Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Ada beberapa hal yang menurutku unik dalam perjalanan menuju puncak pada malam itu. Yang pertama adalah pelinggih ‘pohon kembar’ yang seperti gerbang menuju puncak. Tak lupa kami sembahyang, sekaligus mohon ijin gitu deh guys. Kemudian, di beberapa menit sebelum puncak, juga ada pelinggih yang menurut internet namanya Pura Beji. Pelinggihnya beratapkan ijuk dan dinaungi pohon rapat. Kalo siang, pasti keren banget untuk foto. Tapi karena malam dan ingin segera berada di puncak, kami tak sempat narsis. Beberapa juga takut kameranya kehujanan. Wkwkw. Ya sudah, narsisnya bisa ditunda sampe besok.
Tak jauh dari Pura Beji, sampailah kami di puncak. Kondisi puncak saat itu sedang berkabut dan hujan. Tanah juga menjadi licin. Kami satu-satunya rombongan di atas. Tak ada pendaki ataupun pemedek lain. Di kejauhan, kulihat ada pelinggih meru dan beberapa pelinggih lain dalam kompleks yang sama. Di beberapa bagian juga kulihat ada bale-bale.
Selamat datang di Pura Pucak Mangu, begitu ucapku dalam hati. Aku lega, bahagia dan bersyukur sekali bisa ‘tangkil’ di salah satu pura penting di Bali ini. Aku segera menuju pura dan bersembahyang di sana.
Nah, selanjutnya adalah menentukan lokasi camp. Seluruh kawasan pura tampaknya becek sekali. Mila, Dwik dan Made memilih untuk membangun tenda di bale-bale. Iwan juga demikian, dengan alasan tanah sedang dalam kondisi becek. Aku dan Tusan memilih berkemah di bawah pohon. Kebetulan tanahnya agak berumput, memang basah, tapi tidak becek.
Sementara Gede dan Gorby berkemah tepat di samping tenda kami. Suasana sangat menenangkan, udara dingin, tenda yang nyaman, suplai makanan yang cukup, dan teman-teman yang lucu. Angin menderu dengan keras. Sayup-sayup bisa kudengar suara pinus yang diterpa angin, kadang beberapa dahan patah, jatuh ke atap bale. Suasana memang gelap, tapi aku merasa damai. Tidur juga nyenyak banget.
Keesokan harinya, matahari muncul dengan cerah menyingkap pemandangan indah Gunung Catur. Dari kejauhan, tampak Danau Beratan dan gugusan pegunungan kawasan Bedugul. Ketika cuaca makin cerah, kabut tipis perlahan hilang, memperjelas Danau Beratan yang berkilauan.
Tampak di kejauhan mobil-mobil bergerak perlahan seperti semut di jalur Bedugul. Rasanya menakjubkan, karena biasanya aku cuma melihat gunung ini dari jalan di Bedugul. Kini sebaliknya, aku melihat jalan di Bedugul dari puncak Gunung Catur.
Seperti otomatis, langsung aja para geng narsis beraksi. Cekrek. Cekrek. Cekrek. Sampai ratusan cekrek. Wkwkw. Buat video juga tidak dilewatkan. Pokoknya seru banget.
Nah, tidak lupa juga kami ngayah bersih-bersih di sekitar kawasan pura. Setelah bersih-bersih, kami langsung memakai pakaian adat dan bersembahyang bersama. Duh… suasananya itu lho. Suasana khusyuk, ditambah semilir angin, apalagi cuaca yang adem, bikin betah berdoa lama-lama.
Jam 10, kami balik. Dalam perjalanan turun, barulah kita lihat kondisi hutan yang sebenarnya. Pada intinya, hutan Gunung Catur masih terjaga dengan baik. Pohon-pohon tumbuh tinggi membentuk kanopi lebat, berbagai jenis paku juga tumbuh subur. Dasar geng narsis, bahkan dalam perjalanan pulang pun teman-temanku masih tetap foto-foto. Aku juga ikut sih. Wkwkw.
Menjelang siang, banyak pemedek yang mendaki untuk bersembahyang. Perjalanan turun sedikit lebih cepat, kira-kira jam 12 siang sudah berada di parkiran. Baru kusadari, di mata kakiku bercokol seekor lintah dengan imutnya menghisap darahku.
Sebelum membasminya, kusempatkan mengambil foto lintah itu. Tusan langsung membalurkan minyak GPU ke lintah itu, dan segera saja lintah itu menggelinjang manja dan melepaskan tubuhnya dari kakiku. Konsekuensinya, darah terus mengalir. Ada seorang pedagang yang memberikan serbuk kopi, katanya harus ditempelkan gitu ke luka bekas gigitan lintah. Beberapa jam setelahnya, darah terus mengalir. Katanya sih memang lama gitu sih keringnya..
Pura Pucak Mangu memang luar biasa. Vibrasi spiritual yang kental ditambah pemandangan yang indah membuat Gunung Catur ini layak dikunjungi, terutama untuk keperluan spiritual. Pada akhirnya, aku dan teman-teman pun sepakat bahwa kami akan kembali. Udah deh guys.. langsung aja ke sana dan buktikan sendiri keindahan Pura Pucak Mangu. (T)
Tulisan lain Canestra Adi Putra bisa dilihat di: Blog Canestra - Music. Travel. Books. Movies. Culinary. Designs. Fashion. Lifestyle. Random Stuffs.
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...