Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, Marx dan Marcuse sedang duduk menikmatik kopi sambil mengamati kerumunan massa.
Marx membuka percakapan.
"Yang menarik dari demonstrasi ini bukan apa yang mereka katakan, melainkan apa yang tidak mereka katakan. Mereka mengkritik pemborosan APBN, harga pangan, harga BBM, dan berbagai kebijakan pemerintah. Namun tidak satu pun menyentuh persoalan yang lebih mendasar: kapitalisme. Mereka menganggap masalahnya adalah negara yang salah mengelola sistem, bukan sistem itu sendiri. Padahal selama produksi dan distribusi kekayaan tetap diatur oleh logika akumulasi modal, pemerintah mana pun pada akhirnya akan menghadapi kontradiksi yang sama."
Marcuse menggeleng.
"Menurutku kau terlalu keras. Tidak ada gerakan sosial yang lahir dengan kesadaran teoritis yang lengkap. Yang penting adalah mereka mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap normal. Ketika mahasiswa turun ke jalan karena merasa ada yang salah dengan arah pembangunan, dengan prioritas anggaran, atau dengan cara negara mendefinisikan kebutuhan rakyat, di situlah benih kesadaran kritis muncul."
"Tetapi kesadaran kritis tidak cukup," jawab Marx. "Mahasiswa dapat mengungkapkan kemarahan, tetapi mereka bukan kekuatan sosial yang mampu mengubah struktur masyarakat. Hari ini mereka berdemo, besok mereka kembali ke kampus. Beberapa tahun lagi banyak dari mereka akan menjadi birokrat, profesional, manajer, atau politisi yang menjalankan sistem yang sama. Aku tidak melihat dalam demonstrasi ini kekuatan yang dapat mengguncang fondasi kapitalisme."
Marcuse tersenyum tipis.
"Masalahnya, kau masih mencari subjek revolusi yang sama seperti abad ke-19. Kau berharap kelas pekerja akan menjadi aktor utama perubahan. Sementara kapitalisme modern justru berhasil mengintegrasikan sebagian besar pekerja ke dalam sistem melalui konsumsi, kredit, karier, dan rutinitas sehari-hari. Mereka terlalu sibuk bertahan hidup untuk memikirkan perubahan sosial. Dalam situasi seperti itu, mahasiswa justru memiliki kelebihan: mereka masih memiliki jarak dari sistem. Mereka masih mampu mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah."
Marx segera menyela.
"Jarak tidak sama dengan kekuatan. Kau mengira kritik dapat menggantikan posisi sosial. Padahal kekuasaan kapitalisme tidak berada di kampus, melainkan dalam kepemilikan modal, hubungan produksi, dan kontrol atas sumber daya ekonomi. Tanpa keterhubungan dengan petani, buruh, dan kelompok-kelompok yang mengalami eksploitasi secara langsung, demonstrasi mahasiswa hanya akan menjadi kritik moral terhadap kapitalisme."
Marcuse menatap kerumunan demonstran.
"Aku tidak pernah mengatakan mahasiswa dapat mengubah dunia sendirian. Tetapi setiap perubahan selalu dimulai dari kemampuan untuk menolak apa yang dianggap tak terhindarkan. Yang kulihat hari ini adalah sekelompok orang yang menolak menerima begitu saja klaim bahwa semua kebijakan pemerintah pasti rasional, bahwa semua proyek pasti demi kemajuan, atau bahwa semua pengorbanan rakyat pasti diperlukan. Bagiku, itu penting."
"Dan bagiku," jawab Marx, "itu baru permulaan yang sangat kecil. Kemarahan terhadap kebijakan tidak otomatis menjadi perlawanan terhadap sistem yang melahirkan kebijakan tersebut. Orang bisa menolak satu program pemerintah sambil tetap menerima logika kapitalisme yang mendasarinya."
Marcuse tertawa kecil.
"Mungkin. Tetapi aku lebih khawatir pada masyarakat yang berhenti marah daripada pada mahasiswa yang belum cukup radikal."
Marx terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Aku bisa menerima itu. Namun aku tetap berpendapat bahwa selama kemarahan tersebut tidak menemukan hubungan dengan kekuatan sosial yang lebih luas, ia hanya akan menjadi siklus yang terus berulang: demonstrasi, pernyataan pemerintah, lalu dilupakan."
"Dan aku tetap berpendapat," balas Marcuse, "bahwa tanpa mahasiswa dan kelompok-kelompok kritis yang terus mengganggu kenyamanan sistem, bahkan kemungkinan perubahan itu tidak akan pernah muncul."
Mereka kembali memandang kerumunan massa.
Untuk pertama kalinya keduanya sepakat: demonstrasi itu sendiri bukanlah masalah.
Perbedaannya terletak pada apa yang mereka lihat di baliknya.
Marx melihat keterbatasan sebuah gerakan yang belum menyentuh akar kapitalisme.
Marcuse melihat kemungkinan lahirnya kesadaran yang suatu hari dapat melampaui batas-batas kapitalisme itu sendiri. [T]
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...