Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan melemparkannya ke arah depan, seolah mengirimkan harapan ke masa yang akan datang. Tepuk tangan penonton pecah mengiringi momen itu. Sebagian tersenyum bangga, sebagian lain tak kuasa menahan haru. Di balik pesawat-pesawat kertas yang terbang bebas, tersimpan mimpi, doa, dan perpisahan yang menandai berakhirnya perjalanan enam tahun mereka di bangku sekolah dasar.
Hari itu, Selasa, 9 Juni 2026, perpisahan siswa kelas VI dan kenaikan kelas di SD Negeri 1 Ungasan tidak hanya diisi seremoni pelepasan. Sebanyak 28 siswa kelas VI B bersama enam guru ꟷ wali kelas 1-6 B dan Kepala Sekolah ꟷ menghadirkan sebuah drama musikal berjudul ‘The Adventure Seekers’, sebuah kisah tentang persahabatan, konflik, pertumbuhan, dan kenangan yang mereka bangun selama enam tahun bersekolah.
Di atas panggung, cerita bergerak dari keseharian anak-anak di ruang kelas. Ada sosok yang aktif dan berani mencoba apa saja. Ada anak yang pendiam dan menyimpan banyak cerita di balik sikapnya. Ada pula tokoh yang gemar mengganggu teman-temannya. Karakter-karakter itu bukan sekadar tokoh fiksi, melainkan cerminan dinamika yang kerap ditemukan dalam kehidupan sekolah.


Konflik mulai muncul ketika sebuah tindakan perundungan memicu ketegangan di antara mereka. Dari situlah cerita berkembang. Kekacauan yang terjadi justru menjadi titik balik yang membuat para tokoh menyadari arti kebersamaan. Perlahan mereka belajar memahami satu sama lain, hingga akhirnya mengenang kembali perjalanan panjang yang telah dilalui bersama sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Momen-momen itu terasa dekat dengan para pemainnya sendiri. Sebab cerita yang mereka bawakan bukan sesuatu yang jauh dari pengalaman sehari-hari. Ketika adegan demi adegan mengalir menuju penutup, emosi para pemain dan penonton seakan bertemu pada titik yang sama: kesadaran bahwa masa berseragam merah putih akan segera berakhir.

Di balik pementasan tersebut, terdapat sosok muda yang menjadi penggarap sekaligus konseptor, Putu Kevin Nugrahayasa Surya (18). Alumni SD Negeri 1 Ungasan yang baru saja menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Kuta Selatan itu akan melanjutkan studi ke Institut Seni Indonesia (ISI) Bali pada Jurusan Seni Pedalangan.
Kevin mengaku gagasan awal pertunjukan berasal darinya. Namun ia tidak ingin karya itu hanya dianggap sebagai hasil kerjanya seorang diri.
“Karya ini awalnya memang saya sendiri yang buat, tapi di sini saya ingin menumbuhkan rasa tanggung jawab di diri adik-adik kelas 6B di SD 1 Ungasan, sehingga saya katakan ini adalah karya bersama,” ujarnya.

Semangat kebersamaan itu menjadi landasan selama proses produksi. Meski waktu persiapan hanya sekitar tiga minggu efektif, seluruh proses latihan dilakukan dengan memanfaatkan waktu yang tersedia di sekolah. Bagi Kevin, tantangan terbesar bukanlah menyusun cerita atau mengatur adegan, melainkan memahami karakter setiap anak yang terlibat.
“Kesulitan dan tantangan dalam pembuatan karya ini yakni mengenali karakter dari setiap siswa, pendekatan yang ekstra, cara proses mengajar yang berbeda serta harus menarik agar adik-adik tidak merasa takut untuk belajar drama,” katanya.
Sebagai alumni yang telah menekuni dunia teater, Kevin mendapat kepercayaan untuk berbagi pengalaman dengan adik-adik kelasnya. Kesempatan itu dimanfaatkannya tidak hanya untuk menghasilkan sebuah pertunjukan, tetapi juga memberikan ruang belajar bagi para siswa.
Semangat itulah yang terasa sepanjang pementasan. Para siswa tidak sekadar menghafal dialog dan bergerak mengikuti arahan. Mereka tampak menikmati peran masing-masing. Tawa yang muncul di atas panggung terdengar alami, begitu pula kesedihan yang perlahan menguasai suasana menjelang akhir cerita.


Judul ‘The Adventure Seekers’ sendiri dipilih karena mewakili semangat masa kanak-kanak yang penuh rasa ingin tahu dan keberanian mencoba hal-hal baru. Seperti yang tergambar dalam sinopsis pertunjukan, masa kecil merupakan halaman penuh warna, tempat persahabatan tumbuh dari hal-hal sederhana: berbagi permen, bermain bersama, hingga saling menghibur saat menghadapi kekecewaan.
Hari-hari sekolah menjadi petualangan yang tak pernah membosankan. Di sanalah mimpi-mimpi mulai dirajut, keberanian dibentuk, dan karakter ditempa melalui berbagai pengalaman bersama teman sebaya. Nilai-nilai itu kemudian dirangkum dalam sosok-sosok yang disebut sebagai ‘The Adventure Seekers’ ꟷ anak-anak yang berani mencoba hal baru, tidak takut gagal, dan menjadikan setiap momen sebagai kisah yang penuh energi.
Pesan tersebut mencapai puncaknya pada adegan penutup. Setelah perjalanan cerita yang penuh dinamika, para siswa dan guru bersama-sama melemparkan pesawat-pesawat kertas ke arah depan panggung. Benda sederhana itu menjadi simbol yang paling kuat hari itu.


Menurut Kevin, pesawat kertas tersebut merupakan representasi impian anak-anak di masa depan. Aksi melemparkannya ke depan melambangkan langkah menuju cita-cita, sementara keterlibatan para guru mengandung makna doa dan dukungan yang terus menyertai mereka.
“Arti simbolis itu yakni harapan adik-adik ke depannya. Kenapa dilempar ke depan dan bersama guru, karena di sana guru sebagai orang tua yang mendoakan agar anak-anak sukses dan berhasil ke depannya,” pungkasnya.
Ketika pesawat-pesawat kertas melayang di udara, tepuk tangan penonton kembali bergema. Di atas panggung, anak-anak yang sebentar lagi meninggalkan bangku sekolah dasar berdiri bersama guru-guru mereka untuk terakhir kalinya sebagai satu angkatan.
Seperti pesawat kertas yang terbang meninggalkan tangan para pemiliknya, para siswa kelas VI SD Negeri 1 Ungasan pun bersiap menapaki perjalanan baru. Dan sebagaimana pesan yang dibawa ‘The Adventure Seekers’, setiap perjalanan besar selalu berawal dari keberanian untuk melangkah.
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...