Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
“Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya.
Di sampingnya, Made Jembar sedang mencabuti rumput liar yang tumbuh di pematang. Ia berhenti sejenak, menegakkan badan, lalu menjawab, “Doa, Yan.”
“Cuma doa?”
“Cuma doa.”
“Kalau begitu, petani cukup sembahyang saja. Tak perlu membajak sawah, tak perlu menanam padi, tak perlu menyemprot pestisida,” sahut Tulus, tersenyum tipis.
Jembar tertawa. “Kamu memang suka membelokkan omongan orang.”
Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Sama-sama lahir dari keluarga petani, tak pernah jauh dari lumpur sawah. Bedanya, Jembar dikenal rajin bersembahyang. Hampir setiap hari ada saja canang yang ia haturkan. Sementara Tulus lebih banyak percaya pada kerja keras.
“Menurutku, yang menentukan hidup manusia itu usaha,” kata Tulus.
“Cuma usaha?”
“Cuma usaha.”
“Berarti orang yang paling kuat dan paling pintar pasti selalu berhasil?” Tulus terdiam. Kini giliran Jembar yang tersenyum.
Pagi itu mereka melanjutkan pekerjaan sambil berdebat. Matahari mulai meninggi. Burung-burung pipit berterbangan mencari bulir padi yang tersisa.
“Kamu ingat Mangku Dana?” tanya Jembar.
“Yang punya toko bangunan itu?”
“Iya. Dulu waktu usahanya baru dimulai, dia selalu sembahyang minta kelancaran. Setelah tokonya besar, mobilnya bertambah, cabangnya banyak, dia mulai berkata bahwa semua itu hasil kerja kerasnya sendiri.”
“Lalu?” tanya Tulus.
“Tahun berikutnya usahanya merosot.”
Tulus mengangguk pelan. “Jadi menurutmu itu karena dia berhenti berdoa?”
“Bukan begitu. Menurutku dia mulai lupa bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dikendalikan manusia.”
Tulus kemudian menunjuk ke arah sawah.
“Lihat padi itu. Kalau aku tidak mengolah tanah, tidak menanam, tidak membersihkan hama, apakah doa saja bisa membuat padi tumbuh?”
“Jelas, tidak.”
“Nah.”
“Tapi kalau hujan tidak turun berbulan-bulan? Kalau banjir datang? Kalau hama menyerang tanaman?” cecar Jembar.
Tulus terdiam.
Jembar tertawa kecil. “Makanya aku bilang, usaha saja juga tidak cukup.”
Mereka lalu duduk di gubuk kecil di tepi sawah. Jembar membuka bekal singkong rebus yang dibawanya dari rumah. Separuh diberikan kepada Tulus.
Di desa mereka, banyak orang memiliki keyakinan yang berbeda-beda tentang keberhasilan. Ada yang percaya semuanya ditentukan kerja keras. Ada yang percaya semuanya ditentukan nasib. Ada pula yang menunggu keajaiban datang tanpa pernah bergerak.
“Anakku yang nomor dua itu lucu,” kata Tulus.
“Kenapa?”
“Menjelang ujian dia sembahyang lama sekali.”
“Itu bagus.”
“Tapi bukunya tidak pernah dibuka.”
Jembar terbahak-bahak.
“Kalau begitu dia sedang meminta hasil panen tanpa menanam benih.”
“Itulah yang kubilang.”
“Tapi ada juga kebalikannya.”
“Maksudmu?” tanya Jembar.
“Ada anak yang belajar siang malam. Merasa dirinya paling hebat. Merasa pasti berhasil. Tidak pernah bersyukur, tidak pernah rendah hati. Kalau gagal sekali saja, biasanya paling terpukul," ucap Tulus.
Mereka kemudian terdiam.
Di kejauhan terdengar suara mesin traktor. Kawanan bangau putih turun di petak sawah yang baru dibajak. Jembar memandang langit yang mulai cerah.
“Dulu ayahku sering bilang, doa tanpa usaha itu kosong dan usaha tanpa doa itu sombong.”
Tulus mengulang kalimat itu pelan-pelan. Ia lalu teringat banyak orang yang dikenalnya. Ada yang setiap hari memohon rezeki tetapi enggan bekerja. Ada yang bekerja mati-matian tetapi menganggap keberhasilannya murni hasil dirinya sendiri.
Padahal manusia hidup di antara dua hal itu: kemampuan dan keterbatasan. Kemampuan untuk berusaha. Keterbatasan untuk menentukan hasil.
Menjelang siang mereka kembali turun ke sawah. Lumpur menempel sampai ke betis. Matahari terasa makin panas.
“Ternyata kita ini mirip petani yang menanam padi ya,” kata Tulus.
“Memang petani.”
“Maksudku hidup manusia itu.”
Jembar tertawa.
“Kita memilih benih, mengolah tanah, memberi pupuk, menjaga tanaman. Itu usaha.”
“Dan panennya?” tanya Jembar.
“Kita harapkan yang terbaik sambil tetap menyadari tidak semua ada di tangan kita.”
Perdebatan mereka pun berakhir. Mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing. Tak ada yang menang, tak ada yang kalah. Di atas sawah yang menghampar luas, mereka sama-sama mengerti bahwa doa bukan pengganti usaha. Dan usaha bukan alasan untuk melupakan doa.
Karena sejatinya, manusia memang harus bekerja sekuat tenaga karena semua bergantung pada dirinya. Namun tetap berdoa dengan rendah hati karena semuanya bergantung pada Yang Maha Kuasa. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...