai lupa mengenal dirinya sendiri secara utuh. Pengenalan pada dirinya akan lebih mudah mencari kelemahan dan kelebihan. Perenungan perjalann kehidupan baik buruk yang sudah terlewati menjadi sebuah perenungan ke masa depan lebih semarak penuh warna.
Dogma dan doktrin atas segala perbedaan adalah cara menumbuhkan “warna“ yang sudah digambarkan kembali pada akar pribadi masing-masing dalam menyikapi persoalan pelik itu.
Orang dengan mudah sekali terjun ke spektrum tersebut dengan dalih apapaun demi melampiaskan hegomoni semata. Mencari kesalahan tapi lupa akan kesalahan diri seperti pepatah bilang “gajah di pelupuk mata tak terlihat”.
Dalam karya-karya lukisnya, Kabul juga menyinggung soal kebisingan gedung terhormat dan dikatakan suci, keramat serta angker. Gedung rakyat yang penghuninya penuh dengan intrik gaduh lupa tupoksi. Bukannya hasil kinerja jadi kebanggan, malah ikut meramaikan kegaduhan tak ada hasilnya.
Tontonan kemewahan yang diperlihatkan secara drastis mengubah paradigma mereka. Tatkala kesadaran mereka lupa tanggungjawab mereka sebagai pelayan masyarakat, ketika itu terjadi menolak kesadaran diri. Setiap detik banyak sekali rasanya terlewati yang mahal adalah instropeksi diri. (T)
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...