Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
HALO MAHASISA! Sudahkah wisuda tahun ini? Kalau belum, dengan segala rasa iba dan duka yang teramat sangat dari lubuk hati yang paling dalam, saya sarankan tak usah melanjutkan membaca artikel ini.
Sebab SKS anda belum cukup untuk membacanya. Lebih baik waktu yang semakin sempit, digunakan untuk melanjutkan skripsi yang belum juga rampung dari zaman Pokemon Yellow. Bayangkan! Ini sudah lewat zaman pokemon-Go, Bung! Harusnya, Go! Go! Skripsi dong! Seperti kata seorang kawan, “Skripsi itu diketik, Bung! Bukan dipikirin!”
Nah, bagi kawan-kawan yang diwisuda, saya ucapkan selamat! Welcome to jungle! Nikmatilah hidup yang lebih sengsara dari sekadar rasa lapar anak kosan yang menunggu kiriman bekal orang tua. Nikmatilah keputusasaan tak dapat kerja yang lebih menyakitkan ketimbang diputusin pacar.
Dan yang paling penting, nikmatilah kesendirian karena tak ada lagi kawan. Sebab kini yang ada hanyalah saingan-saingan yang mesti dikalahkan saat tes CPNS nanti.
Dalam rangka menanggulangi hal-hal yang tak diinginkan inilah, saya menyuguhkan jenis-jenis wisudawan dan pekerjaan apa yang paling tepat untuk ditekuni. Dengan mengkombinasikan karakter, tahun, zodiak, wuku, weton, ditambah landasan teori disertai uji validitas yang tak jelas daftar pustakanya, silahkan diterawang, jenis-jenis wisudawan dan pekerjaan apa yang paling tepat ditekuni oleh anda sekalian.
Wisudawan Cumlaude
Inilah wisudawan paling topcer. Yang paling dielu-elukan oleh Pak Rektor, dosen, orang tua, pacar, dan tentu saja dirinya sendiri. Cumlaude! Apalagi tamat 3,5 tahun! Tentu ia mahasiswa yang rajin, disiplin, dan cepat waktu. Kecepatan waktu bahkan.
Yang menarik adalah, sebagian dari mereka merupakan tipe pekerja keras. Itu tampak saat menyusun skripsi. Sekarang bimbingan, malam revisi, besok bimbingan lagi. Tak peduli revisiannya sudah benar, masih salah, atau makin salah. Yang penting revisi. Jika itu anda, dengan tekad sekuat ini, pekerjaan yang paling cocok adalah aktivis dan bisnis MLM.
Bayangkanlah jika semua aktivis seperti anda. Pagi demo, siang demo, malam demo, kapanpun, dimanapun demo. Siapa yang bisa tahan coba? Begitu pula dengan bisnis MLM, bisa dipastikan karena sang klien tidak tahan dengan omongan anda yang itu-itu saja. Yang datang tiap hari. Mereka terpaksa mengalah untuk ikut anda. Tentunya, bisnis ini akan berkembang berjuta-juta kaki kali lipat!
Wisudawan Biasa-biasa Saja
Kalau yang ini sih, tak ada menarik-menariknya. Semua yang dilakukan ya normal-normal saja. Lancaaarrr... amaaaannn.... terkendaliiii.... pekerjaan yang cocok hemm....... ya... cari-cari sendiriiiii.....
Wisudawan Adem Ayem
Ia adalah wisudawan yang pasrah. Ia pasrah sejak jadi mahasiswa, dan tamat juga dalam kondisi pasrah. Saat bikin skripsi itu tampak jelas. Dikasi ujian ya syukur. Revisi lagi ya jalani. Di balik kesederhanaan wisudawan adem ayem ini, sebenarnya ia benar-benar punya kharisma tersembunyi. Bakat yang tak pernah dibayangkan siapapun.
Sebab, dalam hidup yang serba cepat, carut marut, dan penuh tuntutan dewasa ini, bukanlah hal mudah untuk pasrah. Berserah pada Yang Di Atas. Alam biasanya menyayangi orang seperti ini.
Maka jangan heran apabila kelak ia menjadi cenayang yang disegani atau orang suci yang menuntun umat ke jalan maha suci, yakni ketiadaan. Sebab Kosong adalah berisi. Berisi adalah kosong. Apalah bedanya ujian kini dan nanti jikalau skripsi akhirnya digunakan alas penyangga LCD? Amitaba.. Sancai.. sancai..
Wisudawan Beli Skripsi
Nah.. semua juga sudah sama-sama tahu tentang wisudawan jenis ini, kan. Sudah jadi rahasia umum. Jadi tak perlulah dijelaskan lagi.
Bagian penting yang perlu ditekankan adalah orang-orang inilah yang benar-benar tahu kapasitas dirinya sendiri. Sejarah sudah membuktikan, bahwa bukan orang pintar, kaya, atau beruntung yang akan sukses dalam karirnya. Melainkan orang yang tahu kapasitas dirinya sendiri.
Kalau tahu diri mampu tapi malas, belilah skripsi. Kalau tahu diri bodoh, beli jugalah skripsi. tinggal minta si empunya untuk mengajarimu sampai mengerti. Beres!
Perlu anda ketahui. Banyak sarjana-sarjana pintar yang tak beruntung, yang tak dapat pekerjaan dengan gaji yang layak, hidup berkat diri anda. Dengan ini pula, anda telah membantu negara yang tak kunjung mampu memberikan pekerjaan yang layak bagi warga negaranya.
Wisudawan Hampir D.O
Jika boleh memilih, dari semua wisudawan, ini adalah jenis yang paling fenomenal, kontroversial, dan krusial. Di zaman yang tak lagi mampu mengonstruksi sesuatunya menjadi legenda dan mitos. Ialah yang mampu mengalahkan zaman. Ialah sang legenda hidup! Mitos yang ditakuti dosen.
Sebab jika ada saja yang D.O, tentu akan mencoreng nama lembaga itu sendiri. Maka saat mahasiswa kebanyakan mengejar dosen, ia malah berbalik. Dosen mengejar dirinya! Betapa mengerikannya.
Ialah satu-satunya yang tidak terjebak oleh arus industri wisuda. Ialah penyeimbang bagi mereka yang cepat wisuda. Ialah pengingat bagi lembaga yang lupa mengayomi mahasiwa. Ialah satu-satunya mesias, yang kelak boleh jadi membawa harkat dan martabat negara menjadi bangsa yang besar.
Tak lagi terpengaruh pada wacana politik dunia melainkan menjadi poros yang dikejar-kejar dunia. Sebagaimana yang dicita-citakan oleh bapak bangsa kita, bahwa Indonesia mesi BERDIKARI. Berdiri di Bawah Kaki Sendiri. Meski terancam D.O sekalipun! Maka wahai Wisudawan yang Hampir D.O, berbanggalah. Berbahagialah! Semoga amal dan ibadahmu diterima di sisi rektor, dosen, dan segenap staf lembaga. Amin.
Begitulah saudara-saudara. Memang, banyak hal yang mesti digali kembali mengingat banyaknya wisudawan yang masih berceceran di mana-mana. Jika dijelaskan, mungkin web tatkala.co ini tak cukup mampu menampung semuanya. Dalam kesederhaannya, semoga artikel ini dapat menyadarkan kita, bahwasanya PNS bukan satu-satunya bintang di langit. Masih banyak pekerjaan-pekerjaan, usaha-usaha, tempat-tempat, atau yah... paling sial, janda-janda muda yang bisa dikawini. Betul?
Ah, Semoga saja betul. Kalau tidak, mungkin belum benar saatnya kita untuk wisuda. Hemmm. (T)
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...