Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu dipadati penonton. Di tengah suasana hening, para penari memasuki arena dengan langkah perlahan. Gerak tubuh mereka mengalun lembut, nyaris tanpa hentakan, seolah mengikuti irama yang hanya dapat didengar oleh mereka sendiri. Sesekali tatapan para penari menerobos ke kejauhan, menghadirkan kesan seolah sedang berada di dimensi yang berbeda.
Suasana itu menjadi pintu masuk menuju ‘Madedari’, tari kreasi garapan Putu Ayu Kartika Dewi yang tampil dalam Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 30 Mei 2026 tersebut menghadirkan lima karya inovatif mahasiswa angkatan 2022 sebagai representasi capaian pembelajaran mereka di bidang seni pertunjukan.
Sebagaimana karya-karya lainnya, ‘Madedari’ tidak hanya menjadi bagian dari ujian akademik. Pertunjukan itu menjadi ruang bagi mahasiswa menunjukkan kemampuan mereka dalam mengolah gagasan, menerjemahkannya ke bentuk artistik, sekaligus mengelola sebuah produksi seni pertunjukan secara utuh. Di Program Studi Sendratasik UPMI Bali, tugas akhir memang dapat diwujudkan dalam bentuk proyek inovatif seni pertunjukan yang tetap dilengkapi laporan akademik sebagai bentuk pertanggungjawaban proses kreatif dan keilmuan.

Di antara lima karya yang dipentaskan malam itu, ‘Madedari’ hadir dengan nuansa berbeda. Karya ini terinspirasi dari tradisi sakral Dedari di Desa Duda Utara, Karangasem. Dari fenomena tersebut, Putu Ayu Kartika Dewi membangun sebuah karya yang menelusuri perjalanan batin manusia dalam ruang spiritual, ruang yang mempertemukan kesadaran manusia dengan kekuatan yang diyakini hadir di luar diri. Melalui gerak yang lembut dan ekspresif, ‘Madedari’ merefleksikan nilai kesucian, keseimbangan, dan spiritualitas yang hidup dalam masyarakat Bali.
Dalam sinopsis karya dijelaskan bahwa ‘Madedari’ menghadirkan perjalanan batin para penari dalam ruang sakral ketika tubuh dan rasa perlahan larut dalam keadaan ngelanting manah. Dari gerak yang lembut, dedari seolah hadir menuntun tubuh yang mengalun di antara batas sadar dan trance.
Gagasan itu tidak lahir secara instan. Kartika Dewi mengaku ketertarikannya terhadap tradisi Dedari berawal dari rasa ingin tahu. Namun semakin jauh ia menggali, semakin banyak hal yang ditemukan di balik tradisi tersebut.
“Awalnya saya hanya tahu sekilas. Namun semakin saya mencari tahu, ternyata sejarah, fungsi sosial, dan proses pelaksanaannya sangat menarik dan kompleks. Hal itu memicu rasa ingin tahu saya untuk membedahnya lebih lengkap, sekaligus membuktikan bahwa budaya lokal kita memiliki kualitas dan nilai seni yang tinggi, layak dijadikan karya dalam tugas akhir ini,” ujarnya.

“Saya ingin tradisi ini tetap dikenal dan dihargai, sekaligus berkontribusi menjaga warisan budaya daerah,” kata Kartika Dewi.
Keinginan itu kemudian diterjemahkan ke dalam koreografi yang menempatkan tubuh sebagai medium utama untuk menghadirkan suasana spiritual. Tidak ada upaya menghadirkan tradisi Dedari secara harfiah. Sebaliknya, Kartika Dewi memilih menangkap esensi dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Gerak-gerak lembut, tatapan yang terkadang kosong, perubahan dinamika tubuh perlahan, hingga komposisi kelompok yang terus berubah menjadi cara untuk menggambarkan perjalanan manusia ketika memasuki ruang antara kesadaran dan ketidaksadaran.
Dalam beberapa bagian, penonton seolah diajak menyaksikan tubuh yang masih sepenuhnya berada dalam kendali diri. Namun perlahan suasana berubah. Musik yang digarap oleh Dega Pande membangun atmosfer yang semakin dalam, sementara gerak para penari bergerak menuju ruang yang lebih intuitif dan spiritual. Di titik itulah batas antara dunia fisik dan dunia batin terasa semakin tipis.


Meski pertunjukan yang tampil malam itu terlihat mengalir dengan baik, proses penciptaannya ternyata tidak selalu berjalan mudah. Kartika Dewi mengakui bahwa perjalanan menyelesaikan tugas akhir menjadi salah satu tantangan terbesar selama masa kuliahnya.
Menurutnya, berbagai kendala muncul sejak tahap awal pengerjaan. Mulai dari kesulitan mengembangkan konsep, keterbatasan materi pendukung, perubahan arah karya akibat masukan pembimbing, hingga berbagai persoalan teknis dalam penyusunan laporan. Belum lagi tantangan mengatur waktu dan menjaga kondisi mental di tengah berbagai tuntutan akademik yang harus diselesaikan secara bersamaan.
Menjelang pementasan, tantangan lain kembali muncul. Persiapan yang terbatas, kemungkinan kendala teknis saat hari pelaksanaan, tekanan ketika harus tampil di hadapan penguji dan penonton, hingga kebutuhan menjaga kekompakan tim menjadi bagian dari proses yang harus dilalui.
“Dari kendala-kendala itulah kita jadi belajar banyak dan semakin bangga ketika akhirnya bisa menyelesaikannya,” ungkapnya.


Keberhasilan menghadirkan ‘Madedari’ di atas panggung juga tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Dalam karya ini, Kartika Dewi didukung oleh Ni Luh Putu Diah Prasetya Dewi, Ni Luh Made Della Anjelita Dewi, Ni Koming Tia Antari, Ni Putu Ayu Febrianti, Gede Narayana Parawangsa, dan I Made Pasek Pramana. Tata rias dipercayakan kepada Sekarutama Makeup, kostum didukung SPK Art Collection, serta tata cahaya ditangani Widia Widnyana. Dukungan juga datang dari keluarga besar dan teman-teman, Dakshata Production, Sintyadewi Makeup, Sanggar Santi Lestari, Starcamera, dan Widia Lighting.
Ketika pertunjukan berakhir dan tepuk tangan penonton memenuhi wantilan, rasa lega tampak menyelimuti Kartika Dewi. Berbulan-bulan berproses kreatif, latihan, revisi, dan berbagai tantangan akhirnya bermuara pada satu malam yang menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang tersebut.
“Rasanya seperti melepaskan beban berat yang sudah dipikul sekian lama. Ada rasa lega yang sangat dalam, bercampur dengan kebanggaan karena akhirnya berhasil menuntaskan tantangan terbesar selama masa kuliah,” pungkas Kartika Dewi.
Melalui ‘Madedari’, Putu Ayu Kartika Dewi tidak hanya menuntaskan tugas akhirnya sebagai mahasiswa. Ia juga menghadirkan tafsir artistik tentang kesucian yang hidup dalam tradisi. Di atas panggung Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan malam itu, tubuh-tubuh yang menari seolah menjadi jembatan antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat. Sebuah pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, masih ada ruang-ruang sunyi tempat manusia belajar memahami diri.
Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...