“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”
ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi dari Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kerobokan, Kuta Utara, yang menjadi duta Kabupaten Badung dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026.
Pementasan janger ini memang sudah ditunggu oleh para penikmat seni di PKB. Beberapa jam sebelum pementasan dimulai, Kalangan Ayodya telah penuh oleh penonton. Tentu motif mereka yang hadir beragam. Ada yang hadir karena koleganya ikut dalam pementasan. Ada yang hadir karena kebetulan berkunjung. Atau ada pula yang memang sengaja datang karena fanatiknya terhadap kesenian ini. Namun apapun itu, pementasan janger ini berhasil menarik antusiasme penonton dari berbagai motif ini.
Ketika janger dan kecak keluar, penonton bertepuk tangan. Perhatian awal tertuju pada kostum yang dirancang dengan sangat apik oleh penatanya. Dari sela-sela penonton, penulis mendengar beberapa komentar yang mengapresiasi kostum terutama pemilihan warnanya. Hijau yang dibuat sedikit kecoklatan yang berpadu dengan pantas dengan tata rias sehingga membuat penari terkesan anggun.
Pementasan kesenian janger tradisi dari Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kerobokan, Kuta Utara, di Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: Surya Jayadi
Pola pola geraknya juga ditata sedemikian rupa, terutama yang menarik adalah bagian gerak yang mencoba memberikan respon terhadap suara gamelan. Tentu hal ini bukan sesuatu baru, tetapi penempatannya tampaknya pas sehingga bagian ini berhasil menjadi fitur yang menarik perhatian penonton.
Ditambah lagi bagian gerak silat yang diperagakan oleh kecak, yang berhasil mengundang riuh tepuk tangan penonton. Gerakannya tidak dibuat akrobatik secara berlebihan. Penggarap nampaknya cerdas dalam mengatur posisi tata panggung penari dan menyesuaikan iringannya, sehingga bagian atraksi silat ini berhasil menjadi poin menarik.
Sekali lagi, elemen silat bukan sesuatu yang baru juga dalam kesenian janger. Janger merupakan kesenian yang sangat terbuka dengan elemen-elemen lainnya yang kemudian dipadupadankan dalam rangkaian gerak. Sifatnya yang moderat inilah barangkali juga yang membuat kesenian ini dipakai sebagai bagian dari proganda maupun sosialisasi.
Dimensi propaganda ini juga tetap dihadirkan dalam kesenian janger duta kabupaten Badung. Ini bukan untuk kepentingan apapun, namun propaganda ini tampaknya dilihat sebagai salah ciri khas dari janger, sehingga tetap dimunculkan. Pengukuhan nilai-nilai Pancasila menjadi proganda yang disampaikan dalam pementasan, dikemas dalam rangkaian gerak kecak yang merepresentasikan tiap-tiap sila.
Pementasan kesenian janger tradisi dari Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kerobokan, Kuta Utara, di Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: Surya Jayadi
Termasuk juga ajakan gotong royong untuk membersihkan lingkungan. Ini tentu adalah propaganda yang positif dan sangat kontekstual, relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Senyum sumringah janger, melantukan tembang ajakan bersih-bersih, dengan gerak pinggul yang gemulai, disambut gerakan kecak yang seperti gerakan mencangkul, harus diapresiasi sebagai bentuk penyajian yang berhasil memikat hati penonton.
Ada sebuah catatan yang perlu direnungkan dari pementasan janger duta kabupaten Badung ini.
Pertama, janger ini tentu tidak setenar dengan grup Janger Peliatan maupun Janger Kedaton. Hanya saja satu hal yang perlu dicatat, bahwa janger adalah bentuk kesenian klasik yang pernah menjadi trend dalam kancah kesenian Bali, terutama periode 60 hingga 80-an. Ketika itu grup-grup janger tumbuh dengan subur, di banjar-banjar. Termasuk di banjar Tegeh Kerobokan. Tampilnya janger ini tentunya memutar balik memori lama generasi 60 hingan 70an, khususnya Kerobokan, mengingatkan betapa dinamisnya kehidupan sosial budaya yang telah dilalui hingga kini.
Sebagimana diketahui Kerobokan adalah satu kawasan pariwisata dengan segenap tantangannya. Pentas janger ini menjadi salah satu bukti betapa masyarakat Kerobokan, dari segenap lintas generasi, tetap berupaya untuk menjaga kelestarian keseniannya. Ada rasa bangga tentunya dari rangkaian proses yang berhasil dilalui oleh segenap tim dan masyarakat pendukungnya.
Pementasan kesenian janger tradisi dari Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kerobokan, Kuta Utara, di Pesta Kesenian Bali 2026 | Foto: Surya Jayadi
Kedua, kesenian, termasuk janger, adalah pesan yang harus sampai di hati penonton yang beragam motifnya. Tidak semua penonton yang hadir, sengaja atau dalam istilah Balinya mabuaka untuk hadir. Bagaimana mengemas sebuah pertunjukkan yang bisa merangsuk ke sukma audiens yang beragam itu. Itulah tantangan besar para seniman Bali di masa kini, di tengah disrupsi hiburan era digital. Janger adalah kesenian rakyat yang harus senantiasa memperhatikan suara-suara rakyat. Dalam hal ini, tampaknya janger yang dipentaskan duta Kabupaten Badung, telah berhasil mengupayakannya. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...