Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu, 6 Juni, diikuti oleh 11 peserta.
Secara umum semua peserta memiliki modal keaktoran yang bagus. Bahkan dalam hal penghayatan yang melibatkan suara, mimik, gestur dan adegan, beberapa peserta tampak sangat kuat dalam penjiwaan.
Hanya beberapa peserta saja yang sedikit kurang dalam penghayatan, jadi tampak masih seperti menghapal naskah di atas panggung. Ada juga salah satu peserta bermonolog dengan power vocal yang bukan untuk di panggung. Padahal harus diingat, monolog adalah seni panggung untuki ditonton, bukan seni menghapal untuk didengar saja.
Proverti dan musik seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membantu penjiwaan, mengiramakan akting dan alur untuk menghasilkan tontonan yang lebih baik. Sayangnya beberapa peserta tidak menggunakan properti yang memadai dan ilustrasi musik yang bisa mendukung pementasan.
Tanpa musik ilustrasi, beberapa peserta tak mampu membingkai pertunjukkannya agar berirama indah atau estetik, tapi terjebak pada teriakan-teriakan kemarahan atau sedi kesedihan yang tak elok didengar dan ditonton.
Menariknya ada seorang peserta yang walaupun dengan properti sederhana dan tanpa ilustrasi musik justru memukau karena memanfaatkan proverti, dan menggerakkannya sehingga menciptakan irama dalam adengan dan akting yang memikat.
Potensi keaktoran peserta secara keseluruhan tak bisa digarap dan dikembangkan secara maksimal, karena naskah yang disediakan tak banyak memberi ruang ekspresi bagi peserta. Sehingga kesalahan memilih naskah menjadi faktor penentu ketidakmaksimalan monolog.
Agar seni monolog benar-benar bisa berkembang maksimal, diharapkan panitia memberi peluang peserta mementaskan naskah monolog di luar yang disediakan panitia, sehingga bisa memperkaya dimensi harapan, sekaligus menciptakan ruang bagi terciptanya naskah monolog-monolog baru.[T]
Juara Lomba Monolog Peksimida Bali 2026
Juara 1: Gede Purba Wiangga, Politeknik Negeri Bali Juara 2: Reti Wijayanti, Undiksha Singaraja Juara 3: Putu Eka Amelia Susanti, Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional Juara Harapan 1 : I Wayan Angga Dewangga Laksana, Universitas Warmadewa Juara Harapan 2: Apriyanti Wello, ISI Bali Juara Harapan 3: Pande Komang Purnama Cahyani Putri, UHN I Gusti Bagus Sugriwa
Penulis: Mas Ruscitadewi, juri Lomba Monolog Peksimida Bali 2026 Editor: Adnyana Ole
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...